Nanda Si Jester Boys, Skater Terpendam Milik Lubuk Basung

- 11:24 am
Skateboard merupakan salah satu olahraga yang tergolong ekstrim, dimana dapat memacu melonjaknya adrenalin. Pasalnya olahraga satu ini memadukan antara kepiawaian mengendalikan papan seluncur yang diberi roda dengan kelihaian gerak kaki yang mampu membuat tubuh terbang di udara. Panggilan akrab untuk mereka yang memainkan olahraga ini adalah skater. Saat ini skateboard sangat digemari oleh kaum muda di Indonesia, termasuk pria asal Lubuk Basung berikut ini. Siapa dia? Yuk kenalan.


Nanda si Jester Boys/Instagram Jester_boys

Sebelum berkenalan dengan skater terpendam milik Lubuk Basung berikut, ada baiknya kamu kenali dulu sejarah olahraga yang lahir di negeri Paman Syam ini. Pada pertengahan tahun 1950 seiring perkembangan surfing di daerah California, Amerika Serikat, skateboard juga ditemukan. Diciptakan oleh Frank Nasworthy, waktu itu papan skate-nya hanya terbuat dari kayu dan diberi ban roller. Pada saat itu orang masih belum mengenal yang namanya skateboard tetapi sidewalk surfingFrank Nasworthy inilah yang mengawali permainan skateboard, dia sebenarnya mencari alternatif lain bermain surfing saat air laut tidak berombak. Pada saat itulah permainan skateboard pun dimainkan.

Sementara itu skateboard di tanah air masuk pada tahun 1980an. Para pemain skateboard di Indonesia mendapat informasi seputar skate dari video dan majalah skateboard luar negeri. Akibat perkembangan skateboard yang mulai disukai oleh anak muda waktu itu, akhirnya Mr. Craig selaku pemilik City Surf membuat iven kejuaraan skateboard pada tahun 1998 di Jakarta. Setelah iven itu berhasil menarik perhatian semua orang, saat itulah iven-iven kejuaraan skateboard mulai banyak dibuat di Indonesia.

Alhasil skateboard Indonesia semakin berkembang hingga saat ini, komunitas skateboard di berbagai kota besar di Indonesia pun mulai bermunculan dan mampu menghadirkan skater-skaters handal. Salah satunya skater asal Lubuk Basung yang akan kita bicarakan ini, Nanda Si Jester Boys.

Pada sore hari yang cerah, Jumat (5/1) disela aktifitas olahraga yang dilakukan warga Lubuk Basung di Kompleks Gor Rang Agam, tampak pemandangan yang begitu mencolok. Tidak lain, pemandangan itu adalah sekumpulan anak muda yang tampak asik berjingkrak dengan papan seluncur beroda. Tanpa pikir panjang, tim lubas.web.id  mendekati mereka guna mencari tahu aktifitas yang mereka lakukan.

"Memangnya ada ya komunitas skate di Lubuk Basung," tim lubas.web.id membuka perbincangan.

"Antara ada dan tiada bang," jawab salah seorang pemain skate.

Dia adalah Nanda si Jester Boys, pria asal Banda Baru, Lubuk Basung. Kepada tim lubas.web.id dia bercerita banyak ihwal pengalamannya selama skating di Lubuk Basung.

Nanda, begitu dia akrab disapa mengaku telah bermain skate lebih dari empat tahun. Pria yang  mengidolakan Nyjah Huston ini menyukai dunia skate karena skateboard adalah bagian dari hidupnya. Dikatakannya, saudara perempuannya juga memiliki hobi yang sama. Wow, keren gak tu, perempuan nge-skating kapan-kapan kita kulik juga si doi, siapa tahu dia adalah Evelien Bouilliart-nya Lubuk Basung. Amin.

Kembali ke Jester Boys. Pria yang baru dua tahun lulus SMA itu mengaku tidak banyak peminat skate di Lubuk Basung. Kepalang mujur yang bertahan skating di skate park GOR Rang Agam itu hanya empat sampai lima orang. Sepuluh orang itu sudah paling banyak.

"Dulunya sih banyak yang main. Tapi yang bertahan hanya beberapa orang. Bisa jadi saya salah satu orang yang bertahan di Lubuk Basung," ujarnya sambil tertawa kecil.

Dikatakannya lagi, banyak alasan skaters Lubuk Basung bertumbangan, pertama banyak yang pergi ke luar daerah, baik itu melanjutkan pendidikan atau pun bekerja. Kemudian skate park yang minim juga menjadi alasan orang tak banyak menyukai olahraga yang identik dengan penampilan keren itu.

"Arenanya di sini cuma satu. Akibatnya skill kita juga di situ-situ juga, tidak berkembang," tukuknya.

Sementara itu, arena bermain skate hanya satu. Itu pun karena ada anak pihak terkait yang juga hobi main skate. Kalau untuk rel dibikin sendiri oleh Nanda dan beberapa orang teman.


Aksi Nanda di Atas Rel/lubas.web.id

Berbicara skill Nanda dan kawan-kawan tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka sudah fasih mengendalikan papan skate, melakukan aksi grinding atau pun ollie di atas rel bukan perkara sulit bagi mereka. Tapi lagi-lagi yang disayangkan, arena mereka bermain sangat terbatas, terkadang mereka harus berbagi arena dengan ibu-ibu yang mengintang anak-anaknya.

Meski saat ini skate park serba terbatas, Nanda tetap semangat untuk melakoni hobinya itu. Bahkan dia menghimbau kepada siapa saja untuk dapat bergabung bersamanya, skating bareng.

"Silakan bagi siapa saja yang tertarik main skate, kami menghimbau, jangan malu-malu. Jika tidak ada papan, silakan pinjam punya kami," ajak pria bersahaja itu.

Terkait komunitas skate, Nanda mengaku tidak mau melabeli diri, soalnya jika mereka telah membuat komunitas, maka orang lain di luar komunitas tidak mau skating bersama. 

"Untuk itu kita namai saja kelompok bermain," ujarnya.

Nah, Nanda juga berbagi tips dan trik dalam dunia skaterboard. Untuk kamu yang baru akan memulai bermain skate ada baiknya pelajari saja Ollie terlebih dahulu, yaitu manuver loncatan biasa. Tubuh mengikuti papan yang jumping ke depan atau statis.

Jika sudah fasih kamu bisa melakukan Drop inmanuver ketinggian ke bawah. Skater harus menguasai gerak ollie lebih dulu. Kemudian Pop, saat tubuh dan papan di udara, kaki tetap menempel grip tape. Ada lagi yang namanya Kickflip, membuat putaran pada papan sebanyak satu kali atau lebih (ke arah kiri atau kanan) dengan posisi tubuh melayang di udara.

Boardslide, meluncur di handrail atau pada benda apa pun yang bisa dilalui papan, dengan posisi papan horizontal. Grind sama dengan boardslide, tapi yang dijadikan pijakan adalah truckBackside, manuver meloncat berputar ke belakang 180 derajat. Papan dan tubuh sama-sama berputar.

"Nah, yang paling sulit itu ya Combo, perpaduan dari banyak skill," imbuh Nanda.

Dikatakan Nanda, selama dia skating tidak jarang cidera menerpa dirinya. Tapi itu baginya bukan penghalang. Malah semakin sering jatuh maka semakin pandailah dia memanipulasi papan beroda tersebut.

"Pernah cidera engkel. Tapi tidak masalah. Saya terus main. Jika tidak terus main maka saya jadi trauma. Dan sia-sialah semuanya," kenang Si Jester Boy.

Mengakhir perbincangan Nanda menitipkan banyak harapan kepada banyak pihak, khususnya pemerintah terkait untuk dapat memperhatikan olahraga skateboard di Lubuk Basung. Dikatakannya, banyak bibit-bibit terbaik harus bermain ke luar, akibat di Lubuk Basung tidak diperhatikan.

"Kalau bisa didukung 100 persen," pungkasnya.