Atrianis, Pejuang Literasi dan Penjaga Inspirasi Dari Lubuk Basung

- 9:40 am
Bila kebanyakan sarjana yang telah menamatkan studinya memilih hijrah ke kota demi mencari pekerjaan, namun tidak bagi perempuan Lubuk Basung yang satu ini. Dia lebih memilih mengabdikan diri, ilmu serta pengalamannya untuk pekerjaan sosial. Banyak hal yang telah dan akan dia perbuat dalam memperjuangkan hak-hak kaum marjinal, mulai dari menjadi aktivis kaum disabilitas sampai upaya meramaikan jalan sunyi dunia literasi. Bagaimana kisah perempuan cantik nan menginspirasi ini?
Atrianis. Dok, Pribadi

Sore hari yang cerah, Kamis (4/1) mengiringi perjalanan tim lubas.web.id ketika menyambangi salah satu kediaman di kawasan Kampung Pinang, Lubuk Basung, Kab. Agam. Kedatangan tim lubas.web.id disambut senyum ramah perempuan berhijab. Meski pertemuan kami terbilang cukup singkat, tapi banyak cerita dan kisah inspirasi yang didapat.

Dia bernama Atrianis, perempuan 26 tahun buah hati pasangan Syawal dan Mardianis. Atri, begitu dia akrab disapa merupakan anak sulung dari dua bersaudara. Atri meraih gelar sarjana dari Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol, Padang. Sebelumnya Atri menamatkan pendidikan sekolah dasar hingga madrasah aliyah di Lubuk Basung.

Terhitung sudah dua tahun Atri menyandang gelar sarjana, dan sejak itu pula dia mengabdikan diri menjadi seorang pekerja sosial. Pengabdiannya bermula dari perkenalannya dengan organisasi perempuan penyandang disabilitas (berkebutuhan khusus).

"Awalnya setelah diwisuda, Atri dikenalkan dengan dunia disabilitas. Kemudian Atri diajak gabung dalam Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia," ujar perempuan yang saat ini tengah menjabat sebagai ketua National Paralympic Committee (NPC) di Kabupaten Agam.

Dikatakannya lebih lanjut, awalnya keterlibatan dia di dunia disabilitas hanya sebagai sukarelawan. Namun, setelah dia terjun langsung, rasa cinta dan kepeduliannya terhadap mereka yang berkebutuhan khusus semakin terpupuk.

"Habisnya tidak banyak orang yang mau menyuarakan hak-hak disabilitas. Kemudian mereka yang berkebutuhan khusus seringkali mendapatkan perlakuan diskriminatif," tukuk perempuan yang sempat menjadi Sekretaris DPD Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Propinsi Sumatra Barat.

"Apa sih yang Atri dapatkan dari pekerjaan sosial ini?" Dia mengulangi pertanyaan tim lubas.web.id. Tanpa banyak berpikir dia menjelaskan, apa yang dia dapat bukanlah berupa materi, akan tetapi ada rasa kepuasan tersendiri melihat orang-orang tersenyum dengan usaha kecil yang dia lakukan.

"Prinsip yang selalu Atri pegang sampai sekarang, sekecil apapun itu, jika Atri mampu membuat orang sekitar bahagia, itu sudah luar biasa sekali rasanya buat Atri."

Jika sebagian orang mau melalukan pekerjaan sosial karena terinspirasi oleh sosok yang dikagumi, tapi itu tidak berlaku buat Atri. Dia memutuskan menjadi seorang aktivis murni karena alasan nurani.

"Tak ada tokoh yang menginspirasi Atri," ujar perempuan yang hobi menulis dan membaca ini.

Atri begitu menghargai arti kehidupan. Baginya hidup adalah rahasia tuhan. Hidup itu tergantung seperti apa kita memaknainya. Dia yakin sekali dalam hidup ini, tuhan tidak akan memberikan cobaan jika umatnya tidak mampu menjalankannya. Dia hanya mencoba menjadi sebaik-baiknya manusia. Manusia yang bermanfaat bagi sesama.

"Karena ini adalah kehidupan kedua bagi Atri," kenang perempuan yang harus merelakan salah satu tangannya, pada tahun 2008 silam dia diserang tumor tulang.

Tidak ada kata terbatas buat Atri. Ini dibuktikan dengan keaktifannya memperjuangkan suara-suara mereka yang berkebutuhan khusus. Diceritakannya, saat ini dia dan beberapa orang teman tengah membentuk komite olahraga bagi penyandang disabilitas untuk Kab. Agam. Bahkan untuk mewujudkan keinginannya itu dia tidak mendapatkan bayaran apa-apa, malahan dia rela mengeluarkan kocek pribadinya untuk urusan ini dan itu.

Dia berkisah sewaktu menjadi aktivis disabilitas di Kota Padang. Dikatakannya saat itu dia menjadi salah satu yang membidani tim Kota Padang pada ajang olahraga bagi penyandang kebutuhan khusus antar kabupaten dan kota. Bukannya senang telah menghantarkan Kota Padang menjadi juara umum, dia malah merasa sangat sedih. Pasalnya, tim dari tanah asalnya tidak mampu menorehkan prestasi.

"Maka sejak saat itu Atri bertekad untuk mendirikan National Paralympic Committee di Kabupaten Agam ini. Mohon doa dan dukungannya semoga dimudahkan jalannya."

Tidak sampai di situ saja perjuangan Atri memperjuangkan hak-hak kaum termajinalkan. Saat ini Atri dan beberapa orang teman di tempat tinggalnya tengah memprakarsai berdirinya rumah baca bagi anak-anak usia sekolah.

Alasan utama pendirian rumah baca itu adalah karena perkembangan ilmu pengetahuan yang makin lama makin pesat. Sementara anak-anak di tempat tinggalnya terbilang masih haus akan ilmu pengetahuan, namun terkendala dengan akses dan fasilitas .

Untuk masalah kemajuan teknologi, seperti penggunaan gadget yang berlebihan oleh anak-anak dia tidak ambil pusing. Karena memang faktor ekonomi jua yang menghambat anak-anak di tempat tinggalnya untuk bersentuhan dengan benda serba tahu itu.

"Rencana awalnya mau dibikin di rumah Atri saja dulu. Sebelum itu Atri juga akan berkoordinasi dengan pihak nagari. Di Nagari Kampung Pinang ini belum ada taman bacaan untuk masyarakat."

"Saat ini masih mengumpulkan buku-buku dari sukarelawan. Atri berharap nantinya banyak sukarelawan yang mau membantu dan pihak terkait juga mau menyokong niat baik ini," imbuh mantan pengurus Ikatan Mahasiswa Sri Antokan itu.

Aktifitas kesehariannya saat ini, selain menjadi aktivis disabilitas, dia juga menjadi relawan di beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan menjadi wartawan di Solider.or.id, media yang menyuarakan hak-hak mereka yang berkebutuhan khusus.(*)