Pulanglah ke Lubuk Basung, Ibu Merindukanmu Nak

- 1:28 pm
Anakku yang manis, ketika Ibu menulis surat ini, Ibu sengaja menuliskannya di meja belajarmu. Ibu tidak bisa tidur, malam terasa begitu dingin dari biasanya. Ibu harap kamu baik-baik saja di perantauan.


Foto via Republika

Sebelumnya, maafkan Ibu yang menyelinap masuk ke kamarmu. Biasanya Ibu hanya sekilas melihat isi kamarmu dari pintu, memastikan barang-barangmu masih tersusun rapi. Namun malam ini, ibu pelan-pelan menyalakan lampu dan melihat ruangan ini, kamarmu yang kesepian. 

Maafkan Ibu ya nak, jika ibu tertegun sejenak lalu merenung. Rasanya Ibu masih bisa merasakan kehadiranmu di kamar ini. Masih nampak jelas wajahmu mengerinyit ketika Ibu membangunkan tidur pulasmu. Adakah tidurmu pulas sekarang nak?

Maafkan Ibu ya nak, jika Ibu menengok meja belajarmu lalu menghampiri buku-buku yang tersimpan rapi, yang paling atas adalah buku semasa SMA.

Rasanya baru kemarin nak, saat Ibu membantumu memasangkan sampul pada buku sekolahmu. Iya nak Ibu ingat. Ketika itu dengan tegas kamu menolaknya. Aku bisa sendiri Bu, kelak aku juga akan sendiri kan, katamu meyakinkan Ibu.

Oiya, malam ini Ibu juga menemukan bukumu semasa SMP, dan SD yang Ibu pasangkan sampul berwarna hijau, lalu membungkusnya dengan plastik. Saat SD dan SMP kamu belum kuasa menolaknya bukan? Ibu tahu kamu tidak suka warna hijau, tapi tetap membawa buku-buku itu ke sekolah.

Maafkan Ibu ya nak, ketika kamu sudah SMA Ibu masih saja menganggapmu anak kecil, bahkan sampai saat ini Ibu masih seperti itu. Kamu masih anak kecil yang lucu di hadapan Ibu. Ya, rasanya waktu sangat cepat, terlalu cepat berlalu.

Nak, ketika menulis surat ini, Ibu terus saja memandangi tempat tidurmu, ada beberapa rahasia yang mungkin sampai saat ini kamu belum tahu. Sini mendekatlah, biar Ibu ceritakan.

Dulu ketika kamu masih kecil, diam-diam Ibu sering menyelinap ke sini. Lebih-lebih ketika Ibu merindukanmu.

Ibu hampir selalu menemukanmu tergeletak di sana, kemudian diam-diam menciumimu, dan membetulkan selimutmu yang sudah tidak sesuai pada tempatnya. Hari ini kamu tentu sudah tumbuh besar. Ibu harap kamu bisa merapikan selimutmu ya nak.

Ah, sial! Satu tetes air berhasil melarikan diri dari mata Ibu nak. Maaf ya nak, satu titik air itu telah membuat basah kertas yang kugunakan ini.

Ibu ingat benar ketika dahulu menjelang tidur, Ibu selalu berada di sampingmu seletih apapun Ibu. Ibu membacakanmu cerita, bahkan terkadang dengan manja kamu meminta Ibu untuk mengusap-usap kepalamu. Dan kamu selalu saja tertidur sebelum ceritanya usai Ibu baca.

Sungguh nak, Ibu tidak akan keberatan jika saat ini kamu meminta ibu mendongengkanmu dan mengusap kepalamu. Ibu masih ingin melakukannya lagi untukmu. 

Maaf nak, satu tetes air berhasil lagi kabur ketika Ibu mengingatnya lebih jauh lagi. Ibu tak mau membuat kertas ini semakin basah.

Dulu ketika pertama kali melihatmu setelah berjuang melahirkanmu. Kamu begitu memesona. Kamulah cinta di atas segala cinta. Kasih yang tak terbilang kasih.

Sungguh nak, Ibu ingin melihatmu seperti waktu kamu digendong Ayahmu, ingin terus melihatmu, meskipun saat itu Ibu kepayahan menahan sakit setelah melahirkan. Tak ada lelah yang bisa memisahkan kita nak.

Tahukah kamu nak? Saat Ibu terbangun dari tidur, Ibu selalu menanyakan keberadaanmu, dan dengan sigap Ayahmu langsung membawakanmu pada Ibu. 

Dari awal rindu Ibu sudah tercurah padamu, dan akan selalu milikmu.

Ketika kamu beranjak balita dan mulai mempunyai kamar sendiri, rindu Ibu masih milikmu nak. 

Hampir setiap tengah malam Ibu memeriksamu, memastikan nyenyak tidurmu. 

Kebiasaan itu terus berlanjut saat kamu mulai sekolah dan tiba-tiba saja kamu sudah SMA, hari ini kamu kuliah di kota lain, dan Ibu hanya bisa melihat kamarmu yang kosong beserta kenangan membesarkanmu.

Saat ini, Ibu tidak mengerti harus bagaimana. Apakah Ibu harus bahagia atau justru sedih, tapi yang jelas Ibu selalu merindukanmu. 

Hari ini Ibu mencoba menghubungimu dengan pesan singkat, namun nampaknya kamu sedang sibuk sehingga tidak bisa membalas pesanku.

Ada hal yang Ibu sedang hiraukan nak. Apakah kamu di sana juga merindukan Ibu? Itu saja. Jangan khawatir, Ibu tidak pernah memaksamu, bahkan surat ini tidak akan pernah Ibu kirimkan kepadamu.

Dari Ibu, yang selalu merindukanmu.