Warga Lubas, Jangan Gagal Paham Dengan Fungsi Benda yang Satu Ini

- 7:05 am
Seiring bergulirnya sosialisasi mengenai keselamatan berkendara, termasuk untuk urusan menggunakan helm, kerap berbenturan pula dengan kebiasaan orang-orang untuk tidak memakainya. Di Lubuk Basung, mudah sekali menemukan pengendara sepeda motor ataupun pemboncengnya yang tidak mengenakan helm.


Foto via bahayapedia

Di sisi yang lain, tidak sedikit juga pengendara yang mengenakan helm hanyalah kebutuhan untuk menghindari tilang polisi. Setelah melewati pemeriksaan, helm dilepas kembali. Padahal, selain sebagai pengaman dalam berkendara, mengenakan helm adalah kewajiban yang sudah ada undang-undangnya. Jika melanggar, akan dikenakan pidana kurungan selama waktu yang telah ditentukan atau dikenakan denda dengan jumlah yang sudah ditentukan. 

Di Lubuk Basung sendiri notabene sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Agam, dengan mudah dijumpai para pengendara yang tidak mengenakan helm. Hal itu bukan hanya dilakukan para pembonceng atau anak-anak kecil yang kadang kerap dimaafkan bila melanggar, namun juga para pengendara dewasa yang memegang kemudi. Bahkan, perilaku tidak baik tersebut juga dilakukan pada jalan-jalan utama dan jalan arteri yang ramai lalu lalang kendaraan berat.

Perilaku tidak baik ini tentu sangat berisiko, pasalnya trauma kepala akibat kecelakaan lalu lintas merupakan penyumbang utama disabilitas atau kecacatan dan mortalitas atau kematian, di negara berkembang. Keadaan ini umumnya terjadi pada pengemudi motor tanpa helm atau memakai helm yang kurang tepat dan yang tidak memenuhi standar.

Dalam sebuah studi yang dilakukan peneliti Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM) Dwi Ardianta Kurniawan mengungkapkan setidaknya ada empat alasan mengapa pengendara kendaraan bermotor roda dua kerap tidak menggunakan helm saat berkendara.

Adapun keempat alasan utama tersebut seperti dikutip dari Republika.co.id adalah, pertama kurangnya kesadaran mengenai fungsi helm sebagai pelindung keselamatan dalam berkendara. Hal ini dapat dilihat dari keengganan menggunakan helm untuk perjalanan jarak dekat.

Hal yang perlu disadari adalah bahwa kejadian kecelakaan dapat terjadi di manapun dan kapanpun, dengan tingkat kefatalan yang tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Apalagi cedera kepala adalah penyebab tingkat fatalitas yang tertinggi dalam kecelakaan, sehingga diperlukan pengaman untuk mengurangi resiko tersebut.

Kedua, motivasi mengenakan helm sebagai pemenuhan kewajiban belaka, akibatnya banyak pengendara yang menggunakan helm hanya ketika ada petugas atau di jalan-jalan utama, dan kemudian melepasnya setelah dirasa aman dari pantauan petugas.

Pemakaian helm yang demikian menurutnya lagi juga dipengaruhi oleh konsistensi petugas dalam melakukan penindakan pada pengendara yang melanggar. Ketika ada kelonggaran, maka pengendara juga akan cenderung lalai menerapkan ketentuan tersebut.

Hal ini tentunya mencerminkan pandangan yang naif, karena penggunaan helm adalah untuk keselamatan pengendara sendiri, bukan untuk kepentingan petugas.

Ketiga, harga helm standar yang relatif mahal, sehingga mendorong pemilik kendaraan bermotor roda dua untuk permisif dan tidak memiliki serta tidak menggunakan helm standar.

Keempat, mementingkan penampilan sehingga banyak remaja dan pemuda yang tidak ingin penampilannya tertutupi oleh helm standar yang cenderung menutupi wajah.

Dalam era ketika narsisme merajalela ini, aspek penampilan menjadi pertimbangan penting bagi seseorang dalam bertingkah laku, juga ketika berkendara.

Maka, jangan heran ketika perilaku tanpa helm ini banyak ditemui pada pusat-pusat kegiatan anak muda, yang dengan mudah dapat ditemui anak-anak muda yang berboncengan tanpa helm di kepala.

Beberapa waktu terakhir grafik kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pengendara sepada motor di Lubuk Basung terus meningkat. Bahkan, nyawa menjadi tantangannya. So, mulai sekarang mari budayakan penggunaan helm, baik itu berkendara dalam jarak yang dekat ataupun jauh. 

Enjoy in Lubas.