Manggaro, Instalasi Pengusir Burung di Lubuk Basung

- 6:58 am
Bila padi sudah mulai terlihat bulirnya, dan jika musim burung (pipit) tiba, para petani di Lubuk Basung biasanya akan memasang instalasi pengusir burung di sawah mereka. Bentuk instalasinya pun bermacam-macam, katakanlah itu seperti orang-orangan sawah, gantungan kaleng, seng, plastik, dan lain sebagainya. Benda-benda ini ditancap di tiang bambu atau kayu, terhubung dengan tali yang mudah untuk ditarik dari satu titik.
Padi menguning/Irma Ardiansih

Di Lubuk Basung, dan di Sumatera Barat secara umum, aktivitas ini disebut manggaro. Pada masa sekarang, untuk mengatasi burung yang menjadi hama padi ini sudah beragam, baik itu menggunakan jaring yang mengatapi sawah ataupun teknologi kreatif lainnya. 

Kali ini tim lubas.web.id bakal mengajak sidang pembaca sekalian menengok aktifitas yang sudah ada sejak zaman dahulu tersebut. Selamat menikmati.

Sore itu (2/2) cuaca di Lubuk Basung tampak sangat cerah. Tim lubas.web.id berjalan menelusuri tiap-tiap pematang sawah. Hembusan angin sepoi-sepoi menghempas lembut di wajah, sementara pohon-pohon rindang mengeluarkan suara gemericik karena ranting yang saling bergesekan. Tentu saja, adatnya di sawah, suara air mengalir terdengar lembut mengalun, sungguh indah anugerah yang maha kuasa, begitu sempurna ciptaan-Nya. 

Tim lubas.web.id sampai di sebuah hamparan sawah yang tampak sudah menguning. Maksud kedatangan kami ke sawah bukan untuk berleha-leha, tapi untuk melihat aktifitas manggaro.

Penduduk di Lubuk Basung, umumnya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Tidak hanya bersawah, petani di Lubuk Basung ada juga yang berkebun, seperti menanam sawit, cabai, pariyo, kacang-kacangan seperti kacang kedelai, kacang tanah, dan juga jagung.

Hebatnya lagi, selain bertani, mata pencarian beberapa warga di Lubuk Basung adalah mengumpulkan buah pinang yang kemudian dijual. Pinang yang dijual adalah pinang tua yang sudah dipisahkan dari kulitnya.

Seperti biasa, saat liburan tiba, Asih (tim lubas.web.id) selalu ditunggu oleh padi-padi yang mulai menguning. Asih begitu bersyukur menjadi gadih rang Lubuak Basuang, sebab walau terik dan panasnya matahari, gadis lubuk basung tak akan  pernah mengeluh ketika diminta pergi ke sawah untuk membantu ayah dan ibunda.

Tidak hanya padi milik Asih yang menguning, semua padi di kawasan itu sudah tampak menguning, sebab di Lubuk Basung biasanya petani menanam padi secara serentak agar saat masanya manggaro tiba mereka tidak terlalu repot untuk menghalau burung yang ribuan itu.

Padi di Lubuk Basung biasanya menguning tiga bulan sekali dan dalam setahun biasanya para petani bisa memanen padi sekitar 3 kali, dan tidak boleh lebih. Sebab selain mengganggu masa panen, juga akan mengakibatkan kerusakan pada padi tersebut.

Asih begitu menikmati hari-hari di sawah. Ia bersemangat manggaro unggeh atau mengusir hama burung yang memakan padi yang mulai menguning. Di sawah milik Asih, juga telah terpasang instalasi pengusir burung. Tentunya buatan tangan sendiri.

Di Lubuk Basung, para petani tidak menghalau hama burung dengan melemparnya dengan batu. Biasanya mereka membuat sebuah juek-juek atau sebuah tali yang dibentangkan dari pondok ke tepi sawah dengan diberi kaleng susu yang berisi batu sehingga saat ditarik talinya, maka kaleng yang berisi batu tadi akan berbunyi. 

Selain membuat juek-juek meraka juga membentangkan jaring di sekitar padi sehingga saat burung diusir maka burung-burung tadi akan tersangkut di jaring-jaring tersebut. 

Selain menghalau burung, aktifitas manggaro juga menjadi ajang berkumpul dengan petani lainnya. 

Bagaimana, seru bukan aktifitas masyarakat Lubuk Basung? Jadi kapan ke Lubuk Basung? 

***
Ditulis Oleh Irma Ardiansih
(Putri asal Manggopoh, saat ini tercatat sebagai mahasiswi UIN Imam Bonjol-Padang)