Pucuak Parancih, Sayur Legendaris yang Masih Eksis di Lubuk Basung

- 7:13 am
Bagi mayoritas orang Minang, termasuk warga Lubuk Basung, pasti sudah sangat akrab sekali dengan daun yang satu ini. Apa lagi kalau bukan daun ubi batang (ketela pohon) atau yang akrab disebut “pucuak parancih”. Biasanya pucuk parancih ini sering dijadikan sebagai sayur, baik direbus biasa atau dioleh dengan menggunakan santan kelapa. Kurang lengkap rasanya makan nasi tanpa sayur yang satu ini.

Foto via Padangkita

Tahukah kamu? Ternyata kandungan gizi pada daun ini cukup bervariasi, seperti halnya sayuran hijau lainnya. Daun purba ini memiliki kandungan serat yang cukup tinggi. Beberapa kandungan gizi tinggi dalam daun ini diantaranya serat, vitamin A, B1, karbohidrat, asam amino essensial dan protein.

Hebatnya lagi pucuak parancih ini juga merupakan salah satu sumber antioksidan yang sangat baik untuk mencegah dan membuang radikal bebas dalam tubuh. Seperti diketahui, radikal bebas ini sendiri merupakan salah satu penyebab berbagai penyakit berbahaya seperti kanker dan dalam bidang kecantikan dapat menyebabkan penuaan dini.

Nah, bagi penikmat pucuak parancih, sudah tahukah kamu mengapa daun klasik ini dinamakan pucuak parancih? Bagi yang belum tahu, silakan simak penjelasan berikut ini.

Nama parancih sebenarnya ada kaitannya dengan nama Residen (Gubernur) Sumatera Barat yakni Emanuel Francis yang berkuasa di Sumatera Barat pada 1834. Nah, orang minang memang agak susah melafalkan nama Francis, sehingga namanya dieja menjadi parancih dalam lidah urang awak.

Di ranah Minang, namanya hingga hari ini masih sering disebut orang. Konon kabarnya dia pernah menganjurkan rakyat menanam dan memakan semacam pohon yang ubinya cukup enak dimakan. Di Jakarta terkenal dengan pohon singkong, di Sumbar sampai hari ini dinamakan ubi francis kemudian menjadi ubi prancis atau parancih.

Francis adalah orang Inggris yang lahir di India. Tapi dia menikah dengan orang Belanda. Francis pernah menjadi pelaut, namun kemudian menjadi juru tulis pada kantor dagang inggris di Banten (1815).

Dia pernah ditempatkan seluruh wilayah kekuasaan belanda, salah satunya di Sumatera Barat. Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Van den Bosch, mengangkat Francis sebagai Residen Sumatera Barat karena pengalamannya di Sumatera Barat. Pada waktu itu Belanda dalam kondisi terjepit akibat Perang Paderi dan Perang Diponigoro.

Batavia memutuskan cara lunak untuk menaklukan Sumatera Barat. Dengan mengeluarkan Plakat Panjang. Belanda berjanji tidak akan memungut pajak dan memberi gaji kepada para penghulu. Plakat ini dikeluarkan untuk mengantisipasi serangan kaum paderi dan kaum adat.

Francis begitu percaya terhadap isi Plakat Panjang tersebut tanpa mengetahui itu hanya akal-akalan Batavia semata. Selama di Padang, Francis aktif melakukan pendekatan terhadap kaum paderi dan kaum adat.

Nah, mengenai sayur pucuk “parancih” tadi, sewaktu menjadi Residen Francis berusaha mencari simpati masyarakat di ranah minang. Dia membawa ubi ketela pohon untuk dibudidayakan di Padang.

Inilah yang mungkin menjadi latar belakang atau asal mula penamaan pucuak parancih tersebut, seperti dikutip dari buku Rusli Amran Plakat Panjang(1984).

Rujukan