Generasi Lubas yang Baik Hatinya, Ini Dia Makna Bak Abu di Ateh Tunggua itu

- 7:23 am
Istilah "bak abu di ateh tunggua” ini, umum diketahui oleh setiap orang Minangkabau yang sudah dewasa, yang diibaratkan perlakuan yang dialami seorang suami di rumah istrinya yang lazim disebut rang sumando. Hal ini tidak berlaku bagi laki-laki Minang dalam posisi lain, seperti posisinya di rumah orang tuanya. Ia tidak akan pernah disebut sebagai seorang lelaki “bak abu di ateh tunggua".

Foto ilustrasi diambil dari saribundo.biz

Peran lelaki Minang sudah jelas yaitu sebagai seorang bapak– sebagai seorang mamak–dan sebagai urang sumando. Dalam kedudukan seperti ini, maka ia akan menjalankan perannya masing-masing–kapan saatnya ia sebagai seorang kepala keluarga, kapan saatnya sebagai pemimpin kaum dan kapan pula sebagai seorang tamu di keluarga besar isterinya. 

Jika seorang laki-laki bisa menempati posisi yang diamanahkan oleh agama–kemudian juga memenuhi tanggung jawab dalam adat, maka pastilah semua laki-laki itu tidak mengalami nasib seperti itu. Jadi sebenarnya, tidak bisa dikatakan bahwa semua laki-laki Minangkabau “bak abu di ateh tunggua”.

Sekarang apa yang dimaksud bak abu diateh tunggua itu? Mari kita pelajari istilah ini.

Abu adalah sisa pembakaran, yang lazimnya terdapat pada tungku jarangan. Zaman dahulu–tiap keluarga mengandalkan tungku untuk memasak masakan. Himpunan abu dan debu yang berasal dari suatu material yang berasal dari sisa pembakaran itu–karena tidak memiliki manfaat apa-apa lagi–maka ia akan dibuang karena sudah tak berguna. Bahkan abu dan debu itu bisa terbang sendiri bersama angin lalu.

Bagaimana peristiwa serupa ini menjadi ajaran klasik yang muncul dalam pituah Adat Minangkabau–yang dikaitkan dengan kehidupan laki-laki Minang?

Sebagaimana kita ketahui bahwa lahirnya sebuah petuah, dikarenakan adanya suatu masalah yang hendak diselesaikan. Bagaimana Ninik Mamak menyelesaikan suatu masalah, tentunya berdasarkan kriteria tertentu, yaitu:

Pertama, nilai manfaatnya.
Kedua, ukuran berat dan ringannya.
Ketiga, kemudahan dalam menyelesaikan masalah itu.

Dengan mengumpamakan bak abu itu, memang lebih tepat untuk menggambarkan situasi dan kondisi dalam penyelesaian suatu masalah

Pengertian manfaat tentunya terkait dengan kedudukan dan peran yang disandang seorang lelaki pada umumnya, terutama tentang rang sumando pada khususnya.

Saat ini yang sudah banyak perubahan, ketika munculnya para intelektual Minang yang sudah mendalami budaya luar. Kedudukan rang sumando di keluarga sudah tidak perlu diperbicangkan lagi. Pasangan keluarga Minangkabau saat ini–sudah berubah–karena kuatnya peranan para suami atau ayah di keluarga inti.

Dengan demikian, istilah bak abu di ateh tunggua ini–hanya kisah-kisah masa lalu yang cocok diperbicangkan oleh pihak yang masih menyandang adat sebagai prilaku dalam berkeluarga belaka.

Yang menjadi pertanyaan–apakah prilaku istilah bak abu di ateh tunggua itu masih ada pada saat ini di Ranah Minang?

Jika menilik pada sifat manusia–tidak saja di Minangkabau–pada etnis masyarakat lain pun, kita masih menemukan karakter-karakter buruk (suami) yang bertindak semaunya di dalam keluarganya.

Ketika karakter pria yang berprilaku buruk itu diangkat dalam adat Minang, maka kesannya akan menjadi lain. Karena secara fakta–di dalam sistem kekerabatan Minangkabau–perempuan Minangkabau mendapat kemuliaan menurut adatnya. Karena sistem matrilinial yang dianut oleh etnis ini–garis kekerabatan mereka mengambil garis keturunan ibunya.

Ketika kita menyadari bahwa dalam kehidupan ini, yang menjadi pedoman dalam beragama adalah Al Quran–dimana Kitab Allah yang diturunkan kepada umat nabi Muhammad, maka kita wajib mematuhinya. Sehingga ketika melaksanakan adat dan budaya Minang wajiblah berdasarkan ajaran agama Islam. Menurut ajaran adat bersendi syara’ syara’ bersendi kitabullah, garis keturunan (nasab) haruslah sesuai dengan syariah Islam. Bila penarikan garis keturunan berdasarkan garis ibu hanyalah untuk pengelompokkan – SUKU dan KAUM di Minangkabau. Pengelompokkan yang demikian tidak lebih dalam untuk kepentingan Sistem Persemendaan.

Ketika orang masih memperbicangkan bak abu di ateh tunggua terhadap lelaki yang diperlakukan semena-mena–meskipun istilah ini terlalu berlebihan jika dikatakan demikian–maka istilah ini masih menjadi bahan diskusi yang tak habis-habisnya.

Lebih dahulu kita pahami apa yang mempengaruhi sifat manusia pada umumnya, yang diwujudkan dalam sikap dan tingkah lakunya Perkembangan prilaku manusia pada umumnya, dibentuk semenjak ia lahir kemudian menjalani kehidupan, dalam pelbagai tahap yaitu menjadi kanak-kanak, remaja (usia akhil balig), dewasa dan orang tua.

Saat ia menjadi dewasa, ia mengalami perubahan–perubahan, yang disebabkan oleh lingkungan sosialnya.

Kedudukannya lelaki Minang sebagai rang sumando (menantu), maka budaya Minangkabau membedakan dalam 4 golongan, yaitu Rang Sumando Kacang Miang, Rang Sumando Lapiak Buruak, Rang Sumando Langau Hijau dan Rang Sumando Niniak Mamak.

Istilah ini diberikan kepada masing-masing sifat yang ada pada diri laki-laki ini. Keempat golongan itu yaitu

1. Rang Sumando Kacang Miang

Memiliki sifat yang suka iri hati dan dengki. Prilaku dan kebiasaannya suka menghasut dan menfitnah. Istilah sekarang popular dengan Provokator. Dikatakan “kacang minang“, karena sesuatu yang ditebarkannya membuat pihak lain mengalami gangguan. Ulah dan prilakunya ialah, bahwa dia tidak suka kalau ada orang lain melebihi kondisi rumah tangganya. Ia sering menciptakan persaingan antara para rang sumando dalam satu kaum itu. Yang sangat membahayakan tatkala sifatnya yang demikian itu menimbulkan keresahan di dalam kehidupan berkeluarga dan berkaum.

Pada masa dahulu, kehidupan pasangan rumah tangga demikian–jika terdapat di dalam Rumah Gadang akan menimbulkan suasana yang tidak mengenakkan dan tidak nyaman. Prilaku urang sumando yang demikian itu tidak memberi manfaat bagi keluarga besar isterinya. Tidak jarang anggota keluarga besar isteri akan berupaya menjauhi dirinya atau menjauhkannya dari keikutsertaan dalam perundingan, rapat keluarga. 

Tatkala pada suatu masa terjadi peristiwa yang menyebabkan urang sumando ini harus pergi meninggalkan rumah tangganya termasuk istri dan anak-anaknya, yang berakhir dengan perceraian, maka pihak penghulu atau kepala kaum istrinya–tidak ada yang ingin mendamaikan antara didirinya dengan istrinya. Bahkan yang lebih parah membiarkan saja kepergiannya itu. Kepergiannya pun dianggap ringan seperti ringannya abu diatas tunggul kayu.

2. Rang Sumando Lapiak Buruak

Sebutan buat seorang rang sumando yang pemalas, pengangguran. Meskipun badannya tegap–namun badannya tanpak lusuh seperti orang yang tua renta meskipun ia tidak berpenyakit. Kegiatan kesehariannya hanya di rumah isterinya–duduk bermenung–pasif dan tidak ada inisiatif. Tidak berupaya untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Ia benar-benar menganggap kedudukan dirinya sebagai tamu belaka. Ia tidak mau berkontribusi bagi kepentingan orang banyak.

Sebaliknya istrinya yang bekerja keras di luar rumah, entah bertani–bersawah atau berladang–bahkan berjualan ke luar rumah untuk berdagang. Pada masa sekarang ini, tidak jarang ada laki-laki serupa ini terlarut dengan karir isterinya, bahkan ia bangga dengan hidupnya yang tergantung dengan pendapatan isterinya.

Sebaliknya, jika ia diajak bekerja, tidak mampu menghasilkan penghasilan–karena ia tidak pernah bersungguh-sungguh. Bila diberi saran kebaikan–ia tidak bisa menerima saran itu. 

Akibat rang sumando golongan ini, dianggap tidak berguna bagi keluarga isterinya. Tidak masuk hitungan–karena sosoknya yang pasif itu dianggap sepi saja di keluarga besar isterinya

Karena itulah ia tidak diberi peran apa apa lagi, sehingga ia dibebaskan dari tanggung jawab dan diringankan oleh lingkungan keluarga istrinya. Lelaki serupa inilah yang nasibnya disebut “bak abu di ateh tunggua”. Kapan saja dia boleh terbang dan tidak akan dicari.

3. Rang Sumando Langau Hijau

Ini sebutan untuk rang sumando yang mata keranjang dan hidung belang. Istilah Minangnya “caluang".

Lelaki seperti ini memiliki kebiasaan suka merayu para gadis atau janda-janda. Membohongi para wanita yang dirayunya, meskipun dia sendiri sudah punya anak dan istri. Apabila berhasil dengan rayuannya–ia menikahi para gadis itu. Akibatnya ia memiliki isteri dan anak dimana-mana.

Banyak istilah lain yang mengarah terhadap lelaki serupa ini, bahwa ia memiliki kelemahan di bidang kesusilaan. Lelaki serupa ini ada, baik pada masa dahulu maupun masa sekarang, baik yang tinggal di kampung halaman atau di kota bahkan di rantau jauh sekalipun. Yang memprihatinkan–apabila ia suka mengunjungi tempat maksiat dan tidak pernah melaksanakan sholat.

Jika Penghulu atau Kepala Kaum mengetahui–urang sumando yang serupa ini di keluarga besarnya, maka Penghulu atau Kepala Kaum akan berusaha memisahkan lelaki ini dari isterinya, demi menjaga akhlak keluarga besarnya. Ketika lelaki Minang melakukan hal serupa ini di keluarga isterinya, maka segenap keluarga besar isterima mengharapkan ia terbang pergi. Ia pun akan akan menerima nasib “bak abu di ateh tunggua”.

4. Rang Sumando Niniak Mamak

Adalah laki-laki Minang yang punya wibawa dan disegani karena sifat-sifat dan prilakunya yang terpuji. Berkata selalu jujur dan perkataan yang dilontarkannya selalu benar. Berupaya dan berusaha untuk memenuhi nafkah anak-isterinya. Sikap dan keteladanannya selalu menjadi contoh, baik di keluarga–masyarakat. Di keluarga isterinya suaranya didengar. Ia dijadikan tempat bertanya dan menyelesaikan masalah. Urang sumando yang memiliki sifat seperti ini, ia akan dijadikan pemimpin dalam keluarga isterinya.

Jika masa dahulu kala, menggambarkan Rang Sumando Ninik Mamak ialah ketika ia rajin bersawah dan berladang. Selalu menghasilkan panen padi secara sempurna. Begitu pula dalam menjalani ibadahnya. Ia tidak pernah putus menjalani syariat Agama Islam. Hal ini dapat ditunjukkan kesehariannya. Ba’da sholat subuh–dengan bekal secangkir kopi rang sumando ini, sudah turun dari rumah memanggul pacul atau memanggul bajak sambil menarik kerbau, menuju sawah atau ladang garapannya. Barangkali tak salah bila kita saksikan suasana palam pedesaan yang menampilkan suasana para petani. Kira-kira jam 08.00 istri petani yang setia datang ke sawah manjujuang bakul nasi dan manjinjiang tabuang kawa, untuk suami yang menjadi kebangaannya ini.

Apabila digambarkan masa sekarang, ketokohannya ditampilkan, ketika sebagai urang sumando yang mampu beradaptasi dengan keluarga isterinya. Bahkan di keluarga isterinya, urang sumando ninik mamak ini di tempatkan sebagai pemimpin keluarga.

Buya Hamka dalam buku “Islam dan Adat Minangkabau, melalui tulisan esainya telah mengupas dan menggambarkan kebiasan buruk “laki-laki Minangkabau” ini. Diantaranya menyampaikan kebiasaan buruk lelaki minang yang memiliki isteri di setiap kampuang. Ada yang pergi hingga larut malam atau pulang hingga keesokan hari. Bahkan ada yang tiap hari berkumpul di rumah orang tuanya, namun tidak bertanggung jawab atas nafkah anak isterinya.

Dalam keadaan seperti ini, jelas ia bukan golongan rang sumando niniak mamak, sebagaimana yang diharapkan. melainkan ialah laki-laki yang akan menerima nasib bak abu di ateh tunggua.

Ditulis oleh Drs. Yulius, Datuak Malako Nan Putiah dikutip dari saribundo.biz