Malangge Duyan Lareh di Lubuk Basung, Raja Buah Dengan Sejuta Cerita

- 8:29 am
Buah yang satu ini adalah buah yang dinanti sekaligus dibenci oleh sebagian orang. Buah ini memiliki cukup banyak penggemar, tapi tidak sedikit pula orang yang kurang menyukainya karena aroma yang sangat menyengat. Bahkan buah yang sering dijadikan campuran minuman segar ini masuk ke dalam daftar makanan yang dilarang untuk dibawa menggunakan pesawat karena aromanya yang dapat mengganggu penumpang lain. Nah, di Lubuk Basung bila musimnya tiba, buah yang kerap disapa duyan ini memberikan kesenangan tersendiri buat penggemarnya. Mulai dari berebutan buah yang lareh sampai kepada aktifitas begadang semalam suntuk. Penasaran dengan ceritanya?

Foto via Mongabay

Adalah durian, buah yang dengan nama latin durio zibethinus merupakan salah satu komoditi buah-buahan yang tersohor karena kelezatan dan rasanya yang nikmat. Bila dimakan dengan lamang atau nasi lamak yang terbuat dari beras ketan, akan terasa punya nilai cita rasa tersendiri. 
      
Buah durian kaya akan antioksidan, bahkan hasil penelitian yang dilakukan oleh The Swiss Society of Food Science and Technology, menyatakan bahwa kandungan pada buah durian yang telah matang lebih tinggi jika dibandingkan dengan buah salak, manggis, dan mangga.

Tingginya antioksidan pada buah durian yang konon punya banyak khasiat untuk kesehatan, membuat buah yang dilapisi duri tajam ini menjadi incaran bagi masyarakat Lubuk Basung umumnya. Lebih-lebih bagi masyarakat di dataran tinggi yang berhawa sejuk, pasti akan sangat ketagihan dengan raja buah ini.

Hebatnya lagi, ternyata kandungan karbohidrat yang lumayan tinggi pada buah durian dapat membantu orang yang kekurangan energi. Sementara itu kandungan potassium pada buah durian juga dapat mengurangi kelelahan dan menguatkan mental orang yang menikmatinya.

Dengan ragam kandungan yang mengendap pada buah durian, membuat kita sering lupa waktu untuk bisa memperoleh buah yang terkenal dengan mitos pembangkit libido seks ini. Seperti yang dilakukan oleh masyarakat di Lubuk Basung. Untuk mendapatkan buah yang satu ini, tak jarang membuat beberapa orang kucingan-kucingan dengan si empunya pokok durian. Ada pula yang batanggang semalaman menantikan buah ini laras dari tampuknya. 
Meski di balai buah ini mudah dijumpai.

Perjuangan mendapatkan buah durian ini bukan main-main. Bila malam hari, para pencari durian musti memakai atribut ronda seperti sarung, senter, suluah (terbuat dari bambu diisi minyak tanah pakai sumbu kain atau sabut kelapa), dan lampu petromak. Paling penting adalah kopi dan rokok.

Di Lubuk Basung kita akan menjumpai lalu lalang teman sejawat, handai taulan dan tetangga kampung melakukan aktifitas malangge (berkeliaran di rumpun durian) demi mendapatkan buahnya.

Agus pemilik kebun durian mengaku kalau pada musim durian, seringkali kedatangan tamu tak diundang datang bertandang ke parak durian milik keluarganya yang terletak di Silayang Ampu, jorong 6 Parit Panjang, Nagari Lubuk Basung.

Dengan kedatangan tamu ke parak durian, Agus tidak merasa risih dengan tetamu yang sudah mengenal letak dimana buah durian yang lebat buahnya. Konon hal tersebut menjadi ajang silahturami tanpa sengaja di tengah hutan produktif dengan rasa persaudaraan yang tak ternilai.

"Kita merasa senang dengan datangnya kawan-kawan ke parak durian, banyak canda tawa dan cerita masa lalu jadi penghibur di penantian jatuhnya buah durian," ujar Agus.

Lain lagi dengan parak milik Dedi di Kabun Jorong II Balai Ahad, "kami merasa senang dengan lebatnya buah durian pada musim durian, parak kami jadi bersih dari tingginya samak (rumput liar) yang jarang disiangi. Karena ramainya orang berlalu lalang untuk bisa mendapatkan buah durian, parak kami jadi bersih," terang Dedi.

Banyak orang banyak ragamnya, demikian mamang yang tepat disematkan buat mereka pencari durian. Banyak aktifitas yang bisa dilakukan di malam pakak sembari menanti dentuman buah durian. 

Syahrial Tanjung beserta rekan dalam penentian jatuhnya buah durian/Abrar Lukman

Syahrial Tanjung (45) mengaku senang dengan datangnya musim durian. Pasalnya dengan hadirnya musim durian, dia dan handai taulan menjadikan aktifitas menunggu durian di malam hari dengan ajang bertukar pikiran bersama rekan sejawat, yang juga ikut meramaikan pondok durian Subarang Rajang Jorong Siguhung.

"Dengan musim buah durian kami dapat berdiskusi tentang Tambo adat Minangkabau dan baraja manyambah bagi yang mau, mari kita babaliak ka nagari dengan maulang kaji lamo," ujarnya.

Dengan musim durian, kita bisa menikmati keindahan malam di dalam hutan, dengan aneka pernak-pernik penerangan yang menerangi malam, kita dimanjakan dengan suara dentuman buah yang jatuh dari pohon dan bau aroma  khas, akan menambah gairah kita untuk mencicipi buah nan penuh duri, namun buah durian tidak mengandung bahan yang termasuk ke dalam golongan aprodisiak, pembangkit gairah seks yang digadang-gadangkan itu.

***
Ditulis oleh Abrar Lukman

Bagi kamu yang memiliki cerita yang sama, ide, gagasan, opini, acara yang ingin dipublikasikan. Silakan kirim ke redaksi.esbece@gmail.com. Salam.