Kepada Ibu di Lubuk Basung, Jangan Kutuk Aku Jadi Batu

- 10:46 am
Ibuku adalah ibu yang paling ibu bagiku. Kalau kau tanyai aku, siapa yang paling kujunjung di dunia ini, aku menjawab ibu. Demikian juga hendaknya dengan jawabanmu.
Foto via depitriadi.com

Sudah tiga pekan aku meninggalkan ibu dan ayah. Aku menjemput yang tertinggal di kota orang. Menjadi anak satu-satunya membuatku perlu untuk berpikir lebih. Hidup dengan hanya mengandalkan tulang empat kerat ayah dan ibu membuat ku insaf. Sudah sepatutnya aku membalas kasih. Aku mesti pergi. Semoga tabangkik batang tarandam.

Ibu aku bukan Malin Kundang yang lareh di rantau orang. Jangan kutuk jadi batu.

 ***

Sebelum hari keberangkatanku, masih pagi ketika itu. Aku terbangun dengan perasaan yang tidak menentu. Aku tak paham dengan keputusan yang telah kubuat. Dengan lengan yang masih mengganjal kepalaku, aku mecoba untuk tidak menangis. Kupikir laki-laki tidak boleh menangis. Lebih-lebih bagi laki-laki yang selalu dirundung kesusahan sedari kecil. Sebenarnya pergi meninggalkan ibu dan ayah adalah hal yang tidak kusanggupi selama ini. Lain hal dengan pagi ini. Meski ngilu, aku harus pergi.

“Sudah kau persiapkan segala sesuatunya nak?” Wajah ibu menyembul di balik tirai bilik yang memang tak berpintu.

“Sudah Mak, hanya saja takadku yang belum pulang sepenuhnya ke badan diri.”

“Lekaslah mandi, ayahmu sudah menunggu. Ada yang hendak beliau sampaikan padamu.”

Sengilu-sesak apapun jiwa mengerang dalam diri, kupikir hati ibu dan ayah lebih ngilu rasanya. Terasa benar olehku ketidakrelaan yang menyuruk di balik restu yang mereka berikan. Demikanlah adatnya, orang tua mana yang tidak mendukung niat hati anaknya. Meski berngilu hati, sang anak mesti dilepas pergi. Biarlah kerinduan yang nantinya menghukum diri. Di rantau anak menjemput nasib, di kampung ibu menanak harap.

Entah apa yang membuatku begitu berat meninggalkan ibu. Benar kata orang, ibu dan anak tidak bisa dipisahkan. Ini berlebihan memang. Aku hanya pergi merantau, tapi seolah-olah pergi yang tak kunjung kembali. Bukan. Kepergianku bukan terbang unggas. Meski aku umpama Kenari milik ibu yang tak pernah diajarkan untuk jatuh.

“Sudah bulat tekadmu pergi ke Jawa,” ayah membuka rundingan.

“Entahlah, sulit buat awak mengatakannya. Semakin awak tidak pikirkan, semakin kepergian ini menjadi penting. Semakin awak pikirkan, semakin berat badan ini untuk berjalan.”

“Kau tidak usah terlalu hiraukan nasib kami. Jatah kami mungkin tidak akan lama lagi. Semuanya kini terpulang padamu.”

Aku terdiam, tak tahu dengan apalagi kusambut perkataan ayah. Segala rasa berkecamuk dalam diri. Sekerat hatiku ingin pergi mengadu nasib di rantau, kepalang mujur hidup bakal berubah. Sekeratnya lagi ingin terus berada di sisi mereka yang sangat kukasihi.

“Sesampainya kau di Jawa nanti, cepat berkirim kabar, biar terobat hati kami. Akan Amak jadikan parintang-rintang ketika rindu.” Ucapan ibu menambah gemuruh yang sedari tadi telah berkacamuk jua.

Baiklah, sudah kuputuskan. Aku akan pergi. Bersama raut wajah ibu yang melembab kutitipkan harapan semoga orang yang kukasihi selalu dilimpahi kesehatan badan juga pikiran. Setiap titik air matanya kujadikan doa pengantar segala kebaikan. Setiap gurat kehidupan di wajah ayah, kujadikan azimat penenang hati.

Apa kau tahu kalau kepergianku ke Pulau Jawa adalah kepergian yang tak berkeruncingan. Tidak ada dunsanak yang akan kutuju. Ibuku bilang, di Jawa entah di mana, ada orang kampung kami yang buka usaha menjahit. Kata ibu, aku bisa menemuinya, siapa tahu dia mau berwajah jernih menerima kedatanganku.

“Kalau Amak tidak salah mengira, di rantau orang kampung kita hidup bermajelis-majelis. Jika tak ada arah yang kau tuju, tidak ada salahnya kau menjadi bagian dari majelis itu.”

Bukanlah kebiasaanku menaruh beban hidup pada orang lain. Mungkin itu juga yang membuatku berat meninggalkan ibu. Padahal dulu ibu selalu berpesan, agar aku tidak menyusahkan orang lain. “Sebaik-baiknya hidup adalah hidup yang tidak dipertaruhkan pada pundak orang lain,” seingatku seperti itu pesan ibu. Tapi entah apa yang membuat ibu menarik kembali ucapannya ketika melepas kepergianku.

***

Hidup di rantau ternyata tak semudah yang kubayangkan, sama sulitnya dengan keputusanku meninggalkan ibu. Semua orang sibuk mencari nasibnya masing-masing. Ada yang cepat menjemput nasib, ada juga yang butuh waktu lama namun pasti. Agaknya aku berada pada golongan ketiga, orang yang nasibnya tak menentu, orang yang masih menghitung nasib orang lain. Benar kata ibu, mencari makan di rantau bukanlah perkara mudah. Aku tak menemukan makanan yang gratis. Aku juga tidak menemukan orang kampung yang suka bermajelis seperti yang dikatakan ibu.

Semakin kesini semakin sulit saja kehidupan yang kulakoni. Baru saja berbilang hari keberadaanku di rantau, rasanya telah berbilang tahun. Benar kata ibu, tak mudah hidup jauh dari orang tua.

Ibu, semoga pilihanku meninggalkan kampung tidak menjadi duri dalam daging hendaknya buatmu. Tidak menjadi racun yang mengaliri di setiap bulir darahmu. Tidak menjadi coreng di muka ayah. 

Ingin sekali kukabarkan padamu ibu. Saat ini aku telah memeroleh pekerjaan. Pekerjaanku terbilang lumayan, sebab soal tempat tinggal tak jadi hirauan. Untuk makan sekali siang tempat kerjaku yang menanggungnya. Tapi aku selalu saja dipusingkan perkara nasib. Perkara janjiku merubah nasibmu. Mana mungkin seorang wartawan di negeri ini boleh bermimpi hidup layak. Kecuali ada yang kugadaikan.

"Apa salahnya jika kau terima saja amplop-amplop yang disodorkan padamu. Toh itu buah jerihmu," celetuk seorang kawan seprofesi suatu waktu.

Ai, ibu mungkin tahu bukan aku orangnya yang tak suka menerima ganjaran karena ini dan itu. Mungkin kebiasaan hidup susah telah mengajariku untuk sombong. Tak pandai aku menjual diri seperti itu. Jika aku mau, sudah dari dulu kuterima tawaran Haji Yakub, dia mau memberikan beberapa bidang sawah miliknya, lengkap dengan kerbau pembajak sawah, juga seekor beruk yang sudah bisa disuruh memetik kelapa, asal aku mau menikahi anaknya yang sudah dicerai suami. Ibu masih ingat bukan?

***

Jika telah seperti ini, pikiranku selalu tertuju pada ibu. Galau menyerang segenap pemikiran yang berkelindan dalam benak. Sekerat hatiku ingin kembali pada pangkuan ibu. Menanak nasib bersama ibu dan ayah. Sekerat hatiku ingin tetap bertahan di rantau orang. Ada rasa malu yang bergelayut di pelupuk mataku jika melihat raut wajah orang kampung ketika mengetahui kepulanganku tanpa buah hasil.

Padamu jualah kutitipkan pucuk pengharapan terakhirku, ibu. Semoga di setiap doa yang terucap dari bibirmu, menjadi telaga perendam hatiku yang telah terlanjur mengeras. Juga pada ayahku, semoga setiap nafasnya menjadi penawar rinduku akan ibu. Kini aku telah berada di rantau. Berada jauh dari ibu. Semoga masih ada waktu. Jangan kutuk aku jadi batu.

Oleh : Depitriadi