Kenangan Masa SD yang Tak Terlupakan Oleh Generasi Lubas Zaman Old

- 7:01 am
Berbicara kenangan semasa Sekolah Dasar memang tidak ada habis-habisnya. Selain yang terangkum di artikel ini, masih banyak kenangan lainnya yang belum sempat dibicarakan namun juga tidak kalah berkesan buat generasi Lubuk Basung zaman 80-90an. Memutar kembali kenangan semasa SD selalu mampu menghibur hati kita yang tengah dirundung galau. Dengan ini, kita jadi menyadari: walau sekarang sudah dewasa, ternyata kita pernah polos dan jadi anak-anak juga, ya?

Selain pelajaran menulis halus kasar yang bikin tangan kita pegal dan suntik imunisasi yang bikin deg-degan, kenangan-kenangan di bawah ini juga tak terlupakan buat anak SD generasi 80-90an. 

Masih ingatkah anda saat mereka membuat masa kecilmu berwarna?

Masuk tahun ajaran baru harus dengan tas dan sepatu yang juga baru. Padahal, perlengkapan yang lama juga sebenarnya masih baik-baik saja
semua serba baru via konveksi-seragamsekolah.blogspot.com

Waktu masih SD dulu, kita pasti meminta dibelikan seragam, tas, sepatu, buku dan alat tulis yang serba baru setiap kenaikan kelas. Padahal tak jarang, barang-barang kita yang lama sebenarnya masih baik-baik saja dan tidak perlu diganti. Tapi kita tetap meminta, karena tidak pingin kalah keren dari teman-teman sekelas. Namanya juga anak-anak.

Zaman sekarang cukup berbeda, karena meski masih ada anak SD yang mengganti tas dan sepatu mereka setiap tahun, banyak juga yang tidak. Mungkin karena ada HP, tab, dan berbagai macam gadget yang hari gini lebih cocok buat dipamerkan?

Sayang ya! Anak-anak SD zaman sekarang jadi gak tahu deh serunya saling injak sepatu baru di hari pertama sekolah.

Ada lagi sih perbedaan lainnya antara generasi 80-90an dan anak SD zaman sekarang. Zaman kita dulu, belum ada inisiatif massal dari para orangtua untuk mengantar anak mereka di hari pertama. Sekarang, justru orangtua berlomba-lomba selfie dan mengungkapkan rasa bangga bisa ngantar anak ke sekolah.

Belum ada juga ajakan seperti ini di media sosial:

Tahun ’90-an dulu mana ada beginian? via kemdikbud.go.id

Adik-adik, zaman kami dulu tidak ada infografis unyu kayak gini dari pemerintah. Adanya kami disuruh hafalin butir-butir Pancasila sama Kepala Sekolah. Kamu yang sekarang sudah lebih enak, yang rajin dan pintar-pintar ya di sekolah!

Alat tulis anak-anak sekarang unyu dan mahal-mahal. Dulu sih kita sudah senang dengan alat tulis yang seadanya

pengahapus negara-negara yang bikin nosatalgia via s-media-cache-ak0.pinimg.com

Kalau sekarang kita main ke toko buku, pasti ketemu alat tulis dengan desain yang lucu dan macam-macam. Beda dengan zaman kita dulu. Buat generasi 80-90an, yang namanya alat tulis ya penampakannya gitu-gitu aja:

penghapus : pasti alfabet dari A-Z kalau tidak bendera kayak di gambar atas

pensil : warnanya pasti merah-hitam. Khusus pensil 2B warnanya biru

rautan : bulat, ada kacanya. Sering ditaruh di atas sepatu buat ngintip isi rok anak-anak cewek. Aduhhh.

Buku tulis aja sampulnya cokelat terus kertasnya garis tiga.

Dulu gak ada media sosial. Kita curhat dan saling komentar lewat diary atau orgy

Tidak ada media sosial, jadi dulu kalau mau curhat di mana dong? Mana lagi kalau bukan diary atau orgy! Lucunya, walau banyak hal pribadi tertulis di buku ini, kita tetap dengan senang hati menyebarkannya ke seluruh kelas. Setiap anak kelas bisa ikut menulis di diary/orgy yang kita punyai.

Biasanya kita juga punya binder yang mengkoleksi kertas-kertas lucu. Tapi ada juga kertas warna putih yang bisa diisi biodata teman-teman kita. Kolomnya lucu-lucu lho, ada ‘makanan favorit’, ‘minuman favorit’, ada juga ‘moto hidup’.

Nama : Sandy Irawan

Moto hidup: Asal Kau Bahagia!

Generasi kita gak akan lupa sama inspeksi kuku tiap pagi. Anak-anak disuruh baris dan yang kukunya panjang… gak boleh masuk kelas!

“Iiih, kukunya panjang-panjang! Cepat dipotong, nanti ketahuan Bu Guru lho!”

Inspeksi kuku setiap pagi adalah momok buat anak-anak generasi 80-90an. Maklum, kalau kukumu tidak rapi atau panjang-panjang, jangan harap boleh masuk kelas! Ada juga lho anak 80-90an yang telapak tangannya dipukul karena kuku yang kotor atau panjang-panjang. Hayo, mana nih yang dulu pernah dipukul pakai penggaris kayu sama Bu Guru? Hehe

Kita juga sudah mulai mengenal cinta. Tapi entah kenapa, kita malah sering jutek atau jahil ke anak yang kita taksir

Entah apa yang ada di pikiran anak-anak SD. Suka sama temannya, eh temannya malah dijudesin atau dikerjain sampai nangis. Yah, tapi namanya juga anak SD, kita pun gengsi buat minta maaf. Sampai akhirnya perasaan itu dipendam terus dan lama-lama ilang. Move on deh!

Ah, seandainya cinta bisa sesederhana ini…

Permainan zaman SD selalu mengasyikkan meski kadang tak masuk akal. Contohnya, permainan meramal jumlah anak dari pergelangan tangan

 “Nanti kamu anaknya 2! Kalau kamu anaknya 3!”

“Ih, kok tau?”

“Tau dong… Liat aja tanganmu!”

Entah gimana logikanya, kita percaya jumlah anak bisa diramal lewat pergelangan tangan. Tidak ada yang protes, semua senang dengan hasil ramalan. Kalau ada yang tidak senang ya hasil ramalannya tinggal diubah — gampang!

Waktu SD dulu, permainan apapun memang terasa mengasyikkan. Bahkan walaupun itu tak masuk akal, seperti meramal anak dan tebak-tebakan apakah kamu masuk surga atau neraka.

Duduk yang rapi biar bisa cepat pulang!

Bapak-Ibu Guru selalu punya jurus jitu untuk membuat kita tertib dan rapi. Mau seribut apapun, dalam sedetik akan berubah… jadi tenang (!) begitu Bapak-Ibu Guru bilang, “Hayoo, yang paling rapi boleh pulang duluan…”

Kita langsung duduk tegak dan melipat tangan di depan dada. Suasana tegang sekali karena kita semua sama-sama mau ditunjuk untuk pulang lebih dulu. Nah, yang beruntung ditunjuk duluan boleh berdiri, maju ke meja Bapak/Ibu Guru, salam, lalu pulang deh. Bangga rasanya kalau dianggap paling rapi; bangganya kebawa sampai rumah, deh!

Benar ‘kan, masih banyak sekali kenangan dari masa kita SD dulu? Ah, seandainya kita bisa kembali ke masa riang dan menyenangkan itu.

PS: buat adik-adik yang sekarang masih berseragam merah-putih, semangat belajar ya! Apa yang kamu punya sekarang sudah lebih baik dari zaman kakak-kakak dulu. Kami tidak punya lab komputer, proyektor, dan teknologi lainnya yang sekarang kamu miliki di sekolah. Tidak ada pula waktu khusus buat kami untuk membaca buku non-pelajaran, seperti yang baru saja diperkenalkan bapak menteri yang sekarang. Pun tidak ada ajakan kepada orangtua untuk terlibat lebih aktif dalam pendidikan anak-anaknya.

Nah, kalau kami yang “seadanya” saja bisa sebahagia ini dengan kenangan masa kecil kami, apalagi kamu, jika sudah dewasa nanti?