Di Lubuk Basung Ada Jalan yang Diberi Nama Cindua Mato, Lalu Siapa Sebenarnya Cindua Mato itu?

- 10:20 am

Di Lubuk Basung, tepatnya di salah satu ruas jalan di Balai Ahad Kanagarian Lubuk  Basung terdapat jalan yang bernama Jalan Cindua Mato. Lantas kita sebagai generasi muda tentu bertanya-tanya apa atau siapa Cindua Mato itu? Nah, biar tidak penasaran silakan simak penjelasan dan kisah berikut ini.
Ilustrasi via DeviantArt

Cindua Mato adalah cerita rakyat asal Tanah Datar. Ceritanya memiliki latar wilayah dan kerjaan Pagaruyuang. Intrik seputar kekuasaan kerajaan Minang tempo dulu, seperti kisah Cindua Mato menjadi salah satu cerita yang paling sering dibawakan dalam penokohan randai. Selain untuk hiburan, hal tersebut bertujuan untuk menuturkan sejarah dalam cerita kaba dan tambo minangabau.

Sinopsis

Cindua Mato dan Dang Tuangku adalah dua sahabat yang tumbuh bersamaan. Dang Tuangku adalah putra pewaris kerajaan Pagaruyuang, sedangkan Cindua mato tumbuh menjadi kesatria yang kelak menjadi hulubalang di kerajaan sekondannya tersebut.

Beranjak dewasa, keduanya tumbuh menjadi pemuda yang tangguh dan gemar bermain di gelangang. Suatu ketika, keduanya hadir di gelanggang perhelatan Datuk Bandaro. Dang Tuangku hadir mewakili Bundo Kanduang , yang memimipin kerajaan Pagaruyuang masa itu. Saat Dang Tuangku tengah bertemu dengan yang punya helat, Cindua Mato mendengar berita miring tentang tunangan tuannya (Dang Tuangku) akan dipersunting oleh Imbang Jayo.

Dang Tuangku bukan tak mendengar bisik-bisik di gelanggang, Ia pulang dengan marah memuncak. Kabar itu ternyata benar adanya, setelah Bundo Kanduang menerima undangan kenduri Imbang Jayo dan Putri Bungsu, tunangannya.

Cindua Mato kemudian diutus Bundo Kanduang untuk mengantarkan seserahan dan hadiah pernikahan, mengingat anaknya Dang Tuangku tentu tidak mungkin bisa mengantarkan hadiah untuk pernikahan tunangannya sendiri. Dengan berat hati Cindua Mato menaati perintah kerajaan, Ia tak sampai hati akan nasib mandan-nya, Dang Tuangku.

Sampai di pesta pernikahan, Cindua Mato menggunakan ilmunya dan memanipulasi cuaca. Terjadialah badai besar membawa hujan lebat sehingga membanjiri perhelatan tersebut. Momen tersebut digunakan Cindua Mato untuk menculik Putri Bungsu, kemudian dibawa lari ke Pagaruyung.

Tindakan Cindua Mato tentu mengundang peperangan. Benar saja, kemudian Imbang Jayo dan pasukannya datang mengepung Pagaruyuang. Dang Tuangku, yang merencanakan penculikan dari awal pun sudah siap menunggu pasukan perang tersebut.

Terjadilah peperangan antara dua kerajaan tersebut. Singkat cerita, Imbang Jayo tewas dalam gencatan senjata tersebut. Kemudian untuk sama-sama meenghindari pertumpahan darah, peperangan akan digantikan dengan duel oleh pendekar masing-masing pihak. Jadilah kemudian Cindua Mato mewakili kerajaan Pagauyuang berhadapan dengan Tiang Bungkuak.

Naas, kemudian Cindua Mato kalah. Ia harus membayar mahal kekalahannya, Ia kemudian diseret menjadi budak Tiang Bungkuak, Pagaruyuang dibakar habis rata dengan tanah, Dang Tuangku dan Bundo Kanduang lari dari Pagaruyuang.

Menjadi budak ternyata adalah salah satu trik Cindua Mato. Ia sebenarnya ingin mengetahui kelemahan tuannya, Tiang Bungkuak. Benar saja, kemudian, dengan bantuan air sirih penanya, diketahui bahwa satu-satunya senjata yang bisa melukai Tiang Bungkuak adalah keris milik tuannya tersebut.

Saat tuanya tidur, cindua mato mencuri keris tersebut. Kemudian menghabisi nyawa Tiang Bungkuak dalam sebuah duel. Kematian Tiang Bungkuak membebaskan status budak yang melekat pada dirinya, sehingga ia bisa kembali ke kerajaan Pagaruyuang.

Antara Fakta dan Legenda

Menurut penelitian sejarah, cerita Cindua Mato mengambil inspirasi setingan keadaan kerajaan Pagaruyuang abad 15. Dimana pada masa itu, kerajaan Pagaruyuang sedang bergolak akibat perubahan paham Hindu Budha menjadi akidah Islam.

Dijelaskan bahwa serangan kerajaan timur ke Pagaruyuang mendesak raja untuk menghindar ke wilayah tengara (Kesultanan Inderapura). Menurut masyarakat sekitar, disana ada makam Bundo Kanduang dan Dang Tuangku. Bahkan dipercaya keturunan mereka masih ada sampai sekarang.

Pesan Moral

Cindua Mato diceritakan hanya sebagai hulubalang, namun dengan kecerdasan, kelihaiannya ia bisa menjadi tokoh utama dalam cerita tersebut. Berkat kecerdikannya ia bisa mengalahkan musuhnya. Kecerdikannya diwakilkan dalam pepatah minang.

Ilak salangkah, untuak maju saribu langkah’
(mengelak-mundur selangkah untuk bisa maju seribu langkah)

Itulah salah satu versi dari kisah Cindua Mato, yang sebenarnya masih ada versi lain, sesuai dengan penuturan di daerah masing-masing. Setidaknya kisah di atas sedikit memperkenalkan kita pada sosok Cindua Mato. Barangkali pesan moral Ilak salangkah, untuak maju saribu langkah menjadi salah satu alasan mengapa kisah Cindua Mato diabadikan menjadi nama jalan di Lubuk Basuang. Allahuwalam.

Jika teman-teman punya versi cerita yang berbeda silakan kirim tulisan teman-teman ke redaksi.esbece@gmail.com. Tulisan teman-teman pasti akan direspon. Salam kompak selalu.