Untuk Warga Lubas di Rantau, Ini 6 Peribahasa yang Bisa Memberi Inspirasi

- 11:28 am
Masyarakat Minang banyak yang sukses di perantauan, meskipun tidak sedikit pula yang bernasib kurang mujur. Kaum perantau yang kurang beruntung biasanya tetap memiliki daya juang sehingga mereka enggan untuk pulang kembali ke kampung halaman.
Ilustrasi via Hipwee
Masyarakat minang perantauan kebanyakan menjadi pengusaha dan rata-rata dari berdagang. Coba saja jika kamu tidak percaya, pergilah ke pasar-pasar tradisional, pasar grosir, coba dengarkan apa bahasa yang digunakan para penjual di sana, pasti kamu akan mendengar bahasa Minangkabau.

Tentu saja tidak hanya di pasar-pasar, coba perhatikan di setiap provinsi di negara ini, pasti memiliki rumah makan padang mulai dari yang kecil hingga restoran padang elit, dan masih banyak lagi contohnya.

Sekadar info, budaya merantau merupakan kebiasaan yang hampir menjadi ‘kewajiban’ bagi pemuda di ranah minang. Apa rahasia sukses para perantau ini sehingga tahan banting? 


Berikut kami nukilkan enam ‘pribahasa’ rakyat atau jargon yang biasa menginspirasi jiwa perjuangan para perantau.

1. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah


Para perantau biasanya memang teguh kata-kata di atas, sehingga apa pun hasil yang didapat, mereka akan mengutamakan bersyukur, kemudian menjadi pantang menyerah karena Islam secara gamblang melarang umatnya untuk menyerah pada keadaan. Jiwa juang masyarakat Islam sudah diteguhkan Rasul ketika menyebarkan ajarannya, dan inilah yang diterapkan masyarakat minang sejak dulu.

2. Alam Takambang Jadi Guru


Tidak ada kecanggungan atau perasaan rendah diri dari para perantau untuk belajar dari siapa saja, apa saja dan dimana saja. Hal ini membuat pemikiran para perantau menjadi terbuka untuk semua kondisi sosial yang terjadi, sehingga memudahkan mereka menyerap ilmu baru yang tidak didapat di kampung.

3. Dima Bumi Dipijak di Sinan Langik Dijunjuang


Pribahasa ini membuat perantau bisa cepat bersosialisasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Masyarakat minang di rantau akan membiasakan diri dengan budaya setempat sehingga tidak menimbulkan gap kesukuan kedaerahan dengan masyarakat lokal tempatnya tinggal.

4. Baraja ka Nan Manang, Mancontoh Ka Nan Sudah


Masyarakat minang tipenya cepat belajar. Mereka akan suka rela belajar dari pengalaman kesuksesan seseorang dan tentunya juga belajar dari setiap kegagalan yang ditemui, sehingga tidak akan terjadi kesalahan dua kali.

5.Indak Ado Rotan Aka Pun Jadi, Indak Kayu Janjang Dikapiang


Pribahasa di atas merupakan pijakan semangat pantang menyerah. Semua akan dilakukan untuk sebuah perjuangan dalam berusaha, baik menuntut ilmu, berdagang, atau pekerjaan lainnya.
Pepatah di atas kurang lebih sama dengan nasehat orang tua “rezeki tidak hanya datang dari satu pintu tapi dari banyak pintu”.

6.Takuruang Nak di Lua, Tahimpik Nak di Ateh


Sifat ini membuat perantau berusaha meminimalisir segala kegagalan.

Coba diterapkan pepatah petitih di atas ke diri Anda, mungkin bisa membantu menjadikan  Anda sebagai seseorang yang memiliki daya tahan dan daya juang yang sangat tinggi.


Sumber : Saribundo