Harimau Penjaga Lubuk Basung, Nasibmu Kini

- 8:30 am
Bak mantan kekasih yang dulu disanjung-sanjung, lalu kini terlupakan, begitulah nasib tiga ekor harimau penjaga Lubuk Basung. Taring kini sudah rapuh, dan badan pun mulai lusuh. Tak ada lagi muda-mudi yang menuntaskan masa kasmaran di hadapan mereka, orang tua renta yang dulu sempat mengobati rematik di sekitaran mereka, kini pun tak sudi menghampiri. Meski sudah tak lagi punya pagar, kumpulan harimau renta itu tak mau menerkam, mereka lebih memilih duduk manis menunggu habis. Sungguh miris.
Harimau yang ingin kembali muda/Depitriadi

Adalah patung harimau yang terdapat di bundaran janction Simpang Tigo di Pusat Ibu Kota Kabupaten Agam Lubuk Basung. Dulu ketika pertama kali tugu itu rampung dibangun, patung harimau tersebut sempat menjadi primadona muda-mudi untuk sekadar swafoto. Tidak sedikit pula warga yang membawa keluarga untuk santai di sore hari. Lebih-lebih ketika malam minggu tiba, aih indah benarlah ketika dulu.

Tidak hanya dijadikan tempat bersantai, tugu yang sering dijuluki masyarakat sebagai tugu harimau tersebut juga dijadikan objek berolah raga, seperti terapi kaki bagi penderita rematik ataupun stroke. 

Amboi benar dulu tempat ini kawan, ramai benar. Bahkan tugu tersebut sempat digadang-gadangkan sebagai ikon lubuk basung. Lalu bagaimana kini?

Malu awak menceritakannya kawan. Tengok saja sendiri kondisinya kalau-kalau nantinya pulang ke kampung kita. Tapi sedikit gambaran, kini tugu kebanggaan kita dulu itu sudah sangat lusuh. Bahkan sepasang sejoli yang tampan dan anggun di puncak tugu kini sudah terserang tumbuhan pucuk paku. Hebat benar paku itu, bisa tumbuh di mana saja.

Coret moret pun tak terhindarkan dari tugu ini. iya benar, itu ulah anak muda kreatif yang tak punya wadah untuk berkreatifitas. Barangkali mereka tidak diperhatikan bapak ibuk di sana. Ah sudahlah, mari kulanjutkan menceritakan nasib si harimau malang.

Aku suka ngeri jika melewati kawasan itu di malam hari, pasalnya sangat sepi sekali, berbeda jauh ketika kita masih remaja dulu. Lebih-lebih kini harimau tersebut tak lagi memiliki pagar, aku takut kalau-kalau dia menerkamku. Kepalang mujur jika aku bisa menghindar.

Kolam sekitaran tugu yang kerap kita percikan airnya itu, kini sudah keruh dan berlunau. 

Entahlah, apa musababnya tugu ini tak lagi diperhatikan. Apakah Lubuk Basung sudah memiliki ikon kota yang baru?

Kupikir Lapangan Kantin ala Lubuk Basung itu yang menjadi perkaranya, orang berbondong-bondong menuju kesana untuk sekadar berolah raga ataupun berolah rasa. Akupun sempat menggalau di sana. Kupikir kompleks GOR Rang Agam itu memang layak untuk dikerubungi. Pantas saja pemerintah gencar membangun kawasan tersebut.

Bisa jadi pemerintah ingin mendekatkan masyarakat dengan para aparatur sipil dengan menjadikan kawasan tersebut sebagai titik kumpul di sore hari. Atau yang berkumpul di sana adalah aparatur sipil yang penat dengan rumitnya kehidupan ini? Ah sudahlah, yang jelas adanya, amak saya tetap ke ladang menanam pela.

Tapi, tak arif juga jika kita mengabaikan si harimau belang. Kalau pun tak lagi dikunjungi, ya setidaknya diurusi saja sudah cukup. Apa tak malu punya ikon (hmmm isi sendiri).

Melalui tulisan fakir ini, saya menitipkan pesan pada stakeholder untuk dapat memperhatikan kembali tugu yang sempat menjadi ikon Lubuk Basung tersebut. Semoga tulisan ini dibaca dan diinap menungkan. Yuk, politisi ini ladang amal lho. Salam.

Ditulis oleh : Depitriadi