Warga Lubuk Basung Mesti Tahu Kato Nan Ampek

- 9:55 am
Tidak bisa dimungkuri lagi efek globalisasi telah berpengaruh kepada cara kita bergaul di kehidupan sehari-hari. Adat istiadat yang melekat lama kelamaan memudar sehingga mungkin akan sirna ditelan masa. Namun, kita tetap bisa melestarikan adat istiadat yang menjadi ciri khas daerah kita masing-masing.

Foto via Kompasiana

Dunsanak semua siapa yang tidak tahu dengan kato nan ampek. Kato nan ampek ini salah satu ciri khas cara berbahasa di ranah Minang.

Dalam adat istiadat kato nan ampek yaitu, kato mandaki sebuah ungkapan bagaimana berbicara serta bersikap kepada yang lebih tua dari kita seperti bagaimana cara kita berbicara kepada orang tua, kemanakan kepada mamak. Kato manurun ungkapan yang mengambarkan bagaimana kita bersikap dan dan berbicara dengan yang lebih muda dari kita, salah satu tindakannya kato manurun yaitu bagaimana menyayangi yang lebih kecil seperti orang tua kepada anak, kakak kepada adiknya. Kato mandata sering digunakan untuk berbicara dan berprilaku kepada yang sama besar dengan kita, misalnya teman sebaya. Terakhir, kato malereng ungkapan sikap dan prilaku kepada orang yang kita segani dan hormati antara mando jo sumando, ipa jo bisan.

Indak manahu di nan ampek. Biasanya itulah yang diucapkan oleh maman atau orang tua untuk orang yang tidak pandai sopan santun dalam berbicara. Ungkapan ini biasanya keluar dari mulut mamak karena kemenakannya sudah tidak bisa ditagah. Sehingga inilah puncak kekesalan mamak menasihati anak kemenakannya.

Kato nan ampek adalah adat berbicara di minang. Setiap orang dituntut paham perbedaan cara berbincang-bincang dengan orang berbeda. Indak ka pernah samo datanyo sawah jo pamatang. Maksudnya setiap orang punya tingkatan-tingkatan tertentu di masyarakat.

Kato Mandaki

Ini merupakan adat berbicara dengan orang yang lebih dituakan, misalnya dengan ayah, ibu, mamak dll. Berbicara dengan orang yang lebih tua haruslah dengan lemah lembut dan penuh sopan santun. Tidak boleh memotong pembicaraan, apalagi membantah. Selagi apa yang dikatakan adalah benar dan demi kebaikan, kita tidak boleh melawan perkataan orang yang lebih dituakan.

Untuk kata sapaan sendiri, juga dibedakan. Untuk panggilan terhadap diri sendiri biasanya menggunakan awak atau ambo.

Kato Manurun

Kato manurun digunakan saat berbicara dengan lawan bicara yang lebih kecil, misalnya dengan adik. Sebagai saudara yang lebih tua hendaklah berbicara dengan kasih sayang, mengajarkan dengan baik. Bukan malah membentak-bentak, atau menyuruh dengan kata-kata kasar. Biasakan menggunakan kata tolong dan terimakasih.

Untuk kata panggilan terhadap diri sendiri biasanya menggunakan kata uda , uwan, atau uni, dll.

“Diak, tolong balikan uda Rokok Timbakau ka lapau ciek lah”

Kato Mandata

Yang satu ini biasanya digunakan untuk berkelakar dengan teman seumuran. Biasanya kata-kata yang digunakan lebih bebas, dan kadang juga kasar. Apalagi dalam pertemanan anak laki-laki. Tapi justru dengan demikian maka hubungan pertemanan akan lebih akrab dan tidak kaku.

Aden, deyen biasa digunakan untuk panggilan terhadap diri sendiri, untuk panggilan orang lain biasa digunakan waang, awang, akau, mandan, andan, ndan dll.

“Kama tu ndan? Kamarilah bakoa lu salakon”

Kato Malereng

Jenis kato ka-ampek ini biasa digunakan untuk berbicara antara orang yang segan-menyegani. Misalnya antara mertua dan menantu, Sumando dan Pasumandan, ipa jo bisan. Biasanya pembicaraan menggunakan kata kiasan yang sifatnya tidak langsung.

Kok lai dapek di sutan mancari bareh sagantang sahari,

ambo ndak baa sajo anak ambo sutan pabini

Secara logika mungkin tidak masuk akal, bagaimana mungkin dengan sagantang beras bisa cukup untuk makan sekeluarga. Nasi tentulah harus ada lauk-pauk, sayur dll. Jadi maksud mertuanya tersebut adalah, orang tersebut haruslah memiliki mata pencaharian sehingga bisa memnuhi semua kebutuhan keluarganya, tidak hanya makan, tetapi juga nafkah yang lain.

Demikianlah indahnya budaya minang, penuh dengan berbagai nilai filosofi adat. Bahkan hal sekecil inipun ada aturannya. Selain haru tahu dengan kato nan ampek, orang minang juga harus tahu di nan ampek

Sumber 1
Sumber 2