Budaya Minang Perlahan-lahan Habis Terkikis, Generasi Lubas Jangan Seperti Ini ya

- 6:46 am
Apa yang terbayang oleh kita ketika berbicara tentang tanah Minangkabau, Sumatera Barat? Mungkin hal pertama yang bakal ada dalam pikiran kita adalah Rendang. Selanjutnya bisa Nasi Padang, Rumah Gadang, Jam Gadang, atau perantauan. Barangkali juga hal pertama yang terpikirkan tentang Minangkabau itu adalah sosok Hayati dan Zainudin, Malin Kundang, Tari Piring. Apapun itu, semuanya sah-sah saja kok.
Via fotokita.net

Namun Minangkabau adalah suatu daerah non administratif yang sangat istimewa. Budaya, adat, dan logat yang kental membuat dimanapun orang Minang berada, pasti bakal ketahuan dengan jelas bahwa dia itu orang Minang. Dan uniknya mereka ada di banyak kota di Indonesia. Luar biasa.

Sayangnya, seiring perjalanan waktu semua itu mulai ditinggali dan dilupakan oleh anak muda Minang sekarang. Indak tau di nan ampek, alah hilang Minang tingga kabau. Norma, adat dan budaya yang sejak dulu menjadi kebanggaan orang Minang telah mulai pudar, hilang dan dilupakan oleh anak mudanya sekarang. 

Kalau sekarang teman-teman lebih suka ngomong kuping daripada talingo. Maaf, darah Minang teman-teman perlu dipertanyakan lagi

Bahasa Minang itu unik. Tidak jauh berbeda dengan bahasa Indonesia, bahasa Minang memiliki irama yang khas dan beda dengan bahasa lainnya. Menurut data yang dilaporkan oleh Summer Institute of Linguistics (SIL 2001) terdapat beberapa bahasa daerah yang diperkirakan jumlah penuturnya cukup banyak bahkan lebih dari satu juta, salah satunya bahasa Minangkabau (6.500.000 penutur).

Namun, bahasa Minang termasuk bahasa daerah yang terancam punah melihat peran anak muda Minang yang mulai jarang menggukannya. Bahkan, salah satu kota terbesar di Sumatera Barat bisa teman-teman temui banyak anak mudanya berbicara bukan dan tidak bisa bahasa Minang. Orang tua asli Minang, lahir, tinggal dan besar di tanah Minang tapi tidak mau berbahasa Minang? Orang lain saja mau belajar bahasa Minang, apa kita tidak malu?

Orang Minang itu terkenal sebagai para perantau yang baik. Di manapun kita berada pasti ada saja orang Minang, hal itu terjadi karena budaya merantau sudah melekat pada diri orang-orang Minang sejak dulu. Banyak alasan yang mengharuskan mereka merantau, menimba ilmu, mencari nafkah dan menambah pengalaman hidup jauh dari kampung halaman. Jadi seakan muncul aturan tak tertulis, ‘mau tidak mau ya harus merantau.’

Karatau madang di hulu, Babuah babungo balun. Marantau Bujang dahulu, Di kampuang baguno balun

Sewajarnya seorang anak Minang merantau ke negeri orang untuk belajar hidup mandiri, untuk menempa diri agar lebih dewasa lagi serta mencari pengalaman yang akan dibawa kembali ke kampung halaman. Kalau anak Minang meninggalkan rumah saja masih takut dan ragu-ragu, bagaimana mau berkembang dan maju.

Kalau bicara soal perempuan, salah satu daerah memiliki perempuan cantik nan aduhai dan idaman orang tua diluar sana ya perempuan Minang atau gadih Minang. Mereka merupakan sosok sempurna yang diciptakan Tuhan untuk Minang. Penuh pesona, sikap yang santun dan salah satu daya tariknya yaitu pintar masak. Entah itu semua mitos atau fakta yang jelas pada dasarnya mayoritas perempuan Minang itu bisa masak. Namun untuk membuat masakan menjadi enak dan istimewa tentu perlu keahlian khusus. Dan tentunya latihan terus.

Kalau kata orang-orang tua dulu Anak gadih di minang kabau, Limpapeh rumah nan gadang. Auih tampek mintak aia, lapa tampek mintak nasi. perempuan Minang  harus memiliki keahlian ini agar nanti jika punya suami betah makan di rumah. Kalau perempuan Minang masak nasi saja gosong ya siap-siap saja melihat pasangannya nanti bakal makan diluar. Jangan sampai seperti itu, malu sama orang tua kita dahulu.

Bukankah dari kecil anak Minang sudah diajarkan untuk tidur di Mushala untuk memperdalam ilmu agama. Masa ketika dewasa semua yang diajarkan bisa lupa?

Tahukah teman-teman mayoritas 99% orang Minang itu beragama Islam. Aturan agama ini telah ditetapkan oleh nenek moyang orang Minang semenjak Islam memasuki kehidupan mereka. Dengan semboyan  “Adat Bersandikan Syara’, Syara’ bersandikan Kitabullah“, dengan begitu setiap keturunan Minang wajib hukumnya secara adat memeluk agama Islam. Maaf, bukan bermaksud apa-apa tapi memang begitulah keadaannya yang terjadi di Minang.

Jika ada keturunan Minang “murtad” atau keluar dari agama Islam maka yang bersangkutan “dibuang” sepanjang adat

Menjadi seorang Muslim Minang bukan hanya sekadar nama saja. Anak Minang harus pandai mengaji serta ibadah wajib tidak boleh ditinggalkan. Dari kecil mereka sudah diajarkan tidur di surau (Mushala) untuk memperdalam ilmu agama.  Jika ada anak muda Minang yang mengajinya saja masih di eja-eja, shalatnya masih bolong-bolong berarti dia anak Minang yang dulu waktu kecilnya sering berbohong. Ingat ini lanca kaji dek diulang, pasa jalan dek ditampuah.

Jangan sampai kisah cintamu terhalang karena alasan satu suku, cari tahu asal-usulnya dulu. Daripada nanti menyesal di akhir, lebih baik kecewa di awal.

Minangkabau adalah satu dari ratusan suku di Indonesia yang sangat unik dan satu-satunya suku yang menganut sistem matrilineal di Indonesia. Garis keturunan di Minangkabau ditarik berdasarkan keluarga ibu, satu yang sangat kentara dari sistem ini adalah pewarisan suku kepada anak menurut suku ibunya.

Suku di sini dapat diartikan nama sebuah golongan atau sebuah marga keluarga. Jika dia orang Minang pasti mempunyai suku. Jika punya suku, pasti punya Datuk. Jika Punya Datuk, pasti punya penghulu. Jika punya penghulu pasti punya penghulu pucuk.

Nah, anak muda Minang sekarang masih tahu tidak sukumu apa? Datukmu siapa? Penghulumu gelarnya apa? Jika belum tahu, tanyakan sekarang sama orang tua, itu penting untuk menentukan jodohmu. Mana tau calonmu sekarang satu suku.

Kalau bukan kalian siapa lagi yang akan melestarikan budaya ini. Apa harus diklaim negara tetangga dulu baru, baru mau bergerak maju?

Perkembangan zaman dewasa ini memberi efek memprihatinkan terhadap kebudayaan nasional, termasuk budaya Minangkabau itu sendiri. Semakin lama eksistensi Minang semakin memudar saat banyak dari generasi muda yang mulai melupakan budaya mereka sendiri. Generasi muda kian tak acuh terhadap sejarah Minangkabau, tentang segala seluk beluknya hingga hal-hal unik yang ada di dalamnya.

Mereka seperti malu akan budaya yang telah diwariskan oleh pendahulunya. Sebaliknya, mereka lebih peduli dengan budaya asing yang masuk dan bangga dengan budaya itu. Jika fenomena ini berkelanjutan bukan tidak mungkin suatu saat nanti budaya Minangkabau bisa punah. Memang perkembangan zaman tidak dapat dielakkan. Budaya Minangkabau yang diwariskan secara turun temurun adalah aset yang amat sangat berharga sehingga perlu kita jaga.

Berbanggalah dengan budaya kita sendiri dengan cara melestarikannya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Nah, apakah teman-teman masih bisa dipanggil orang Minang? Apakah dengan dalih perkembangan zaman, teman-teman sudah melupakan norma dan budaya Minang yang mengalir dalam darah teman-teman. semoga kita tak menjadi sosok seperti itu di zaman yang ‘katanya’ makin maju ini.