Kids Lubas Zaman Now, Ini Dia Tradisi Marosok yang Bikin Kangen

- 10:34 am
Tradisi Marosok? Apa lagi ini, sejenis apakah marasok ini. Barangkali bagi kamu yang pelum pernah mendengar istilah ini mungkin akan bertanya-tanya seperti itu. Berikut pemahaman singkat mengenai marosok yang bakal bikin kamu kangen itu.

Foto via Youtube

Biasanya memasuki musim lebaran Idul Adha tentunya kebutuhan akan hewan Qurban ikut meningkat. Nah, ada yang unik dari transaksi jual beli hewan peliharaan di Minangkabau, termasuk di Lubuk Basung. Tradisi ini dikenal denganl istilah marosok. Tradisi jual beli ‘bisu’ memang sama sekali dilakukan tanpa suara.

Ketika pembeli dan penjual yang ingin bertransaksi, mereka melakukan dengan bahasa isyarat tangan. Kedua tangan ditutup dengan kain sarung, handuk atau kain lainnya sehingga tidak ada orang lain yang melihat proses tawar menawar harga antara keduanya.

Hewan yang diperjual belikan biasanya berupa kerbau dan sapi. Pembeli biasanya tidak begitu sibuk bertanya dengan berat kerbau ataupun sapi yang ingin dibelinya. Ia hanya mengamati hewan tersebut kemudian meminta penjual untuk bertransaksi.

Cara Transaksi

Transaksi dilakukan secara tertutup, sehingga tawar menawar harga hanya diketahui dua orang. Saat transaksi, pembeli akan memegang tangan si penjual. Cie..cie pegangan tangan xixixi. Setiap jari tangan mewakili sebagai angka tertentu yang nilainya mencakup nilai jutaan, ratus ribuan hingga puluh ribuan.

Jari telunjuk mewakili sebagai angka 1, kemudian selanjutnya mengikuti jumlah jari, dengan terakhir ibu jari melambangkan angka 5.

Misalnya ketika seorang pembeli menawar sapi seharga 6,4 juta. Pertama sekali ia memegang telunjuk penjual, untuk mengisyaratkan bilangan 10 juta. Kemudian pembeli mengambil empat jari pejual dan menggoyangkannya kekiri, ini menunjukan bahwa dari nilai tawaran pertama (10 juta) dikurangi 4 juta, sehingga terbentuklah nilai 6 juta rupiah. Untuk menambahkan 400 ribu, pembeli menahan 4 jari penjual tadi dan menghentakkannya ke bawah. Artinya ditambahkan sebanyak 400 ribu.

Si penjual boleh setuju ataupun menolak tawaran harga yang diajukan pembeli. Ia bisa menawarkan harga jual yang lebih tinggi dengan isyarat yang sama. Kemudian jika misalnya ia ingin bertransaksi dalam nilai pecahan 50 ribu, setelah memberi isyarat jari untuk nilai ratus ribuan, ia bisa memegang satu ruas ibu jari dan menekukkannya ke bawah.

Manfaat & Tujuan

Setelah saling tawar menawar harga, kemudian disusul dengan saling mengangguk, artinya transaksi telah berhasil dengan harga yang telah sama-sama disepakati.

Tradisi yang terbilang unik ini dipercaya sudah ada sejak zaman Minangkabau masih berbentuk kerajaan. Salah satu tujuan utama transaksi dengan metode seperti ini adalah untuk merahasiakan nilai transaksi. Sehingga misalnya saat ada yang berniat jahat, hal itu bisa diminimalisir,

Misalkan ada orang yang berniat mencuri, jika transaksi dilakukan secara terang-terangan maka pencuri akan tahu bahwa calon korbannya sedang memegang uang yang nilainya sekian juta. Selain itu, teknik seperti ini juga berguna untuk saling menghormati antara pembeli dan penjual.

Saat pembeli membeli ternak dengan harga yang relatif tinggi dari harga pasaran, ia tidak akan kena cemooh dari pembeli yang lain, Ataupun saat ada penjual yang memasang harga terlalu tinggi, tidak akan menimbulkan bisik-bisik merendahkan di belakangnya.

Saat ini tradisi marosok masih lazim digunakan di pasar ternak dimanapun di Sumatera Barat. Budaya Minang ini nampaknya masih dipegang teguh oleh peternak dan pembeli hewan ternak. Karena memang selain unik, kearifan lokal ini kaya akan nilai manfaat, kearifan dan kebijaksanaan. 

Enjoy in Lubas.