Olga Alawiyah, Meniti Karir di Negeri Sakura Membuatnya Rindu Lubuk Basung

- 7:27 am
Merantau bukan melulu sekadar pindah tempat tinggal atau jauh dari orang-orang tersayang. Lebih dari itu, merantau juga soal mendobrak sekat-sekat, meng-upgrade kebiasaan dan berteman dengan keterasingan. Bagi perempuan Lubuk Basung berikut ini, selain meniti karir, merantau membuatnya jadi paham makna hidup dan kerasnya kehidupan. Tidak tanggung-tanggung, Negara Jepang adalah tanah rantau yang dipilihnya untuk menempa diri. Bagaimana kisah inspiratif dari perempuan yang menapaki karir di Negeri Sakura tersebut?


Olga Alawiyah/Foto Facebook

Barangkali sebagian dari kita akan merasa canggung bahkan dipenuhi rasa ragu ketika berada di daerah yang terbilang asing. Apakah kita bisa diterima di masyarakat, apakah kita mampu, dan sudah tepatkah keputusan kita pergi jauh ke negeri yang segalanya sangat berbeda? Akan tetapi, setelah membaca tulisan ini, kita akan berpikir kembali bahwa merantau bukanlah hal yang buruk. Pasalnya, perempuan asal Parit Panjang, Lubuk Basung berikut ini bakal berbagi pengalaman ihwal meniti karir di luar negeri.

Melalui pesan facebook, tim lubas.web.id berkesempatan mengulik perempuan tersebut. Siapakah dia?

Dia adalah Olga Alawiyah, perempuan 24 tahun, buah hati pasangan Ahmad Hudari dan Kusmarianti. Olga, begitu dia akrab disapa meraih gelar sarjana di Jurusan Sastra Jepang dari Universitas Bung Hatta (UBH) Padang. Konon, berbekal kepiawaian berbahasa Jepang, menjadi titik awal dirinya melirik negara industri terbesar nomor tiga dunia tersebut.

Saat ini Olga bekerja di salah satu perusahaan besar di Jepang, Osaka International Airport, tepatnya di Hotel Nikko Kansai Airport. Untuk kamu ketahui, Hotel Nikko Kansai Airport ini adalah hotel bintang lima yang sangat mewah. Bagi para wisatawan yang ingin menjelajahi kota Osaka, Hotel Nikko Kansai Airport adalah pilihan yang sempurna. Sebab, hanya 1 km dari pusat kota, lokasi hotel yang strategis ini memastikan para wisatawan agar dapat secara cepat dan mudah mencapai ke tempat-tempat menarik. Dengan lokasinya yang strategis, hotel ini menawarkan akses mudah ke destinasi yang wajib dikunjungi di kota Osaka.

"Sebelum bekerja untuk hotel tersebut, saya pernah bekerja di salah satu perusahaan Jepang yaitu Select Hotels Group FET System Inc, di Hotel Isesaki inn Gunma dan Hotel Select Kagayamanaka. Saya bekerja di FET sejak tahun 2016 bulan Agustus, kemudian pindah ke perusahaan yang sekarang," ujar perempuan yang juga alumni SMA N 1 Lubuk Basung tersebut.

Diterangkan Olga, awal mula dia bisa menapaki karir di Negara Jepang memang karena jurusan kuliah yang dipilihnya, Sastra Jepang. Sedikit informasi mengenai Sastra Jepang, di jurusan ini kamu bakal belajar sekaligus mengenal dan memperdalam pengetahuan kamu tentang Negara Jepang. Biasanya di tahun kedua (semester 3 atau 4) kamu akan diarahkan ke dua bidang peminatan, sastra atau linguistik. Jadi, tak heran ya kalau Olga sangat fasih berbahasa Jepang.

"Cerita saya bisa ke Jepang itu awalnya karena saya memang seorang mahasiswi Jurusan Sastra Jepang. Kemudian setelah lulus kuliah, saya mengikuti interview kerja, Alhamdulillah lolos di urutan nomor satu saat interview yang kedua kali," tukuk Olga.

Semasa kuliah Olga juga telah mendalami budaya Negera Jepang. Hal itu dibuktikan dengan keterlibatannya pada Bunkasai di kampus tempatnya kuliah. Bunkasai itu sendiri adalah Festival Kebudayaan Jepang. Di Jepang sendiri, festival kebudayaan ini diselenggarakan di sekolah-sekolah, kampus-kampus, hotel-hotel, dan banyak tempat lainnya.

Berkesempatan meniti karir di Negeri Sakura memang rasanya nano-nano bagi Olga. Pasalnya dia dihadapkan dengan budaya dan bahasa baru, bertemu dengan orang-orang berbeda, dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Tidak hanya itu, sebagai WNI di Jepang, ada banyak suka-duka yang tentunya dia temui. Meskipun yang terlihat di sosial media kebanyakan hal menariknya saja, namun tinggal di Jepang tentu ada banyak tantangan yang harus dihadapi.

"Suka duka kerja di luar negeri (Jepang:red)? Kalau bahas dukanya sih ya jujur banyak banget karena saya bekerja di lingkungan bukan tempat saya lahir, budaya dan bahasa yang sangat jauh berbeda," ujar perempuan yang lahir di Pontianak tersebut.

Selain itu, dikatakan Olga, duka bekerja di luar negeri itu adalah duka yang membangun, seperti disiplin waktu dalam  bekerja. Dimana harus sampai di kantor 15 menit sebelum jam kerja dimulai.

"Dan selalu dimarahin juga sih. Apalagi saya diterima sebagai karyawan bukan part time job, salah ya salah walaupun orang asing." 

"Sementara untuk sukanya sih yang pastinya image yah, saya merasa lebih dihargai, terus sukanya kerja di sini juga dari penghasilan kerja, seperti gaji, bonus dan uang lembur. Itu aja sih." Imbuhnya.

Rumah adalah surga agaknya berlaku buat Olga. Saking nyamannya di rumah, kamu pun sering kangen suasana rumah saat berada jauh di perantauan bukan? Homesick–kangen Ibu dan kangen Bapak, kangen saudara, kangen kasur, kangen makanan rumah, kangen suasana, kangen semuanya tentang kampung halaman: rasanya ingin segera kabur dari kamar kost ke bandara lalu pulang.

Tapi tempat bekerja yang memang membutuhkan kedisiplinan ditambah lagi waktu libur yang tidak lama membuat Olga tak bisa pulang seenaknya. Namun bukan berarti saking menikmati pekerjaannya, Olga tidak merindukan kampung halaman, sebab perempuan cantik ini telah merencanakan pulang kampung.

"Saya baru mau masuk dua tahun di sini, dan belum pernah pulang, tapi Insha Allah tahun ini mau cuti," ujar perempuan dua bersaudara ini.

Nah, meski Olga sudah terbilang sukses berkarir di Jepang, dia tidak pelit untuk berbagi tips untuk remaja Lubuk Basung yang punya niat mengikuti jejaknya. Dengan lugas dikatakannya, modal pertama jika ingin keluar negeri adalah izin dan restu dari orang tua.

"Kalau ingin kerja di luar negeri, sarannya sih harus dapat izin orangtuanya dengan ikhlas. Itu wajib karena kalau tidak diizinkan atau setengah ikhlas, ya kerja gak bakalan bisa. Trus kalau bisa belajar dari sekarang deh bahasa-bahasa asing. Masa depan gak cuma hanya ada buat orang kaya yang bisa ke luar negeri. Niat baik, doa, dan minta ridho orang tua aja sih menurut saya."

Karatau madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, di kampuang baguno balun. Mamang ini agaknya dipegang teguh oleh Olga. Merantau memang dijadikannya ajang untuk menempa diri. Meski raganya di Jepang, jiwanya masih tertinggal di Lubuk Basung. Itu dibuktikannya dengan memerhatikan perkembangan generasi Lubuk Basung dari hari ke hari.

"Kalau ditanya seperti apa saya melihat Lubuk Basung saat ini sih agak sedih ya. Saya dengar ada yang putus sekolah karena berbagai hal, terus dilarang sama orangtua untuk merantau keluar kota atau provinsi, terus juga malas-malasan. Ya, kalau bisa masa depan lah yang harus dipikirkan," terang perempuan yang baru saja berulang tahun lima hari yang lalu.

"Harapannya untuk generasi Lubuk Basung sih jangan pernah merasa tersaingi, kalau ingin maju ya jalan, jangan takut. Dan selalu jaga nama baik Lubuk Basung, jangan selalu bikin hal yang memalukan, karena diri saya kental dialiri darah Minang-Lubuk Basung," pungkas Olga.(*)