Mampukah Politisi di Lubuk Basung Menjawab Tantangan Milenial

- 7:01 am
Kontestasi po­li­tik di Lubuk Basung untuk beberapa tahun kedepan sudah barang tentu akan sangat berbeda de­ngan pesta politik di tahun-ta­hun sebelumnya. Bedanya bukan saja ka­rena pemilu legislatif dan pemilukada yang dilakukan se­ren­tak, tapi juga karena hadirnya pemilih muda -kaum milenial- di Lubuk Basung. 
Foto via Grid

Dalam konteks politik elektoral, kelompok milenial ini tentu tidak boleh dipandang remeh. Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), pemilih pada Pemilu yang akan datang diprediksi akan didominasi oleh pemilih milenial. Pemilih milenial adalah mereka yang lahir dalam rentang 1981-1999 dan akan berusia 20-38 tahun serta jumlahnya mencapai sekitar 86 juta jiwa. Di Indonesia sendiri, pemilih milenial yang ber­­usia 17-38 ta­hun mencapai 52% dari total pe­milih. Itu artinya adalah 1 dari 2 pe­milih merupakan generasi milenial.

Mengingat dan menimbang hal yang demikian, tidak mengherankan bila kemudian banyak partai politik dan politisi yang diusung dalam pemilu legislatif dan pilkada menjadikan pe­mi­lih milenial sebagai target uta­ma pendulang suara.

Untuk meraup banyak suara dari pemi­lih milenial, banyak politisi di Lubuk Basung melancarkan berbagai program ko­mu­ni­kasi dalam mendekatkan diri me­reka dengan pemilih mi­le­nial.

Katakanlah itu beberapa politisi sudah mulai terang-terangan mendatangi acara-acara anak muda, memampangkan wajah di spanduk-spanduk keolahragaan, membranding diri di media sosial dan media massa, serta lain sebagainya.

Partai-partai politik pengusung juga tidak ketinggalan, bahkan ada satu partai baru yang menisbatkan dirinya sebagai partai berbasis pada suara generasi milenial.

Namun ternyata, membangun kedekatan dengan pemilih mi­le­nial bukanlah perkara mudah. Sebab, stigma yang melekat pada me­re­ka cenderung apolitis. Bahkan ada ang­gapan bahwa politik bu­kanlah dunia mereka, politik ada­lah “mainan” orang tua. Sebab itu, mereka cen­de­rung memilih untuk cuek dengan berbagai hiruk-pikuk proses politik yang terjadi di Lubuk Basung.

Salah satu karakter yang menonjol dari generasi milenial adalah mereka tidak memiliki loyalitas yang tinggi terhadap institusi termasuk partai dan mereka tidak mudah tunduk dan patuh terhadap garis instruksi. 

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Alvara Re­search Center (2016) me­nye­but­kan pemilih milenial se­ba­gi­an besar masuk dalam kate­go­ri swing voters atau pemilih galau dan apathetic voters atau pemilih cuek.

Mentarget pemilih milenial menjadi mesin pendulang suara memang susah-susah gampang, pemilih milenial secara jumlah sangatlah besar, namun karakternya yang susah ditebak dan cenderung apolitis sehingga membuat mereka susah didekati oleh partai politik ataupun politisi. 

Pemetaan elektabilitas partai berdasarkan usia yang dilakukan oleh Alvara Research Center akhir tahun 2016 menunjukkan pemilih milenial yang berusia 17 – 25 tahun belum terikat dengan satu partai manapun, mereka ketika ditanya memilih partai apa? Masih banyak yang belum memutuskan.

Di Lubuk Basung, meski sudah ada politisi dan partai yang mulai mencuri perhatian pemilih milenial, tapi dalam hemat penulis belum ada satu pun yang bertindak lebih subs­tan­sial tentang apa program dan tawaran yang mampu men­­jawab harapan dan ke­bu­tuh­an generasi milenial. Da­lam bahasa lain para politisi ma­sih menjadikan generasi mi­le­nial sebagai objek, belum men­jadi subjek politik. Hal itu bisa ditelisik melalui iven-iven kepemudaan, baik dalam bidang olahraga, kesenian, minat dan bakat, yang menjamur menjelang masa-masa kampanye dan pemungutan suara.

Padahal, dalam hemat penulis yang notabene pemuda Lubuk Basung, de­ngan segala potensi yang ada, generasi milenial di Lubuk Basung sudah me­miliki kemampuan dan ka­pa­bi­litas mumpuni untuk men­jadi pelaku utama dalam pen­tas perpolitikan daerah. Generasi muda bukan lagi kayu bakar, yang dipaksa memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) supaya bisa dipungut suaranya.

Lalu apa sebenarnya permasalahan urgen kaum muda di Lubuk Basung?

Setidaknya penulis mencatat ada tiga sektor yang perlu dibenahi untuk menjawab permasalahan kaum muda di Lubuk Basung. Sektor pendidikan, eko­no­mi, dan ketenagakerjaan ada­lah tiga isu utama menjadi po­kok persoalan yang dihadapi ge­ne­rasi muda di Lubuk Basung. 

Sektor pen­di­dikan dihadapi terutama oleh gene­rasi milenial yang masih duduk di bangku sekolah atau kuliah. Bagai­ma­na anak-anak milenial ini bisa menda­patkan akses pen­di­­dikan ber­kua­litas guna men­ja­wab tan­tangan masa depan mereka yang semakin tidak mudah. Mirisnya lagi, di Lubuk Basung yang notabene ibukota kabupaten, nyaris tak mempunyai Perguruan Tinggi. Ada satu sekolah tinggi kesehatan di Lubuk Basung, namun keberadaannya nyaris tidak jelas, sebab posisinya yang berpindah-pindah, beruntung ada RSUD di Lubuk Basung, sehingga keberadaan sekolah tinggi ini menjadi penting.

Lubuk Basung adalah daerah ramai namun tidak bergairah untuk kebangkitan perekonomian kreatif kaum muda. Nyaris tak ada kaum muda yang menjalani usaha franchise berbasis jaringan internet di Lubuk Basung. Jika pun ada, umurnya hanya sebentar, sebab tak mendapat banyak sokongan.

Perlu disadari para politisi di Lubuk Basung, selain tuntutan untuk be­kerja, gairah generasi milenial untuk berwirausaha sangat ting­gi. Survei yang dilakukan Alva­ra Research Center pada Sep­tember 2017 terhadap ma­ha­siswa dan pelajar SMA me­nyebutkan, cita-cita mereka setelah lulus paling besar ada­­lah ingin menjadi entre­pre­neur. Ini sejalan dengan tren yang terjadi sekarang de­ngan tum­buh­nya startup-startup baru yang didominasi anak-anak muda. Gairah wi­rausahawan muda ini perlu di­bantu dan di­fasilitasi agar usa­ha mereka lebih maju. Akses terhadap mo­dal, akses ter­hadap pasar, dan akses ter­hadap sumber daya manusia adalah tiga hal yang sangat mereka butuhkan.

Selanjutnya, sektor tenaga kerja juga men­­jadi persoalan kunci yang di­­hadapi generasi milenial di Lubuk Basung. Me­reka dihadapkan pada tun­tut­an perkembangan skill dan kompetensi baru yang tidak dihadapi generasi sebelumnya. 

Data science, social network analy­sis, computer programing ada­lah kompetensi yang ba­nyak dibutuhkan di dunia kerja sekarang ini. Hadirnya revolusi industri keempat, seba­gai­ma­na ditulis dalam laporan The Future of Jobs yang dike­luar­kan World Economic Forum tahun 2016 menyebutkan, tren artificial intelligence, mac­hi­ne learning, robotics, nano­tech­nology, 3D printing, genetics and biotechnology akan me­rom­bak total kebutuhan tenaga kerja di masa mendatang. 

Lalu bagaimana usaha untuk menyalurkan potensi sarjana-sarjana terbaik untuk berkiprah di kampung sendiri? Pertanyaannya, sudahkan hal ini disadari oleh pejabat dan politisi di Lubuk Basung?

Karena itu, kembali kita pada ko­n­testasi politik beberapa tahun kedepan, pen­ting bagi setiap partai politik dan politisi ikut mem­be­ri­kan solusi terhadap berbagai per­soalan yang dihadapi gene­ra­si muda di Lubuk Basung, terutama terkait sek­tor pendidikan, ekonomi, dan ketenagakerjaan. 

Sebab mengapa? Perlu disadari oleh para politisi, generasi milenial inilah yang akan menjadi aktor utama bo­nus demografi mendatang. 

Bila hal ini disadari dengan baik, maka akan menjadi kon­tribusi nyata bagi partai politik dan politisi terhadap setiap po­tensi generasi muda yang ada di Lubuk Basung. Mampukah? Silakan dijawab sendiri.

***
Ditulis oleh Depitriadi
(Founder lubas.web.id / Alumni Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Andalas)