Kepada Sarjana Terbaik, Pulanglah Lubuk Basung Membutuhkanmu

- 8:39 am
Kenyataan yang terbentuk beberapa tahun terakhir; setelah lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana, banyak yang beranggapan bahwa merantau adalah sebaik-baiknya pilihan. Harapan supaya meraih karir dan kehidupan yang mapan di kota-kota besar membuat orang-orang mengabaikan kemungkinan-kemungkinan lain.


Foto via thejakartapost.com

Padahal, seorang yang telah meraih gelar sarjana tentu saja akan menjadi pribadi yang bisa memilih keputusan yang berbeda dari orang-orang pada umumnya –seperti pulang ke kampung halaman misalnya.

Saya paham benar ketika mendengar pernyataan ini, akan membuatmu mengerutkan dahi. Lalu bertanya-tanya, apa yang bisa kulakukan di kampung?

Mari kuberitahu sebuah rahasia padamu; bahwa mendapatkan gelar sarjana tidak otomatis membuat kamu mendapatkan pekerjaan. Tentu saja kamu harus berjuang untuk mendapatkannya.

Ketahuilah, bisikan dari senior dan teman seolah menjadi racun yang membuatmu lambat laun akan setuju bahwa merantau adalah pilihan tepat untuk mencari pekerjaan.

Kamu mungkin insaf benar bahwa banyaknya iming-iming dan bisikan mendapatkan kemapanan di tanah perantauan terkadang membuat kamu terbuai mengabaikan kemungkinan lain yang sebenarnya bisa dipertimbangkan.

Misalnya Lubuk Basung saat ini. Kampung kita ini masih perlu banyak ide kreatif dari sarjana seperti kamu. Ide untuk menata kampung agar terlihat menarik, ide mengelola tempat wisata agar lebih tertata dan menggoda, serta memperkenalkan kampung ini ke seluruh mancanegara dengan harapan wisatawan merasa tertarik untuk datang.

Ingin kukatakan padamu, bahwa sukses tidak melulu soal harta dan tahta, tapi tentang menebar cinta, bahagia dan berbagi ilmu untuk membantu sesama, serta membangun kampung halaman. 

Tahukah kamu? Masih banyak pemuda di kampung kita yang menganggur dan tidak memiliki pekerjaan. Tidak ada salahnya jika kamu mencoba untuk merangkul mereka untuk diajak bekerja bersama-sama.

Sebagai orang kampung, aku percaya tidak semua jalan kesuksesan orang itu sama, walaupun memang banyak orang sukses di kota-kota besar dan perantauan, kembali ke kampung halaman dan meniti kesuksesan disini bukanlah suatu kesalahan bukan?

Pernyataan ini barangkali sedikit kontroversial dan bisa membuat kalian mengrenyitkan dahi. Tapi semoga kalian selalu ingat bahwa kampung kita selalu menunggu kedatangan kalian, sarjana terbaik.

Sebab, tugu harimau kebanggaan kita sudah berlumut, dan puncaknya sudah ditumbuhi batang pakis. Miris. Pulanglah kalau kamu tidak percaya. Lihat saja sendiri.

Memang benar, tanah rantau telah menjadi satu-satunya tujuan. Itu tidak bisa dimungkiri. Sarjana yang memilih merantau rata-rata berhasil meraih sukses. Tapi, bagiku orang yang merantau adalah orang-orang yang kalah.

“Di kampung tidak ada apa-apa. Kalau mau sukses ya merantau saja.”

Kalimat itu mungkin sudah seringkali kamu dengar dan telah meracuni benakmu. Entah kalimat itu muncul dari orang tua, saudara yang lebih tua, atau teman seangkatan misalnya. 

Kebanyakan dari mereka menyarankan agar kamu lebih baik merantau saja setelah lulus dan jadi sarjana. Kampung tidak akan membuat kamu bahagia.

Tentu saja kampung halaman kita yang sempit ini tidak menawarkan apa-apa. Minimnya lapangan kerja dan upah rendah jadi alasan utama buat kamu meninggalkan kampung. Toh, kamu juga telah membuktikan sendiri kalau orang-orang yang meninggalkan tanah asal telah sukses di perantauan. Sehingga merantau ibarat “pintu” yang mengantarkan mereka pada kesuksesan.

Kamu insaf benar bahwa selain bayangan kesuksesan yang ditawarkan kota, tanah perantauan boleh dibilang sebagai tempat penempaan diri. 

Ya, pergi merantau berarti keluar dari zona nyaman tentu saja. Kamu akan menjalani kehidupan baru dengan lingkungan dan orang-orang yang baru pula. Itu baik dan tidak ada salahnya

Kamu yakin benar di tempat perantauan, kamu pastilah akan berusaha mati-matian untuk menyesuaikan diri. Mulai dari mengenali lingkungan tempat tinggal, berusaha menyesuaikan diri dengan rekan-rekan kerja, mengakrabi makanan yang mungkin rasanya berbeda dengan masakan kampung hingga belajar cara-cara berhemat di tanah perantauan. Itu pun baik juga.

Tanah perantauan membuatmu keluar dari zona nyaman. Menjauh dari bantuan keluarga dan segala yang sudah kamu punya di tempat asal.

Tentunya kamu juga paham, hidup di perantauan juga bukannya tanpa hambatan. Kamu juga sadar benar bahwa harapan-harapan di perantauan belum tentu bakal jadi kenyataan.

Berharap bakal mendapat pekerjaan yang mapan di perantauan barangkali alasan yang baik buat kamu meninggalkan kampung. Sayangnya, hal itu belum tentu jadi kenyataan karena banyaknya pesaing yang juga menginginkan hal yang sama denganmu. 

Satu yang pasti di perantauan, ketatnya persaingan untuk mendapat pekerjaan adalah yang tak mungkin kamu hindari. Selain biaya hidup yang tinggi, kehilangan waktu bersama orang-orang yang kamu cintai misalnya keluarga juga jadi resikonya.

Kampung kita memang jauh dari hingar-bingar kota. Tapi, sadarkah kamu? Kampung kita juga butuh perhatian dan belaian tangan lulusan terbaik seperti kamu.

Saat ini kamu mungkin tak seberapa perhatian dengan kondisi di kampung kita. Mari sini kuceritakan, bahwa ada sekolah-sekolah yang sebenarnya kekurangan tenaga pengajar, dan ada anak-anak yang tak mendapat pola belajar mengajar yang tepat denganya sehingga memilih berhenti sekolah.

Di kampung kecil kita ini ada pula sekelompok warga yang menganggur. Tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya karena di PHK dari kota. Sebagian dari mereka tak punya kemampuan untuk berwirausaha. 

Ada pula kelompok petani yang mungkin sering gagal panen karena minimnya pengetahuan. Atau ditipu para cukong. Padahal, dari sini biaya kuliah kita berasal.

Kondisi-kondisi itulah sebenarnya membutuhkan kamu mengambil peran. Sarjana pendidikan, pertanian, ekonomi, atau apapun jurusan yang kamu ambil pastilah bisa memberi kontribusi. Ilmu yang didapat di bangku kuliah sepatutnya bisa benar-benar berguna dalam kehidupan yang nyata ini.

Ada istilah asing yang masih kuingat sampai saat ini. 


“Education is the most powerful weapon which you can use to change the world” – Nelson Mandela


Pendidikan adalah senjata yang paling ampuh, yang dapat kamu gunakan untuk mengubah dunia termasuk mengubah kampung halamanmu menjadi lebih maju. 

Sebagai sarjana terbaik tentu kamu memiliki bekal pendidikan itu bukan? Tentu sayang sekali jika kepandaianmu tak bisa membawa manfaat bagi orang-orang di sekitarmu.

Jangan biarkan anak-anak muda terdidik seperti kamu menjadi terlunta-lunta di kota. Kamu harus percaya bahwa kampung halaman pastilah punya potensi menyejahterakan warganya selama kita tahu cara mengelolanya.

Tidak. Pulang kampung bukanlah sesuatu yang tabu. Anggapan itu jelas keliru. Justru kamu yang tetap tinggal dan membangun kampung adalah orang yang survive. Orang yang tidak hanya memikirkan diri sendiri.

Kita paham benar bahwa sarjana yang memilih pulang ke kampung halaman seringkali justru mendapat penilaian yang negatif. Dianggap tidak mampu berjuang, bahkan lebih parah lagi yaitu dianggap sudah gagal di tanah perantauan. 

Akibatnya, tak sedikit sarjana yang enggan pulang lantaran anggapan-anggapan miring tersebut.

Tapi bukankah anggapan semacam itu justru sebenarnya keliru? 

Sebenarnya tidak ada jaminan bahwa sarjana yang merantau itu bakal sukses dan yang memilih kembali ke kampung halaman itu berarti orang yang gagal. Menurutku justru sebaliknya.

Justru kamu yang berani pulang kampung adalah sarjana-sarjana terbaik. Kamu yang berani melawan anggapan umum bahwa kesuksesan hanya bisa didapat di perantauan. 

Kamu yang sebenarnya sudah berbesar hati lantaran tak mau memikirkan diri sendiri, tapi juga memikirkan tanah kelahiran yang kamu cintai. Selamat.

Tapi semua pilihan ada di tangan kamu sarjana terbaik. Memantapkan niat untuk merantau atau kembali ke kampung itu mutlak menjadi keputusanmu. Satu yang pasti, dimana pun kamu berada selalulah memberikan maanfaat untuk sekitar.

Menuju tanah rantau atau pulang ke kampung halaman, masing-masing punya kelebihan dan kekurangannya.

Sebagai seorang yang terdidik, tentu kamu berhak menentukan pilihanmu sendiri. Toh, memilih merantau juga bukan berarti kamu tidak bisa memberi kontribusi pada tanah kelahiranmu.

Aku paham benar, banyak cara yang bisa dilakukan untuk ikut serta memajukan kampung halaman kita tanpa harus menetap di kampung. 

Tapi jika pulang kampung adalah yang menjadi panggilan hatimu, kuharap kamu tak perlu ragu. Yakinlah bahwa kesuksesan itu akan datang selama kamu punya niat dan tekad untuk berbuat kebaikan.

Jadi, jangan bimbang menentukan masa depan. 

Setelah lulus dan mendapat gelar sarjana, mungkin keputusan terbaik adalah pulang ke kampung dan membuat perubahan.

***
Depitriadi
(Lahir dari rahim ibu yang bermukim di Batu Palano Jorong II Balai Ahad Lubuk Basung)

*jika kamu memiliki ide dan gagasan, silakan kirim ke lubas.web.id via email redaksi.esbece@gmail.com