Lubuk Basung di Batas Senja

- 8:10 am
Surau kecil itu masih berdiri di sana. Tapi halaman luas yang sering kita gunakan untuk bermain sudah berganti menjadi jalan beraspal. Masih kuingat, tas yang sering kau tenteng untuk membawa buku itu. Hijau seperti lumut tua yang berada di atas batu-batu.

Ilustrasi via blogTuban

Berdekade waktu, aku masih duduk di sini. Menulis serpihan kisah di batas senja. Seperti yang sering kau temui ketika pergi ke surau. Hanya saja, kini Pohon Seri itu tidak lagi berdiri di hadapanku dan ayunan tidak lagi menggantung berayun.

Dari balik jendela aku masih mengintip kepulanganmu. Banyak yang inginku ceritakan dari tanah Lubuk Basung kepada mu. Tentang mimpi yang kita tulis di pasir halaman surau setiap akan mengaji. Mimpi kita untuk membuat perpustakaan di samping surau sehingga kita dan anak-anak lainnya tidak perlu lagi menyewa buku dan puas membaca.

Masihkah kau ingat langkah kecil kita menyewa buku cerita dan komik di Ujuang Labuah ketika pulang sekolah? Dengan harga 50 sampai 100 rupiah kita bisa menyewa buku untuk 2 sampai 3 hari. Ketika itu kau dan aku berupaya menghabiskan membaca 3 buku dalam sehari agar bisa meminjamkannya pada teman-teman di surau. Dan kau berandai, jika ketika itu kita dan teman-teman bisa membaca buku apapun tanpa harus menyewa tentu rasanya lebih membahagiakan. Namun kita tetap saja tidak pernah berhenti menyewa buku dan berbagi dengan teman-teman di surau.

Kini, sudah banyak yang berubah. Surau dengan anak mengajinya tidak lagi seramai ketika zaman kita dulu. Di waktu senggang, anak-anak lebih sering berdiam diri di rumah dan memilih bermain dengan gadget. Aku tidak tahu, apakah mereka masih mengenal permainan yang sering kita sebut Cakbua, Paktekong, Tunggak, Kajai, Kayang, Lopi, Yak onsen, dan Yak oma. Meski begitu ada yang belum berubah, yaitu mimpi kita. Mungkin lebih tepatnya saat ini adalah mimpiku karena nampaknya kau tidak pernah kembali ke tanah Lubuk Basung.

Tahukah kau, saat ini sudah ada perpustakaan daerah dekat kantor bupati Kabupaten Agam. Tidak jauh dari rumahku dan tentunya juga tidak terlalu jauh dari surau tempat kita mengaji dulu. Setidaknya ini membuatku tidak terlalu kesulitan dalam berjuang sendiri bukan? Namun buku-buku di sini masih sedikit, ruangannya tidak terlalu luas dan jarang penambahan buku-buku baru yang dipajang di rak-rak buku. Sesekali datanglah kesini.

Hampir setiap hari aku pergi ke perpustakaan dengan membawa anak-anak. Di sana aku tidak hanya membaca tapi juga menulis. Menjadikannya lembaran-lembaran kertas untuk mengisi cerita anak-anak di siang hari atau sebagai pengantar tidur malamnya. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Mengenai perpustakaan untuk anak-anak mengaji yang buka pada malam hari masih menjadi sebagian mimpiku yang belum terwujud.

Seperti biasanya, hari ini aku datang lagi ke perpustakaan daerah. Aku memilih tempat duduk di ujung, di dekat jendela yang menghadap ke Pohon Mahoni. Dari atas aku bisa melihat kendaraan keluar masuk gedung perpustakaan. Ketika itu, tidak seperti biasanya sebuah mobil berhenti dan menurunkan beberapa kardus besar. Salah seorang berkata bahwa ada donasi buku baru. Aku tersenyum bahagia mendengarnya dan tepat ketika itu seorang pemuda keluar dari mobil. Dia kemudian bersalaman dengan pegawai perpustakaan. Dari cara pegawai mengucapkan terimakasih, nampaknya pemuda itu yang mendonasikan buku-buku.

Di batas senja hari itu, aku kembali duduk di dekat jendela rumah yang menghadap ke surau. Kini aku tidak bisa melihat surau begitu jelas karena sudah ada bangunan kosong yang menghalanginya. Aku menyelesaikan tulisanku di senja itu dan memandang nanar ke arah surau.

Sebuah mobil dan pemuda yang sama kulihat di perpustakaan daerah berhenti tepat di depan bangunan kosong dekat surau. Dia bersama seseorang menurunkan beberapa kardus dari dalam mobil. Aku begitu penasaran dengan apa yang dilakukannya sehingga mataku tidak pernah berhenti memperhatikannya. Setelah selesai menurunkan kardus dari dalam mobil, pemuda tadi berjalan ke arah rumahku, meninggalkan seseorang yang bersamanya tadi di bangunan itu. Langkahnya semakin dekat, aku memilih keluar kamar dan membuka pintu depan, tepat saat itu dia sudah berada di hadapanku sambil mengembangkan senyuman.

“Sudah belasan tahun, masih aja suka duduk dekat jendela, uughh,”sindirnya dengan tertawa kecil.

“Oiya, perpustakaan kecil kita akan segera beroperasi,” katanya lagi.

Aku begitu kaget dan tertegun mendengar perkataannya. Pikiranku mencoba mengingat wajah seseorang. Lalu aku menyimpulkan bahwa dia tidak pernah benar-benar meninggalkan Lubuk Basung dan mimpinya.[]

Ditulis oleh Yulia Fitri

Bagi kamu yang memiliki cerita yang sama, ide, gagasan, opini, acara yang ingin dipublikasikan. Silakan kirim ke redaksi.esbece@gmail.com. Salam.