Lubuk Basung, Kami Tak Ingin Menyayangimu Sebatas di Hari Valentine

- 11:39 am
Kata orang Februari adalah bulan yang penuh romantisme dan kasih sayang sebab ada hari valentine atau hari kasih sayang di dalamnya. Tapi kami tidak setuju dengan itu. Bagi kami, setiap bulan sama saja. Tidak ada yang namanya bulan romantis, apalagi hari kasih sayang. Jika ada hari kasih sayang, berarti hari-hari yang lain diciptakan dengan tidak ada kasih sayang? Bukankah kasih sayang itu seharusnya ada setiap hari bahkan setiap saat dan setiap detik yang kita miliki.
Lubuk Basung

Selain itu, banyak dari kita yang masih keliru perihal objek yang diberi kasih sayang. Ia menganggap bahwa kasih sayang itu tercurah untuk sang kekasih padahal hakikatnya kasih sayang kita tercurah bukan hanya untuk pacar, apalagi pacarnya belum halal. Kasih sayang itu sudah seharusnya kita berikan untuk semua orang yang ada di sekeliling kita, terlebih lagi untuk kedua orang tua kita.

Kami menuliskan ini bukan untuk kekasih hati terlebih lagi pacar belum halal sebab kami tak memilikinya (uh syedihnya agii). Kami menuliskan ini teruntuk kampung halaman kami, Lubuk Basung.

Tulisan ini dari kami anak rantau, untuk Lubuk Basung.

Merantau jauh dari kampung kelahiran kerap membuat kami rindu akan kampung halaman. Mulai dari masakan Ibu, teman-teman lama, sampai suasana kampung yang tentram dan damai. 

Selain rindu, tuntutan dari sanak famili untuk pulang sering kami dengar. Namanya juga tanah kelahiran, tentu kami ingin sekali pulang kalau ada waktu senggang. Namun kenyataannya kami tak selalu bisa pulang karena masih ada kepentingan yang harus didahulukan.

Hal tersebut seringkali disalah artikan oleh orang-orang di kampung halaman sebagai penolakan. Kami disangka sombong atau apalah sebutannya. Padahal sejatinya memang kami masih punya tanggungan sesuatu yang mesti dikerjakan. Tidak ada sama sekali niatan untuk melupakan kampung halaman

Selain menuntut ilmu, kami juga butuh yang namanya kesendirian. Jauh dari orangtua memaksa kami untuk hidup mandiri, menempah diri menjadi seseorang yang tangguh. Sebelumnya mungkin kami hanyalah anak rumahan yang apa-apa selalu ada Mama atau Papa yang menyediakan. Merantau kali ini harapannya tak lain agar kami lebih dewasa lagi dalam menyikapi hidup.

Dengan menyandang gelar sarjana kami ingin membuat bangga orangtua dan keluarga di kampung. Meski tidak semua orang beranggapan seperti ini, tapi umumnya orangtua akan bangga jika anaknya memiliki gelar sarjana. Maka dari itu kami ingin membahagiakan mereka dengan cara menjalani kehidupan berkuliah dengan sungguh-sungguh. Perjuangan mendapatkan gelar sarjana jelas tak mudah, tapi semua akan terbayarkan saat melihat senyum orangtua kala wisuda datang.

Setelah lulus, banyak pertanyaan “kenapa tidak pulang?” yang disematkan pada kami. Salah satu hal yang membuat kami tidak mencari pekerjaan di kampung halaman adalah minimnya lapangan pekerjaan. Pun kalau ada, pendapatannya tentu tidak seberapa. 

Boleh jadi karena alasan itulah kita memilih kota perantauan sebagai lumbung untuk memperoleh penghasilan. Tapi hanya satu yang selalu kami ingat, kampung halaman tetaplah tempat penuh kerinduan.

Banyak cibiran yang mengatakan kami sombong tidak pernah pulang. Sering juga salah mengartikan bahwa kami telah melupakan tempat dimana kami dilahirkan. Hal itu salah benar. Karena bukankah justru karena cinta kampung halaman kita mencari banyak bekal dan pengalaman yang nantinya akan kita berikan kepada kota kelahiran kita?


Meski kapan waktunya kami sendiri belum mengetahuinya. Tapi suatu saat nanti akan tiba masanya kembali dan membagi apa-apa yang telah diperoleh dari petualangan kami selama ini di tanah rantuan. Tunggu saja, kami pasti akan kembali.

Dari semua aktivitas, entah itu menuntut ilmu atau bekerja mencari penghasilan, semuanya dilandasi dengan keinginan untuk meraih kesuksesan. Dan kesuksesan di sini apabila ditarik kembali bermuara pada kecintaan kami pada keluarga dan juga kampung halaman. 

Salah satu janji kami pada orangtua dan keluarga juga harapan kami kesuksesan yang diraih dapat membawa keluarga dan kampung kelahiran bangga.

Kami menyayangimu Lubuk Basung.

Dari kami di rantau.