Lubuk Basung Maafkan Kami, di Kampuang Baguno Balun

- 10:50 am
Di balik semua euforia dan kegembirannya, ternyata diwisuda menyimpan momen ‘now what’ yang harus kami pecahkan segera. Setelah kami lulus kuliah dan sudah sah menjadi sarjana, lalu apa yang selanjutnya kami lakukan? Cari kerja, jelas. Di mana dan bagaimana, itu yang harus kami pertimbangkan baik-baik.
Lubuk Basung Maafkan Kami, di Kampuang Baguno Balun

Rezeki memang harus dikejar, meski sampai ke kota orang. Inilah kenapa banyak orang yang merantau meninggalkan kampung halaman yang kurang menjanjikan untuk mendapatkan penghasilan. Tapi terkadang mungkin terpikir di benak kami juga, jika semua merantau ke kota lain, lalu siapa yang akan mengembangkan kampung halaman kami? Padahal sebagai generasi penerus bangsa, tentunya itu menjadi kewajiban kami juga.

Sebagai pekerja yang merantau di kota orang, kegalauan-kegalauan inilah yang kami rasakan.

Setelah kami menjadi sarjana, tentunya kami tidak sabar untuk segera punya penghasilan sendiri. Ada beban rasanya jika kami tak segera mendapatkan pekerjaan, sementara orang tua kami sudah mengeluarkan banyak biaya untuk pendidikan kami. Lagi pula, kami juga ingin segera membantu meringankan beban keluarga. Apalagi jika kami masih punya adik-adik yang juga membutuhkan banyak biaya. Mencari pekerjaan di kota dengan gaji besar yang bisa mencukupi semuanya menjadi satu-satunya cara.

Kami bingung mau melakukan apa jika tetap tinggal di kampung halaman. Lapangan kerja yang ada tak sesuai dengan ilmu yang kami tekuni di bangku kuliah.

Bukannya kami tak mau bekerja di kampung halaman. Sebab kami berasal dari daerah kecil yang belum terlalu berkembang, lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bidang kami tidak tersedia. Jika kami berasal dari kota yang mayoritas mata pencaharian penduduknya dari sektor pertanian, kami yang kuliah di bidang komunikasi tentunya kesulitan mencari pekerjaan. Ilmu yang kami pelajari susah payah di bangku kuliah, tidak bisa kami terapkan kami kamu tetap tinggal di kampung halaman.

Bekerja di kota orang membuat kami hidup mandiri. Terutama untuk kami yang sejak lahir selalu berada di kota yang sama. Dunia kan tak seluar daun kelor.

Jika kami sejak lahir hingga kuliah berada di kota yang sama, hal-hal yang kami temui dari SD sampai lulus kuliah mungkin sama. Memang benar, kampung halaman memberikan kenyamanan karena kami terbiasa dan lebih dekat dengan keluarga juga.Tapi kami tahu bahwa dunia tak seluas daun kelor. Selain rezeki harus dikejar, bekerja di kota orang bisa membuat kami belajar hidup mandiri. Belajar hidup jauh dari keluarga, sehingga kami terbiasa melakukan apa-apa sendiri. Hidup sendirian di kota orang akan menempa kami menjadi sosok yang mandiri dan kuat.

Pengalaman dan penghasilan adalah dua hal utama yang akan kami dapatkan jika kami berani melangkah keluar dari zona nyaman.

Dengan keluar dari zona nyaman kamikami akan menemui hal-hal baru dan belajar dari sana. Apa yang kami temui di luar sana pastinya berbeda dari yang sebelumnya. Tapi justru di situ kami bisa mengembangkan diri kami. Jika kami hanya berdiam diri di kampung halaman tanpa melakukan sesuatu yang berarti karena di sana skill kami tidak terpakai, kami tidak akan mendapatkan apa-apa. Bisa-bisa, skill yang kami dapatkan di bangku kuliah justru hilang karena terlalu lama dibiarkan. Karena itulah kami merasa perlu pergi ke kota orang. Selain untuk mencari penghasilan, juga untuk mencari pengalaman.

Memang benar kami bisa saja berwiraswasta. Tapi tak semua orang bisa menjadi pengusaha, sebab yang dituntut bukan selembar ijazah saja

Iya sih, banyak yang bilang bahwa kita nggak harus kerja untuk orang lain. Artinya, kami nggak harus bekerja di kantor dengan gaji bulanan dan jam kerja dari jam sekian sampai jam sekian. Kami bisa berkarya di kampung halaman. Dengan ilmu dan keahlian yang kami dapatkan dari bangku kuliah itu, cobalah untuk wiraswasta dan ciptakanlah lapangan pekerjaan baru yang akan mendukung perekonomian. Memang itu kan yang diharapkan dari kita para generasi bangsa. Tapi kami juga realistis. Tidak semua orang bisa menjadi pengusaha yang sukses. Ilmu dan ijazah yang kami punya belum tentu cukup untuk memulai sebuah usaha. Masih banyak ilmu yang harus kami kuasai untuk bisa menjadi wiraswasta sejati.

Perasaan rindu pada rumah memang tak terbantahkan. Tapi, sedikit telepon dan canda di media sosial toh cukup menghibur kami yang sedang berjuang.

Bekerja di kota orang berarti jauh dari keluarga. Rasa rindu untuk pulang ke kampung halaman itu hal biasa. Pulang ke rumah juga bukan hal yang bisa kami lakukan sering-sering. Bisa jadi kami hanya bisa bertemu keluarga setahun sekali atau dua kali. Homesick bisa jadi penderitaan sehari-hari. Tapi komunikasi dengan keluarga via telepon dan percakapan di media sosial cukup bisa menghibur kami yang sedang berjuang.

Untuk saat ini tak apa kami menumpang di kota orang. Fokus untuk mencari pengalaman dan mengembangkan potensi diri.

Memang saat ini kami masih numpang di kota orang. Manfaatkan waktu yang kami punya untuk mencari sebanyak-banyaknya pengalaman. Potensi apa yang ada dalam diri kami harus dikembangkan. Selagi kami masih muda dan bersemangat, raihlah prestasi setinggi-tingginya dan temui sebanyak mungkin hal baru yang bisa kami temui. Dari sana, kami akan membangun diri kami menjadi pribadi yang pekerja keras dan berkualitas.

Suatu saat nanti, saat bekal kami sudah cukup, akan tiba saatnya kami pulang dan membangun kampung halaman.

Saat ini kami memang belum bisa menyumbangkan apapun untuk tanah tumpah darah kami di kampung sana. kami belum bisa memberikan sumbangsih apa-apa dan malah meninggalkannya untuk numpang di kota orang. Tapi tak apa. Kami meninggalkan kampung halaman bukan karena tak cinta, tapi karena memang bukan saatnya. Saat nanti ilmu kami sudah cukup banyak, dan bekal kami sudah cukup kuat, ada saatnya kami akan pulang dan membangun kampung halaman kami tercinta. 

Setiap pilihan dalam kehidupan memang ada risikonya masing-masing. Pilihan apapun yang sudah kita ambil, galilah potensi sedalam-dalamnya di sana. Meski sekarang kita berjuang sendirian, yakin saja bahwa suatu saat nanti perjuangan kita akan ada hasilnya.

Kami mencintaimu Lubuk Basung.