Generasi Lubas, Ini Pengorbanan Ayah yang Selama ini Jarang Kita Sadari

- 7:02 am
Selain sosok ibu yang memiliki cinta serta kasih sayang yang besar untuk anak-anaknya, tentunya di balik itu semua ada seorang ayah yang rela berkorban dan berjuang untuk membiayai dan menghidupi anak-anaknya. Ayah merupakan pria tangguh dan hebat untuk anak dan keluarganya. Ayah merupakan pria yang tidak pernah kenal lelah. Ayah merupakan pria yang selalu berusaha untuk memberikan semua yang terbaik untuk anak-anaknya. Ayah rela mempertaruhkan segalanya demi sang anak. Seorang ayah rela menerjang bahaya dan rintangan hanya untuk sang anak. Tidak peduli dirinya sakit atau susah, yang terpenting anak yang disayanginya bisa bahagia dan mendapatkan segala yang terbaik dalam hidupnya.

Ayah merupakan pria yang paling ingin melihat anaknya bahagia. Oleh sebab itulah ayah akan melakukan segala cara untuk membahagiakan anak-anaknya. Ayah akan berjuang demi kesuksesan sang anak. Ayah akan bekerja keras demi untuk mewujudkan impian dan cita-cita anaknya.

Berikut ini potret perjuangan sang ayah yang kerap kali tidak kita sadari. Apa saja itu?

Saat keinginan kita merantau untuk kuliah begitu kuat, sang ayah mendukungmu meski artinya ia harus bekerja dua kali lipat

Foto via erabaru.net

Menuntut ilmu jauh dari rumah seakan menjadi tantangan tersendiri. Apalagi perguruan tinggi yang populer. Rasanya ingin sekali kuliah di sana, meski harus menempuh perjalanan jauh. Ketika kita mengutarakan keinginan itu, orang tua kita tentu saja setuju dan mendukung. Tapi banyak di antara kita yang tidak menyadari satu hal. Bahwa terkadang orang tua kita tidak memiliki tabungan untuk biaya pendidikan kita. Tapi orang tua kita lebih mengedepankan keinginan kita, meski artinya mereka harus bekerja lebih keras, menghemat dua kali lipat, agar pendidikan kita bisa lancar di tanah perantauan.

Agar tak membuat kita khawatir, ayah selalu bilang ia baik-baik saja, meski ada penyakit yang disembunyikannya

Sebagai kepala keluarga, ayah ingin terlihat tangguh di depan istri dan anak-anaknya. Ayah tidak ingin membuat keluarganya khawatir akan dirinya. Karena ia merasa memiliki tanggung jawab untuk membuat kehidupan keluarganya baik-baik saja. Meski terkadang harus berbohong. Ketika ia merasakan sakit, ia tidak ingin hal tersebut membuat kita atau ibu kita khawatir. Ia lebih memilih untuk menyembunyikannya dan mengatakan kalau ia baik-baik saja. Pun kalau terlihat, ia hanya bilang sakitnya ringan, besok pasti sembuh. Padahal mungkin saja ia menderita karena penyakit itu.

Diam-diam ia mencari pinjaman untuk memenuhi keinginan kita yang mau tak mau ingin ia wujudkan

Tidak semua kita seberuntung orang lain yang tinggal minta uang kapanpun dan berapapun akan langsung dikasih. Sebagian orang tua kita harus berusaha dulu, membanting tulang, sehingga bisa memenuhi kebutuhan hidup. Justru di sanalah letak keberuntungan kita. Memiliki ayah yang mau mengusahakan agar kebutuhan anak istrinya terpenuhi. Bahkan ketika itu hanyalah keinginan kita, bukan kebutuhan kita. Agar tak membuat kita kecewa, ayah diam-diam mencari pinjaman dan mengabaikan malu atau gengsinya. Karena apa? Demi memenuhi keinginan yang terkadang kita paksakan melebihi kemampuan.

Ayah lebih mengutamakan kamu memakai mantel saat hujan, meski ia harus basah kuyup menerobos jalanan

Masa-masa sekolah, apalagi saat momen penting seperti ujian, tak jarang ayah memberikan perhatian lebih pada kita. Misalnya saja selalu mengantar jemput kita agar tidak terlambat dan bisa fokus pada ujian. Sebagian ada yang pakai mobil tapi tidak sedikit yang pakai motor. Keduanya sama-sama membuat kita sampai ke sekolah dengan aman. Tapi yang jadi masalah ketika hujan turun dengan derasnya. Apalagi turun ketika sudah di perjalanan. Agar anaknya tidak basah kuyup, ayah kita lebih mengutamakan anaknya yang menggunakan jas hujan, meski ia yang mengendarai motor dalam derasnya hujan. Meski terlihat sederhana dan biasa, ini adalah bukti bagaimana ayah menomorsatukan kita dibanding dirinya sendiri.

Masih menggunakan bajunya yang lusuh dan bolong agar kita bisa beli baju baru yang kekinian

“Ayah kenapa sih pakai bajunya ini terus? Udah pudar tau, ada bolong-bolongnya lagi”

“Nggak papa, ini baju kesukaan ayah. Nyaman dipakainya”

Pernah melakukan percakapan seperti itu dengan ayah kita? Apakah kita percaya seratus persen kalau memang itu alasan kenapa ayah kita masih menggunakan bajunya yang lusuh? Itu semua bisa jadi karena ia lebih mementingkan memenuhi kebutuhan kita terlebih dahulu. Ia ingin anaknya tampil dengan baju yang bagus dan baru. Melihat anaknya yang senang karena bisa membeli baju yang ia inginkan udah cukup bikin ayah kita juga bahagia.

Meski pengorbanannya berbeda dengan ibu, tapi apa yang ayah usahakan untuk keluarganya juga sangat besar. Hanya saja, ayah lebih pintar menutupi pengorbanannya itu. 

Atau mungkin karena kita yang menganggap hal itu biasa. Dengan semua pengorbanannya itu, masihkah kita membuat sedih atau bahkan menyakiti hati ayah? Pikirkan kembali.