Generasi Lubas, Ini Penjelasan Agamo Batilanjang, Adaik Basisampiang

- 6:54 am
Syarak batilanjang, adaik basisampiang atau dalam bahasa Indonesianya ‘Syarak (agama) telanjang, dan adat (memiliki) kain samping”. Pepatah Minang yang sudah sangat jarang dipakai dan diperdengarkan ini mungkin terdengar ambigu (bermakna ganda) dan susah dimaknai. Apalagi dengan kondisi anak kemenakan yang sekarang sudah mulai jarang duduk beradat  dengan mamak. Sehingga pengetahuan mereka tentang adat kian sedikit.
Foto via blogspot

Namun generasi Lubuk Basung jangan khawatir, satu atau dua kali seminggu lubas.web.id akan mengupas seluk-beluk adat yang musti kita ketahui. Kali ini, kita akan mengupas sekilas tentang agamo batilanjang, adaik basisampiang. Selamat membaca.

Agamo batilanjang artinya sebagai masyarakat Minang yang menganut adat basandi syarak, haruslah menjalankan ajaran agama dengan kaffah, mutlak, dan tidak bisa tidak. Semua ajaran dan perintah agama haruslah diajarkan secara tegas dan tidak samar-samar. Apa yang halal adalah halal dan apa yang haram adalah haram, tidak ada yang sifatnya tengah-tengah. Semua yang sifatnya ma’ruf  sudah menjadi kewajiban untuk dilaksanakan. Dan apa-apa yang mungkar  haruslah dihindari. Secara sederhana, maksudnya batilanjang (telanjang) adalah bahwa harus jelas terlihat batas terangnya. Antara hal yang Haq dan Bathil.

Lalu apa hubungannya dengan adaik basisampiang?

Mufakat tokoh agama dan adat di Bukit Marapalam melahirkan falsasah hidup utama masyarakat minang. Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Artinya adat Minang harusalah bersesuaian dengan agama Islam. Setiap ketentuan adat yang bertentangan dengan ajaran agama haruslah dihapuskan. Sedangkan adat dan kebiasaan asli Minang tetap dipertahankan selama tidak melanggar hukum agama. Sehingga adat dan syarak menjadi bagai aua jo tabiang, sanda manyanda kaduonyo (bagai aur dengan tebing, saling menopang).

Adaik Basisampiang tentu saja erat kaitannya dengan ajaran syarak. Definisi basisampiang sendiri maksudnya adalah bahwa ajaran adat Minang diajarkan melalui kiasan. Berbeda dengan ajaran agama yang sangat tegas hitam-putihnya, dan terkesan ‘blak-balakan’.

Ajaran agama disampaikan dengan dalil alquran dan sunnah, dan pemaknaan akan ayat adalah jelas dan bersifat universal untuk semua orang. Sedangkan adat diajarkan dengan banyak kata kiasan dan multitafsir. Misalnya saat seorang mamak berkata “Lah santiang bana anak bujang kini” . Kalimat tersebut bisa memiliki pemaknaan berbeda tergantung kondisi. Bisa saja itu berupa kalimat pujian bahwa anak bujang tersebut memang telah cukup pandai dan bijak (santiang). Atau bisa saja itu adalah sarkasme untuk menyindir anak bujang yang kelakuannya tidak beradat.

Simuncak mati tarambau

ka ladang mambao ladiang

luko lah paho kaduonyo

syarak jo adaik di minangkabau

saumpamo aua na jo tabiang

sanda manyanda kaduonyo

Itulah makna agamo batilanjang, adaik basisampiang yang harus diketahui generasi muda Lubuk Basung. Semoga dapat bermanfaat.