Calon Anak Daro di Lubuk Basung, Ini Dia Makna Suntiang yang Perlu Diketahui

- 2:26 pm
Salah satu momen yang paling berkesan dalam kehidupan perempuan Minang adalah ketika disuntiang alias menjadi anak daro. Musabab, menyabet gelar sebagai anak daro itu hanya diraih satu kali seumur hidup, walaupun bisa diulang kembali, rasa dan khidmatnya sudah tidak seberkesan yang pertama. Sehingga, memakai suntiang adalah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh Anak Daro di Minangkabau, begitu juga dengan calon anak daro di Lubuk Basung. Nah, kali ini lubas.web.id bakal berbagi pengetahuan kepada calon anak daro di Lubuk Basung mengenai seluk beluk suntiang.
Anak daro memakai suntiang/saribundo

Sacara tersirat suntiang dalam adat Minang merupakan perumpamaan bagi calon anak daro bahwa betapa beratnya tanggungjawab yang akan diemban oleh seorang perempuan Minang setelah menikah nantinya.

Secara tampak mata, suntiang merupakan hiasan yang diletakkan di atas kepala anak daro. Sehingga dengan mengenakan sunting ini makin syahdu pula lah rupa anak daro tersebut.

Suntiang ini memiliki tingkatan lebih dari satu dan jumlahnya harus ganjil. Rata-rata masyarakat Minangkabau menggunakan suntiang sebanyak 7 tingkat untuk hiasan kepala anak daro, tapi ada pula yang lebih. 

Sedangkan tingkatan yang lebih sedikit, misalnya 3 atau 5 tingkat digunakan untuk hiasan kepala pasumandan atau pendamping anak daro, disebut juga sebagai suntiang ketek.

Pada dasarnya ada dua macam suntiang di dalam adat Minang. Ada suntiang tinggi, yang dipakai dalam acara baralek, alias acara pernikahan. Ada juga suntiang yang dipakai dalam acara pengangkatan penghulu. Dalam acara itu para bundo kanduang, perempuan yang berkedudukan tinggi secara adat, sebagian mengenakan suntiang rendah yang lebih sederhana.

Suntiang adalah benda yang penting bagi perempuang Minang, saking pentingnya, suntiang dijaga agar tidak pernah jatuh.

Penyimpanannya pun harus di kotak khusus. Dalam upacara pernikahan, sebelum dipasang suntiang dibawa dengan khidmat oleh seorang perempuan dan diletakkan di awal. Cara memasangnya pun dengan penuh kehati-hatian.

Meski semua masyarakat Minang memang menggunakan suntiang untuk upacara pernikahan secara adat, tetapi tiap daerah di Sumatera Barat memiliki perbedaan-perbedaan tertentu dalam menyusun rangkaian suntiang. 

Misalnya suntiang yang berasal dari Solok dirangkai tanpa kawat. Ada pula suntiang yang sekaligus memiliki mahkota, ini biasanya berasal dari Tanah Datar. Suntiang Kambang asal Pariaman adalah yang paling sering digunakan.

Suntiang terdiri dari berbagai jenis benda yang dihias sedemikian rupa sehingga bisa membentuk satu kesatuan yang indah. Ada bungo sarunai, yang biasa disusun hingga 5 lapis. Kemudian ada bungo gadang yang juga terdiri antara 3-5 lapis. Sedangkan hiasan yang berada paling atas adalah kembang goyang.

Ada pula hiasan yang diatur sehingga tampak jatuh di sebelah kanan dan kiri wajah anak daro. Bagian ini disebut sebagai kote-kote.

Pada masa lalu, suntiang adalah benda yang sangat berat untuk dikenakan di atas kepala, apalagi seorang anak daro harus mengenakannya selama berjam-jam hingga pesta pernikahan selesai. 

Berat sebuah suntiang gadang bisa mencapai 5 kilogram. Tetapi, seiring perkembangannya kini banyak suntiang gadang yang tidak terlalu berat sehingga bisa lebih nyaman ketika dikenakan di atas kepala anak daro.

Dulu, pemakaian suntiang dilakukan dengan cara menancapkan tusuk konde satu persatu ke rambut perempuan. Kini, suntiang sudah dimodifikasi agar bisa dipakai dengan lebih cepat dan praktis.

Nah, itulah sedikit pengetahuan mengenai suntiang yang acap dipasangkan ke kepala anak daro. Semoga calon anak daro di Lubuk Basung memahami suntiang bukan sekadar perhiasan saja, tapi lebih kepada makna yang tersirat dari suntiang tersebut, yakni mengenai beban yang akan dipikul setelah menjadi istri nantinya.