Warga Lubas Hendaknya Mempertahankan Hubungan Pertemanan Selama Pemilu

- 8:46 am

Pemilihan presiden 2019 Indonesia sudah di depan mata. Dari pemilihan gubernur Jakarta tahun lalu, kita tahu bahwa hobi posting soal pandangan politik bisa menimbulkan konsekuensi sosial yang tidak diinginkan.
Ilustrasi vi Shutterstock

Teman saya berhenti berteman dengan tantenya di Facebook karena dia sangat jengkel dengan postingan dan komentar-komentar si tante yang menyerang pendirian politiknya. Hubungan mereka yang tadinya hangat dan akrab berubah menjadi canggung, cuma karena mereka berbeda pandangan politik.

Apa yang harus kita lakukan?

Media sosial membawa sebuah perubahan tak terbayangkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Media sosial memungkinkan kita menyiarkan minat-minat personal kita dalam bentuk-bentuk yang tak terbilang banyaknya, termasuk pandangan politik, pada orang banyak.

Sebelum masanya internet dan kehadiran media sosial, panggung yang ada untuk menyiarkan pendapat politik terbatas pada media mainstream atau propaganda pemerintah. Namun sekarang, semua orang, dari politikus hingga warga biasa, dengan akses ke media sosial memiliki panggung untuk membagi pandangan mereka.

Dengan pemilihan kepala daerah dan pemilihan presiden di depan mata, kita akan melihat semakin maraknya perdebatan politik di media sosial. Kita perlu menemukan strategi agar keterlibatan kita dalam media sosial tidak akan membahayakan hubungan yang kita punyai sekarang.

Walaupun menyadari sepenuhnya bahwa menyingkirkan semua akses ke media baru itu nyaris mustahil, saya yakin ada cara-cara yang bisa kita tempuh agar kita tidak begitu menjengkelkan bagi, atau jengkel dengan, teman-teman Facebook kita.

Strategi-strateginya terkait dengan penerapan pengendalian diri yang bisa muncul dalam bentuk-bentuk berbeda, antara lain:

Hindari perdebatan tidak berguna

Perdebatan di kolom komentar Facebook bisa berubah dengan cepat menjadi pertengkaran yang memutus ikatan sosial.

Para psikolog sosial sudah lama meyakini bahwa pendirian paling kuat adalah yang paling resisten terhadap persuasi. Itu artinya semakin kita menantang teman-teman Facebook yang mengesalkan kita, semakin kebal mereka jadinya.

Malah, kita mungkin akan lebih beruntung bila kita tak acuh saja. Strategi deradikalisasi pandangan ideologis/politik esktrem yang terbaik seharusnya datang dari perenungan pribadi, bukan dari tekanan dari orang lain.

Periksa tiga kali sebelum mengirim di media sosial

Berita palsu dan hoaks selalu berisi unsur-unsur emosional dan itu sebabnya bisa menyebar lebih cepat dari berita sungguhan. Berita palsu sering membangkitkan emosi kita; sehingga mengundang perilaku impulsif.

Sebelum memutuskan apa yang akan dikirim, ada baiknya menimbang konsekuensi terburuk apa yang mungkin ditimbulkan kiriman tersebut.

Tanyakan kepada diri sendiri sebelum mengirim: apakah kita akan memberikan sumbangan positif atau apakah kiriman ini akan berakhir dengan pertikaian tak jelas lagi. Jika jawaban untuk pertanyaan pertama adalah tidak dan untuk yang kedua adalah ya, sebaiknya hindari tombol “kirim”.

Sesekali lakukan diet media sosial

Kita tidak punya kendali atas kehidupan orang lain, jadi alangkah baiknya tidak merepotkan diri dengan apa yang harus dilakukan orang lain.
Ketika kejengkelan mulai menjadi tak tertahankan, melakukan diet media sosial akan jauh lebih membantu daripada memutus pertemanan dengan teman-teman Facebook kita.

Menghentikan pertemanan dengan teman-teman Facebook berpotensi memerangkap kita dalam gelembung politik dan menjadikan kita kurang toleran dengan pandangan-pandangan yang berseberangan.

Pandangan politik versus kepribadian

Saya tak habis mengerti dengan fakta bahwa kita seringkali tidak bisa membedakan pendirian politik seseorang dengan kualitas personal seseorang yang mereka tunjukkan di dunia nyata.

Teman yang membuat status politik menjengkelkan boleh jadi adalah pribadi yang hangat dan baik hati dalam kehidupan sesungguhnya saat kita bertemu langsung.

Media sosial menghalangi kita melihat orang lain sebagai totalitas, memaksa kita memandang orang yang sikap politiknya berseberangan dengan kita secara kurang manusiawi. Sekali lagi ini membuktikan media sosial sebagai tempat berbahaya bagi percakapan tentang politik, terutama ketika dialog terjadi antara dua orang yang merepresentasikan dua pihak yang berseberangan.

Walaupun ada sebuah studi yang mengonfirmasi bahwa media sosial berguna dalam mendorong proses musyawarah yang demokratis, jika orang ingin membicarakan politik elektoral, saya sangat menganjurkan untuk melakukannya dalam sebuah percakapan tatap muka yang sehat.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris diterjemahkan via theconversation.com