Semoga Wisata Anti Mainstream Ini Disadari Oleh Lubuk Basung

- 7:21 am
Mendatangi tempat wisata bagi sebagian orang saat ini telah menjadi kebutuhan. Lebih-lebih ketika kepadatan rutinitas datang melanda. Bersenang-senang di tempat wisata bersama keluarga adalah alternatif favorit, baik itu mendatangi pantai, gunung, pasar, atau tempat keramaian lainnya. 

Foto via Tribunnews

Nah, mendatangi tempat wisata seperti yang disebutkan di atas atau menikmati perjalanan dengan menggunakan bus yang nyaman yang dilengkapi dengan pendingin adalah hal yang biasa-biasa saja. Tetapi, bagaimana jika kamu beserta keluarga atau teman-teman diboyong naik truk, yang tidak ubahnya seperti mengangkut sapi ke pakan taranak? Atau bagaimana jika kamu diajak makan "bajamba" di pelosok nagari dan kemudian ikut "mairiak" , "malambuik" dan "malumbo" padi di sawah? Pastinya seru kan ya? 

Di lubuk Basung aktifitas masyarakat yang demikian sangat mudah dijumpai, bahkan hampir saban hari dilakukan. Yuk, berkenalan dengan aktifitas yang tergolong klasik tersebut.

Pertama adalah makan bajamba. Makan bajamba merupakan budaya makan bersama yang formasinya membentuk sebuah lingkaran dengan hidangan makanan khas Minang tentunya. Hebatnya lagi yang menjadi alas jamba (wadah) adalah daun pisang.

Di Minangkabau makan bajamba ini biasanya dilakukan pada saat acara adat, kegiatan gotong royong, atau keramaian lainnya. Namun, beberapa waktu terakhir makan bajamba bisa dilakukan di mana dan kapan saja, seperti pada acara kumpul-kumpul keluarga atau reuni.

Kedua, mairiak padi. Mairiak padi merupakan proses panen secara gotong royong yang dilakukan dengan cara merontokkan butir-butir padi dari tangkainya menggunakan telapak kaki. Ingat ya telapak kaki, bukan dengan teknik membanting. Nah kalau dengan membanting itu namanya malambuik.

Ketiga, malumbo. Masih berkaitan dengan proses panen padi. Kegiatan malumbo adalah memisahkan bulir padi dari atah dengan cara memanfaatkan bantuan angin.

Petris (46) merupakan salah seorang pemandu wisata yang lama menggeluti wisata kebudayaan. Dia telah menjadi pemandu wisata selama 23 tahun. Malang melintang di dunia kepariwisataan membuat dia menyadari betul bahwa pada dasarnya turis asing, terutama yang berasal dari daratan Eropa, datang ke suatu daerah bukan untuk sekadar menikmati keindahan alamnya, tapi juga ingin berinteraksi langsung dan mencoba kebiasaan masyarakat setempat.

Demikian juga dengan aspek kebutuhan komsumsi wisatawan asing. Dikatakannya dalam hal penyediaan makan siang atau makan malam pun, tamu asing lebih memilih mengonsumsi makanan tradisional buatan masyarakat nagari setempat.

Namun berdasarkan pengalamannya menemani para turis melancong ke Sumatra Barat, kebanyakan mereka mengeluh soal makanan yang pedas dan tidak cocok dengan lidah mereka. Sehingga masakan yang bisa dimainkan tingkat kepedasannya menjadi solusi, seperti masakan yang dibuat oleh masyarakat setempat.

Pada intinya makanan yang disediakan tetap masakan khas Minang, tetapi sudah disesuaikan dengan selera turis asing yang suka makan sayur segar dan tidak suka pedas. Ada baiknya juga para turis diatur tata cara makan khas Minang, seperti makan bukan di atas meja, tapi bersila di lantai dan tidak boleh makan pakai sendok. Kaum perempuan tidak boleh duduk bersila dengan mengangkang, tapi bersimpuh.

Bagaimana? Aktifitas tersebut bisa menjadi wisata alternatif bukan? Sebab wisata tersebut berbeda dengan paket wisata pada umumnya, di mana hubungan antara wisatawan dan pemandu tidak lebih dari sekadar hubungan bisnis, dilayani, dibayar, dan kemudian selesai, tetapi lebih bersifat emosional.

Coba bayangkan, bunyi-bunyi jangkrik pada malam hari yang berasal dari sawah yang masih terawat di Lubuk Basung, seolah menjadi sebuah orkestra alami yang membawa kesan tersendiri bagi tetamu asing. 

Semoga saja Lubuk Basung menyadari potensi ini. So, Enjoy in Lubas.