Kelompok Kesenian Batu Palano Saiyo, Berkesenian Dengan Segala Keterbatasan

- 4:34 pm
Meski serba terbatas, puluhan anak nagari di Batu Palano, Kanagarian Lubukbasung, Kabupaten Agam, tetap bersemangat melakoni aktifitas seni tradisi. Mulai dari batambua, barandai, sampai manari galombang mereka mainkan dengan penuh suka cita. Bahkan mereka acap kali diundang untuk tampil di berbagai sasaran di Kabupaten Agam hingga ke Kota Padang. Seperti apa cerita inspiratif yang datang dari pelosok nagari tersebut?
Aksi pencak silat Kelompok Kesenian Batu Palano Saiyo

Cuaca mendung pada Kamis (25/1) malam menyambut kedatangan lubas.web.id ketika menyambangi salah satu sasaran (baca:arena) kesenian anak nagari yang ada di Kabupaten Agam. Sasaran itu berada persis di pinggir pusat pemerintahan Kabupaten Agam, tepatnya di Jalan Cindua Mato Batu Palano Jorong II Balai Ahad Kecamatan Lubukbasung.

Di sasaran itu tampak sejumlah warga sedang mengerumuni sebuah lapangan yang hanya berukuran setengah lapangan futsal. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa terlihat khidmat menyaksikan beberapa anak tengah manari galombang. Sesekali terdengar suara kendaraan yang berlalu lalang di antara riuh rendah suara penonton, maklum sasarantersebut berada persis di bibir jalan.

Kerumunan warga tersebut merupakan wujud dari semangat berkesenian yang ada di salah satu nagari di Sumatera Barat, tepatnya di Batu Palano Kanagarian Lubukbasung. Hampir tiga tahun sudah warga setempat menggalakkan kesenian tradisi yang mereka beri nama Kelompok Kesenian Anak Nagari Batu Palano Saiyo.

“Meski tinggal di pelosok, kami juga ingin berkesenian layaknya di kota besar,” ujar niniak mamak, Maizul Amri St. Pamenan, ketika ditanyai mengenai kegiatan pada malam itu.

Saat ini di beberapa nagari di Lubukbasung memang tengah gencar-gencarnya menghidupkan kembali kesenian anak nagari. Setidaknya ada empat kelompok kesenian anak nagari yang saat ini tengah menggeliat, yakni Sanggar Seni Melati Nusa Dusun Labu Pacah, Sanggar Seni Bungo Tanjuang, Sanggar Seni Luak Kandih, dan Sanggar Seni Batu Palano Saiyo.

Untuk Sanggar Seni Batu Palano Saiyo sendiri telah berjalan dari 26 November 2015. Selain membangkitkan kembali seni anak nagari yang sempat hilang, sanggar seni ini juga berangkat dari tujuan mencegah generasi muda di kawasan itu agar tidak terjerumus pada pergaulan yang yang tidak sehat.

“Dengan adanya kegiatan berkesenian, dan belajar seni bela diri, diharapkan waktu luang dan energi generasi dapat dipergunakan untuk hal yang bermanfaat, sehingga mereka tidak lagi terpengaruh pergaulan yang bisa merusak masa depan. Kami takut melihat maraknya penyalahgunaan narkoba, dan minuman keras di kawasan ini. Dengan adanya sanggar ini, kami berharap generasi muda kami bisa terhindar dari bahaya narkoba, minuman keras, dan pergaulan yang merusak kepribadian orang Minang,” jelasnya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa gejala remaja tidak lagi begitu tertarik mengikuti atau menyaksikan kegiatan upacara adat dan kesenian Minangkabau tampak jelas, baik mereka yang tinggal di kampung maupun di kota-kota. Namun, kelompok seni anak nagari ini optimis bisa membangkitkan kembali semangat kesenian tradisi tersebut.

“Kawula muda lebih tertarik dengan kesenian yang datang dari Barat. Banyak yang menganggap kesenian anak nagari sudah usang atau kuno, sedangkan yang datang dari Barat adalah suatu hal yang modern. Mereka beranggapan bahwa kesenian dan upacara adat tidak saja kuno tetapi juga sering bertele-tele bahkan tidak praktis. Remaja sekarang lebih suka kepada hal-hal yang praktis, lebih dinamis dan bergejolak cendrung keras,” jelas pria berbadan gempal tersebut.

Diceritakannya lagi, saat ini di sanggar tersebut, anak-anak sanggar yang notabene pelajar Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, diberikan keterampilan silat, menari, memainkan tambua tansa. Dengan guru dan perkakas yang terbatas mereka terus mengeksplorasi seni tradisi Minangkabau yang bagi sebagian orang sudah mulai ditinggalkan. Saat ini sanggar tersebut memiliki 50 anggota. Mereka mengikuti latihan setiap Rabu malam, dan malam Minggu.

“Untuk peralatan sanggar belum bisa dikatakan memadai, artinya belum cukup untuk seluruh anggota. Kami hanya punya pakaian tambua tansa sebanyak 16 stel, tari piring 3 stel, silat 11 stel, tambua 7 buah, tansa 1 buah, dan talempong pacik 6 buah. Semua itu bantuan dari dana aspirasi salah satu anggota Dewan di Agam, serta bantuan dari Pemerintah Nagari Lubuk Basung,” jelasnyan.

Melihat semangat anak-anak dalam berkesenian, dia menitipkan harap supaya Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) beserta pihak terkait di kawasan tersebut dapat memerhatikan aktifitas mereka. Dikatakannya, masih mujur kelompok seni yang ia bidani masih ada perkakas dan pakaian seadanya, sebab di beberapa kelompok seni di kawasan tersebut ada yang sama sekali belum memiliki pakaian dan perkakas kesenian.

“Untuk tampil di pelosok nagari saja mereka mesti meminjam dahulu. Ini rasanya tidak fair. Mestinya KONI juga mesti melirik pesilat-pesilat muda yang ada di pelosok nagari. Pihak terkait mesti jemput bola jangan hanya menunggu anggaran dari Dewan Perwakilan” ujarnya sembari meregangkan senar tambua yang selalu kendor setiap kali dimainkan.

Meski terbilang serba terbatas dalam berkesenian, itu bukan dijadikan alasan untuk kelompok ini bermalas-malasan. Buktinya, setiap minggunya kelompok ini sering menyambangi sasaran-sasaran seni yang ada di kawasan itu untuk unjuk kebolehan, bahkan sampai ke Kota Padang.

“Kadang kami yang mengundang kelompok lain untuk unjuk kebolehan di sini. Begitulah usaha yang dapat kami lakukan agar semangat berkesenian anak nagari bisa tetap terjaga. Masalah dapat uang atau tidak, itu bukan soal, terpenting semangat mereka itu dulu yang mesti kita tangkap,” ungkapnya.

Begitulah potret kesenian anak nagari di Kanagarian Lubukbasung, Kabupaten Agam. Rutinitas berkesenian yang saat ini mereka lakoni menjadi media pembelajaran tersendiri, sekaligus menjadi sarana pelepas penat bagi warga kampung setempat. (*)