Warga Lubas, Ternyata Buaya Tidak Mau Memangsa Orang Bersuku Koto

- 12:17 pm
Membaca atau mendengar cerita tentang mitos atau legenda memang menarik.  Apalagi misalnya bagi kamu yang berprofesi sebagai seorang sastrawan, sejarawan, penulis, atau seorang  pencinta budaya dan sejenisnya.  

Foto via dinopedia.wikia.com

Legenda dan mitos itu biasanya berkaitan dengan makhluk hidup dan dunia gaib atau dunia mistik. Karena mitos dan legenda itu selalu bersentuhan dengan alam atau dunia gaib. 

Makluk hidup yang biasanya dikisahkan dalam mitos atau legenda adalah harimau, singa, serigala, buaya, biawak, komodo, dan seterusnya. Dan semua daerah pasti memiliki cerita-cerita yang dikaitkan dengan mitos atau legenda itu. 

Demikian juga dalam hal ini, legenda tentang buaya dan Suku Koto di Minangkabau. Di mana dalam cerita legenda tentang buaya dan Suku Koto ini dikatakan, bahwa buaya tidak bisa memangsa orang-orang Suku Koto. Kenapa? 

Apakah karena orang-orang dari Suku Koto di ranah Minang itu memiliki ilmu-ilmu kanuragan atau ilmu-ilmu gaib? Pertanyaan ini pantas diajukan, mengingat dalam cerita bahwa buaya tidak akan memangsa orang yang bersuku Koto, baik ketika berada di muara sungai, bahkan saat berenang di sungai yang banyak buayanya.

Entah perjanjian atau kebaikan apa yang telah dilakukan Tetua Suku Koto di ranah Minang dahulu kala, sehingga buaya enggan memangsa masyarakat Suku Koto hingga garis keturunannya. Atau ada apa? 

Yang jelas, cerita berupa legenda tentang buaya tidak bisa memangsa orang-orang dari Suku Koto di Minangkabau, diyakini ada sejarah kemanusiaan di zaman dulu yang melahirkan persahabatan antara orang Suku Koto di Ranah Minang dengan buaya.  

Artinya, ada semacam cerita tentang kearifan-kearifan lokal  di mana manusiapara tetua adat di ranah Minang, tidak membunuh atau memusnahkan buaya dimana buaya-buaya waktu itu sedang mengalami kesulitan berupa ancaman nyawa misalnya, dan saat itu para tetua adat membantu menyelamatkannya. 

Sehingga, sebagai balas budi, buaya-secara supranatural-tidak melakukan kontak dengan para tetua adat Suku Koto di ranah Minang ketika itu untuk saling “membantu” atau minimal tidak saling menganggu apalagi memangsa. 

Karena itu, bisa dimengerti dan bisa juga menjadi benar ketika masih dialami saat ini kalau orang-orang dari suku Koto di ranah Minangkabau jika menyeberang sungai, meski ada buaya di sungai itu, mereka tidak akan diganggu apalagi dimangsa.

Minimal, cerita berupa legenda tentang buaya tidak memangsa orang-orang dari Suku Koto, kalaupun itu berupa cerita, banyak arti dan makna simbolis yang bisa dipetik, apalagi bisa diambil sari makna filosofis dan kemanusiaannya.

Sumber : netralnews.com