Menengok Beruk yang Pandai Memetik Kelapa di Lubuk Basung

- 6:55 am
Di Sumatra Barat kontribusi seekor beruk sangatlah besar. Barangkali dari ketenaran masakan rendang, ada jasa dan andil beruk di situ. Loh, kok seperti itu, memangnya beruk bisa masak rendang ya? Bukan rendangnya yang dimasak beruk, tapi salah satu bahan dasarnya adalah kelapa, nah di Sumatra Barat kelapa yang kualitasnya bagus dipetik oleh beruk.


Bukan sembarang beruk yang bisa memetik kelapa. Hanya beruk-beruk terlatih saja yang bisa mengemban tugas mulia tersebut. Dan tahukah kamu? Ternyata beruk juga perlu ”sekolah”. Bukan untuk belajar membaca atau menulis, melainkan belajar memetik buah kelapa. Nah, setelah beruk lulus, mereka akan dipekerjakan di kebun-kebun kelapa milik warga. Dengan begitu, beruk-beruk itu memiliki kontribusi dalam rantai bisnis kelapa.

Beruk (Macaca nemes trina) kecil berusia kurang setahun itu bukanlah 'siswa' yang manis. Ia terus meronta ketika dilatih memilin sebutir karambia atau kelapa yang digantung di dahan. Sang pelatih, Mawan (43), dengan sabar mengulangi perintahnya. Mulutnya mengeluarkan suara seperti yang dikeluarkan ”beruk didikannya”. Dengan cara itulah, ia berkomunikasi dengan beruk.

Setengah jam telah berlalu, akhirnya beruk kecil itu menjinak dan menghampiri kelapa yang digantung, lalu memilinnya dengan tangan dan kaki. Sejurus kemudian, kelapa itu jatuh ke tanah. Mawan tersenyum senang karena ”beruk didikannya” lulus pelatihan tingkat dasar sebagai beruk pemetik kelapa.

Di tahap selanjutnya, beruk dilatih untuk membedakan mana kelapa tua dan yang muda. Kelapa tua umumnya bertangkai rapuh dibandingkan kelapa muda. Setelah dilatih satu hingga dua bulan, beruk-beruk itu sudah bisa dipekerjakan di kebun-kebun kelapa. 

Harga jual beruk-beruk yang sudah terlatih itu pun naik berkali-kalilipat daripada harga beli pertama. 

”Kami beli kira-kira ratusan ribu lah seekor. Kalau sudah dilatih dan terampil, satu ekor beruk bisa seharga Rp 2 juta-Rp 4 juta,” ujar Mawan.

Mawan sejak remaja melatih beruk. Keahlian itu ia peroleh dari ayahnya, Aiah (60), yang juga pelatih beruk. Berkat keahliannya melatih beruk, nama mereka berdua cukup dikenal di Lubuk Basung. Sebut saja nama Aiah Baruak atau Mawan, orang menunjuk rumahnya yang disebut ”sekolah beruk”.

”Sekolah” itu sudah ada sejak bertahun-tahun yang lalu dan telah ”meluluskan” ratusan beruk yang piawai pemanjat kelapa. Beruk-beruk itu selanjutnya dipekerjakan para tukang ojek beruk yang bertebaran di Lubuk Basung, Padang Pariaman, Payakumbuh, dan kota-kota lain di Sumbar. Tukang ojek beruk setiap hari berboncengan dengan satu-dua ekor beruk ke desa-desa menawarkan jasa memetik kelapa.

Di antara tukang ojek beruk itu ada Man (31) yang beroperasi di Lubuk Basung dan sekitarnya. Ketika embun belum kering, Man telah mengomando seekor beruk betina miliknya. Hanya dengan menghela tali panjang yang mengikat leher beruk, beruk itu memanjat kelapa yang tinggi dan ramping hingga ke pucuknya. Sejurus kemudian, beruk itu telah memilin beberapa kelapa hingga terlepas dari tangkainya dan jatuh dengan suara berdentum-dentum.

Ketika kelapa tua di pohon itu habis, Man menunjuk ke pohon selanjutnya sambil berteriak, ”Pindah ke sebelah!” Beruk itu diam sebentar dan tiba-tiba, ciaaaat... beruk langsung melompat ke pohon kelapa sebelahnya yang berjarak 1,5 meter. Pagi itu, kata Man, beruk betinanya sudah memanjat 10 pohon kelapa dan merontokkan puluhan butir kelapa tua.

Dari pagi hingga sore, beruk betinanya bisa merontokkan 1.000 butir kelapa. Dari setiap butir kelapa yang dipanen, Mun mendapat upah Rp 150 dari pemilik kebun. ”Jadi, sehari saya mendapat Rp 150.000,” katanya.

Tidak jauh dari Man, Naro (33) mengomando dua beruk miliknya. Satu beruk betina, satu lagi beruk jantan. Beruk betina bekerja dengan cekatan, sedangkan beruk jantan lebih sering bermalas-malasan. Ketika Naro tidak memperhatikannya, beruk jantan itu diam saja. Itulah sebabnya, Naro sering naik darah dan mendampratnya. ”Hooooiii... jan bamanuang juo! Jangan bengong saja.”

Naro mengatakan, beruk jantan memang nakal, susah diatur, dan suka melawan. ”Seperti manusia jugalah,” katanya sambil tertawa.

Persoalan beruk betina hanya satu: mereka cemburuan. ”Seandainya tali yang mengikat dia dipegang orang lain, dia akan menyerangnya karena dianggap merebut saya, ha-ha-ha,” kata Naro.

Lantaran tidak banyak polah, beruk betina lebih disukai tukang ojek beruk. Usia produktifnya pun lebih panjang, yakni 10-15 tahun. Bandingkan dengan beruk jantan yang usia produktifnya 5-7 tahun saja. ”Kalau sudah pensiun, dia (beruk jantan) seperti orang berpangkat saja, tidak mau disuruh-suruh lagi,” kata Naro.

Biasanya, beruk yang telah pensiun tetap dipelihara dan diberi makan cukup hingga ajal menjemputnya. Beruk-beruk itu tidak akan disia-siakan di hari tuanya sebab semasa mudanya telah bekerja untuk manusia. ”Bahkan, kalau beruk yang berguna mati, kami buatkan upacara. Kami menurunkan baju dalam yang biasa kami pakai sebagai ganti kain kafannya. Dengan cara itu, kami menghormati jasa-jasanya.”

Begitulah, beruk menjadi ”mesin bernyawa” yang amat berguna dalam rantai bisnis kelapa. Itu sebabnya, sejumlah majikan beruk menunjukkan rasa hormat kepada beruk-beruknya. Tengoklah apa yang dilakukan Aiah ketika memberi makan tujuh beruknya. Ia membawakan nasi putih hangat dan menakarnya di mangkuk dari batok kelapa yang sudah dicuci bersih. Aiah menyerahkan batok kelapa berisi nasi sambil membungkuk dan beruk-beruknya berdiri menyambutnya dengan kedua tangan.

Menu makan siang itu adalah nasi dengan lauk daging kelapa. Aiah mengatakan, jika ia masak asam padeh (asam pedas) dan gulai, beruk-beruknya juga mendapat bagian. ”Pokoknya apa yang kami makan, itulah yang dimakan beruk-beruk.”

Rasa hormat, lanjut Naro, wajar ditunjukkan kepada beruk-beruk yang telah bekerja kepada manusia. ”Tanpa beruk, kami belum tentu bisa makan.”

Naro menceritakan, sebelum bekerja sebagai tukang ojek beruk, ia merantau selama 20 tahun di Slawi, Tegal, Jawa Tengah. Di kota itu ia menjadi juragan pakaian. Belakangan usaha itu bangkrut. ”Saya terpaksa pulang. Di kampung, saya bingung mau kerja apa. Akhirnya, tiga tahun lalu saya beranikan diri jadi tukang ojek beruk,” ujar Naro.

Di kawasan Lubuk Basung, profesi tukang ojek beruk menjadi pilihan laki-laki yang belum memiliki pekerjaan. Menurut Naro, ada seloroh, ”Kalau ada laki-laki nganggur, beri saja beruk. Ia akan giat bekerja.” (*)