Buru Babi di Lubuk Basung, Antara Hobi dan Tradisi

- 9:10 am
Hal yang tidak bisa dimungkiri adalah bahwa sebagian besar masyarakat di Lubuk Basung bekerja sebagai petani. Konon pada masa lalu, ladang dan kebun masyarakat Lubuk Basung acap diganggu oleh babi alias kandiak. Sehingga masyarakat mencari cara untuk mengatasi permasalahan tersebut. Maka sejak saat itulah masyarakat Lubuk Basung mulai memburu (buru:usir) babi-babi yang mengganggu itu menggunakan taranak alias anjing.

Foto via Saribundo

Taranak yang digunakan bukan taranak sembarangan. Taranak ini memiliki kriteria tertentu dan mendapat perlakuan istimewa dari majikannya. Misalnya setiap pagi diberi telur ayam kampung yang dicampur dengan beberapa ramuan lainnya. Hal ini dipercaya dapat membuat taranak semakin kuat dan gesit saat dibawa berburu. 

Bahkan terkadang taranak-taranak tersebut dapat menangkap hingga puluhan ekor babi dalam satu kali pemburuan. Wow, keren.

Agaknya berburu babi telah mendarah daging dan mendatangkan suatu kebanggaan tersendiri bagi penggemarnya. Sebagaimana yang dibunyikan dalam pepatah adat, “Baburu babi suntiang niniak mamak, pamenan dek nan mudo dalam nagari”. 

Kata suntiang dalam pepatah tersebut menggambarkan sebuah mahkota, yang mana mahkota tersebut bermakna sebagai sebuah prestasi atau kebanggaan.

Sehingga seiring bergulirnya waktu, kegiatan berburu babi tidak lagi sekadar mengusir hama tetapi telah menjadi hobi dan ajang untuk berolahraga. Saat ini perburuan dilakukan pada akhir pekan, dan dimulai pada pagi hingga petang hari. Memburu babi biasanya tak hanya di sekitat daerah si pemburu saja melainkan juga sampai ke daerah lain.

Seperti halnya yang dilakukan Sutan Mudo, masyarakat Kanagarian Lubuk Basung, Kec Lubuk Basung, Kab Agam. Ia menyebutkan bahwa berburu babi tak hanya sekadar tradisi tapi lebih dari itu, berburu babi merupakan hobi, olahraga dan mencari kesenangan di sela penatnya bekerja.

“Pengorbanan untuk bisa pergi bukanlah sepele. Katakanlah itu seperti biaya yang dikeluarkan untuk perawatan taranak, ongkos ke daerah buru babi yang berada di nagari lain, serta konsumsi, namun itu bukanlah penghalang,” tukuknya.

Ada yang menjadi daya tarik dari kegiatan berburu babi ini. Dimana ada yang dikenal dengan istilah alek baburu babi atau baburu alek. Biasanya alek ini dilaksanakan tiga kali dalam setahun. Sebelum alek buru babi ini digelar maka terlebih dahulu diadakan musyawarah yang melibatkan niniak mamak dan beberapa pemuka adat lainnya yang dilengkapi dengan sajian sirih dan pinang.

Setelah musyawarah diselenggarkan, barulah alek bisa dilakukan. Selanjutnya pemburu akan dibagi beberapa kelompok, setiap kelompok akan menunjuk seorang dari mereka untuk menjadi penunjuk jalan ketika menembus hutan belukar.

Untuk diketahi para pemburu memiliki kode-kode tersendiri saat berburu. Jika teriakan pemburu lain terdengar, itu pertanda bahwa buruan yang dicari sudah terlihat, semakin besar suara pemburu maka babi yang terlihat memiliki ukuran yang besar pula.

Jika ada babi yang keluar, maka pemburu akan melepas taranak mereka untuk melumpuhkan buruan dan beramai-ramai mengeroyok buruannya, sedangkan si pemilik cukup melihat dari kejauhan. 

Ketika mentari senja datang saat itulah biasanya alek baburu babi ini berakhir dan pemburu akan pulang sembari menceritakan tentang kehebatan taranak masing-masing.

Dalam berburu babi banyak hal yang bisa dipetik para pemburu. Tidak hanya soal kesenangan dan memacu adrenalin semata, tetapi lebih dari itu. Ada nilai kerjasama, kebersamaan dan gotong royong di situ. 

“Pamburu itu rang nan badunsanak”.

Ungkapan tersebut menggambarkan bahwa para pemburu itu memiliki rasa persaudaraan yang dibangun dengan kuat antara para pemburu. Hal ini juga lah yang memcerminkan kearifan budaya Minangkabau yang memiliki nilai-nilai yang elok.

Enjoy in Lubas.