Ini Alasan Kenapa Sarjana Terbaik Adalah Mereka yang Pulang ke Lubuk Basung dan Membuat Perubahan

- 10:01 am
Satu yang tidak bisa kita mungkiri setelah lulus dan menyandang gelar sarjana adalah anggapan bahwa merantau adalah sebaik-baiknya pilihan. Ke rantau kita menanam harapan agar mendapatkan karir yang mapan di kota-kota besar. Memang benar kemapanan seringkali membuat kita mengabaikan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Padahal, sebagai seorang sarjana tentu kita bisa memilih keputusan yang berbeda dari orang-orang pada umumnya, seperti pulang ke kampung halaman misalnya. Meskipun mendengar pernyataan ini mungkin akan membuat beberapa dari kita mengerutkan dahi, tapi inilah alasan-alasan yang barang kali akan meyakinkanmu. Bahwa sarjana yang pulang ke kampung halaman dan membuat perubahan adalah sarjana yang terbaik.
Foto via metro.tempo.co

Tanah perantauan ibarat satu-satunya tujuan. Tak bisa dipungkiri, sarjana yang memilih pergi memang rata-rata berhasil meraih kesuksesan. Sebab “Di kampung tidak ada apa-apa. Kalau mau sukses ya merantau saja.”

Kalimat itu barangkali sudah sangat sering kita dengar. Entah dari orang tua, saudara yang lebih tua, atau teman seangkatan misalnya. Mereka menyarankan agar kita lebih baik merantau saja setelah lulus dan jadi sarjana.

Alasannya, tentu saja karena kampung halaman atau desa tempat tinggal kita tidak menawarkan apa-apa. Minimnya lapangan kerja dan Upah Minimum yang rendah biasanya jadi alasan utama. Toh, orang-orang yang dari tempat asal kita lebih dahulu merantau pun sudah membuktikan. Bahwa merantau ibarat “pintu” yang mengantarkan mereka pada kesuksesan.

Memang benar di perantauan kita akan menemukan hal-hal baru. Keluar dari zona nyaman membuat diri kita semakin mandiri.

Selain bayangan kesuksesan yang ditawarkan, perantauan boleh dibilang sebagai tempat penempaan. Ya, pergi merantau berarti keluar dari zona nyaman. Kita akan menjalani kehidupan baru dengan lingkungan dan orang-orang yang baru pula.

Di tempat perantauan, kita pasti akan berusaha mati-matian untuk menyesuaikan diri. Mulai dari mengenali lingkungan tempat tinggal, berusaha menyesuaikan diri dengan rekan-rekan kerja, mengakrabi makanan yang mungkin rasanya berbeda hingga belajar cara-cara berhemat di tanah perantauan.

Memang tak bisa dipungkiri, perantauan membuat kita keluar dari zona nyaman. Menjauh dari bantuan keluarga dan segala yang sudah kita punya di tempat asal. Tapi, tinggal di perantauan juga bukannya tanpa hambatan. Toh, harapan-harapan yang kita punya juga belum tentu jadi kenyataan.

Kita tentu berharap bisa mendapat pekerjaan yang mapan di perantauan. Sayangnya, hal itu belum tentu jadi kenyataan karena banyaknya pesaing yang juga menginginkan hal yang sama dengan kita. Yang pasti, ketatnya persaingan untuk mendapat pekerjaan adalah yang tak mungkin kita hindari. Selain biaya hidup yang tinggi, kehilangan waktu bersama orang-orang yang kita cintai misalnya keluarga juga jadi resikonya.

Dan jauh dari hingar-bingar kota perantauan, ada kampung halaman yang sebenarnya berharap diperhatikan.


Sebagian dari kita Barangkali tak seberapa perhatian dengan kondisi di tempat asal kita. Bahwa ada sekolah-sekolah yang sebenarnya kekurangan tenaga pengajar, dan ada anak-anak yang tak mendapat fasilitas belajar mengajar yang layak.

Di desa atau kampung tempat asal kita, mungkin ada pula sekelompok warga yang menganggur. Tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarganya karena di PHK dan tak punya kemampuan untuk berwirausaha. Ada pula kelompok petani yang mungkin sering gagal panen karena minimnya pengetahuan.

Nah, dalam kondisi-kondisi itulah sebenarnya para sarjana seharusnya mengambil peran. Sarjana pendidikan, pertanian, ekonomi, atau apapun jurusan yang kita ambil pastilah bisa memberi kontribusi. Ilmu yang didapat di bangku kuliah sepatutnya bisa benar-benar berguna dalam kehidupan yang nyata.

Kampung halaman selayaknya tak begitu saja ditinggalkan. Justru para sarjana sepatutnya pulang dan membuat perubahan.

Yup! Pendidikan adalah senjata yang paling ampuh, yang dapat kita gunakan untuk mengubah dunia termasuk mengubah kampung halaman kita menjadi lebih maju. Sebagai sarjana tentu kita memiliki bekal pendidikan itu, yang rasanya sayang sekali jika tak bisa membawa manfaat bagi orang-orang di sekitar kita.

Terlebih, alangkah baiknya jika arus urbanisasi semakin dikurangi. Jangan biarkan anak-anak muda, khususnya yang tak memiliki ketrampilan dibiarkan merantau dan terlunta-lunta di kota. Orang-orang harus percaya bahwa kampung halaman pastilah punya potensi menyejahterakan warganya selama kita tahu cara mengelolanya.

Anggapan bahwa “pulang ke kampung halaman adalah sesuatu yang tabu” itu keliru. Justru kita yang memilih pulang adalah seorang pemberani – yang tak hanya memikirkan diri sendiri.

Tak bisa dimungkiri, sarjana yang memilih pulang ke kampung halaman seringkali justru mendapat penilaian yang negatif. Dianggap tidak mampu berjuang, bahkan lebih parah lagi yaitu dianggap sudah gagal di tanah perantauan. Akibatnya, tak sedikit sarjana yang enggan pulang lantaran anggapan-anggapan miring tersebut.

Tapi bukankah anggapan semacam itu justru sebenarnya keliru? Tidak ada jaminan bahwa sarjana yang merantau itu sukses dan yang memilih kembali ke kampung halaman itu berarti sudah gagal.

Justru kita yang berani pulang adalah sarjana-sarjana terbaik. Kita yang berani melawan anggapan umum bahwa kesuksesan hanya bisa didapat di perantauan. Kita yang sebenarnya sudah berbesar hati lantaran tak mau memikirkan diri sendiri, tapi juga memikirkan tanah kelahiran yang kita cintai.

Tapi sekali lagi, pilihan tetap ada di tangan teman-teman semua. Mantap merantau atau kembali kampung halaman itu mutlak pilihan teman-teman. Yang pasti, berusahalah untuk selalu membawa kebaikan dan manfaat dimana pun tempat yang teman-teman tuju.

Merantau atau pulang ke kampung halaman, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Sebagai seorang individu, jelas kita berhak menentukan pilihan kita sendiri. Toh, memilih merantau juga bukan berarti kita tidak bisa memberi kontribusi pada tanah kelahiran kita sendiri.

Ada banyak cara supaya kita bisa ikut serta memajukan desa atau kampung halaman kita tanpa harus menetap di sana. Tapi jika “pulang” adalah yang menjadi panggilan hati, tentu kita pun tak perlu ragu. Yakinlah bahwa kesuksesan itu akan datang selama kita punya niat dan tekad untuk berbuat kebaikan.

Jangan bimbang menentukan masa depan. Setelah lulus dan menyandang gelar sarjana, mungkin keputusan terbaik adalah pulang untuk membuat perubahan dan membangun kampung halaman.

Selamat Datang di Lubuk Basung, kampung ini membutuhkanmu kawan!