Ari Palace, Manisnya Bisnis Cokelat Rumahan ala Warga Padang Tongga

- 5:15 am
Tak bisa dimungkiri bahwa saat ini sangat banyak produk-produk pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang beredar di pasaran. Dari sekian banyak jenis barang, produk yang mampu bertahan dan unggul hanyalah yang memiliki keunikan. Agaknya hal itulah yang membuat pelaku UMKM asal Padang Tongga, Lubuk Basung ini bisa bertahan dan menggembangkan usahanya. Penasaran dengan sosok pelaku UMKM tersebut? Ini dia ulasannya.
Ilustrasi/Depitriadi


Adalah Evi (40) pemilik usaha cokelat rumahan (home made chocolate) bermerek Ari Palace. Kepada tim lubas.web.id Evi berbagi kisah ihwal bisnis yang dia geluti beberapa tahun terakhir.

Aroma cokelat membaur harum tatkala tim lubas.web.id memasuki rumah yang berada di Jalan Tanjung Alai Padang Tongga, Manggopoh, Kamis (24/5).

Si empunya usaha, Evi, sedang asik membungkus kemasan cokelat batangan yang nantinya akan dikirim ke rekanan konsinyasi di Kota Padang.

"Buat stok persiapan hari lebaran," kata Evi.

Cokelat olahan tangan ibu tiga orang anak ini, bisa dikatakan hampir mirip dengan produk coklat pelaku UMKM lainnya. Namun, yang membedakan adalah soal rasa dan pengemasannya. Selain cokelat rasa original, cokelat yang menjadi andalan Ari Palace adalah Cokelat Rendang, Cokelat Kofei dan Cokelat Sipadeh.

Jika produk cokelat lain menampilkan gambar cokelat dan atau merek dagang, produk Ari Palace ini justru menampilkan tulisan dan gambar unik di cokelat olahannya. Seperti tulisan "Raso Ka Iyo, Masih Gadih, Bujang Gagah," dan ragam gambar emoticon, boneka, dan bunga-bungaan.


Kreasi Cokelat Ari Palace/Depitriadi

"Justru tulisan di cokelat saya ini yang bikin laku," sambungnya sambil tersenyum.

Evi mengambil unsur kedaerahan sebagai pembeda coklatnya dari produk lain. Evi memberi istilah 'cokelat oleh-oleh khas Minang'.

Pada bungkus cokelatnya juga terdapat hasil budaya atau bangunan monumental khas Minang berikut keterangan singkat di bagian belakang.

"Saya ingin orang yang membeli cokelat oleh-oleh saya juga tahu sekilas tentang kebudayaan di Minangkabau," ungkapnya.

Menurutnya lagi, memilih suatu produk usaha harus pintar membuat perbedaan. Perbedaan itu bisa dalam bentuk, kemasan, atau cara penjualan.

"Biasanya, mencari pembeda itu yang sulit. Kebanyakan orang mudah menyerah. Tapi kalau berhasil menemukan pembeda itu, niscaya akan berhasil," jelasnya.

Setelah berhasil membuat satu produk, jangan berpuas diri. Para pesaing siap menyalip produk pelaku usaha jika tidak membuat terobosan. Agaknya Evi memahami hal itu.

Evi mengolah cokelat batangan yang dibelinya di grosiran, kemudian diolah dengan peralatan seadanya. Evi saat ini baru memanfaatkan dua buah magic jar dan satu lemari es ukuran kecil.

"Usaha masih kecil-kecilan, maklum dana terbatas," sebutnya.

Dalam menjalankan bisnisnya, Evi merasa sangat kewalahan ihwal modal. Ketika permintaan tengah melejit, dia tak mampu memenuhi permintaan tersebut. Evi telah berusaha meminta pembinaan serta mengajukan pinjaman, tapi sayang masih jauh panggang dari api.

"Seperti saat lebaran ini permintaan cokelat banyak, namun dari 100 persen permintaan hanya 30 persen yang bisa dipenuhi," ujar Evi.

Menghadapi persoalan tersebut, Evi berharap ada jalan keluarnya. Lebih-lebih dalam memproduksi Evi hanya mengandalkan badan seorang. Kepalang mujur anak-anak mau membantu.

"Kalau ada karyawan kita bisa lebih lincah lagi," ungkapnya.

Meski domisili usaha Ari Palace di Lubuk Basung, Evi justru mendrop produknya ke luar Lubuk Basung. Sebab, di Lubuk Basung tak banyak pembeli yang minat cokelat.

"Paling dibawa ke swalayan di Padang, ke Bandara Minangkabau. Di sini banyak yang takut makan cokelat, barangkali karena harganya mahal," beber Evi.

Sebelum merintis usaha cokelat di Lubuk Basung, Evi terlebih dahulu mengembangkan Ari Palace Cokelat di Kota Padang. Sehingga segala perizinan tercatat secara administratif di Pemerintahan Kota Padang.

"Nantinya saya berencana mengalihkannya ke Kabupaten Agam. Biar mudah segala urusan dalam pengembangan usaha," ujarnya.

Satu kotak cokelat batangan Ari Palace dipatok harga Rp 15 ribu untuk semua varian rasa. Sementara cokelat tulis dan gambar dihargai Rp 5 ribu per satuan. Masalah omzet Evi belum mau berterus terang.

"Pokoknya baru cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan keberlangsungan usaha. Belum mencukupi untuk pengembangan," pungkasnya.

Industri Rumahan Loyo, Irma : Pelaku UMKM Butuh Dukungan Stakeholder

Pelaku UMKM di Indonesia setiap tahunnya terus bertambah. Terakhir tercatat mencapai 60 juta pelaku. Namun, perkembangannya belum maksimal karena sejumlah kendala. Lebih-lebih pelaku UMKM di daerah.

Tokoh pemberdayaan perempuan dan penggiat UMKM, Irma menjelaskan duduk perkara pelaku UMKM di daerah sulit berkembang. Selain tidak memiliki pasar yang lebih luas, usia usaha yang terbilang baru membuat dana yang tersedia tidak terlalu besar dan penguasaan teknologi pun masih terbatas.

"Dari total 60 juta pelaku UMKM yang ada di Indonesia, barangkali baru sekitar 5% yang memanfaatkan teknologi seperti menawarkan produk melalui elektronik," terangnya.

Langkah Kementerian Keuangan beberapa waktu lalu, lanjut Irma, yang menetapkan pajak penghasilan untuk UMKM sebesar 0,5% sudah tepat. Dikatakannya, pajak yang kecil akan membesarkan pelaku UMKM kecil.

"Langkah ini sangat tepat dan perlu diapresiasi sebagai penetapan threshold yang wajar dan merupakan langkah yang akan menginsentif pelaku UMKM di daerah untuk tidak ragu mendirikan bisnis pada entitas UMKM," beber Irma.

Namum sayangnya, kata Irma lagi, hal yang sedemikian belum terperhatikan oleh stakeholder di daerah. Padahal jika pelaku UMKM ini di-support, bukan tidak mungkin menambah income daerah.

"Untuk itu saya katakan, pelaku UMKM di pelosok nagari perlu diberdayakan, digenjot, diberi dukungan secara materil. Dan upaya ini yang telah dan akan saya giatkan terus," ungkapnya.

Terkait produk cokelat rumahan Ari Palace, Irma menilai perlu upaya jemput bola oleh stakeholder di lingkup pemerintahan Agam, baik di level kabupaten maupun nagari.

"Di situlah seharusnya kehadiran pemerintah. Dinas terkait mesti menilisik keberadaan pelaku-pelaku UMKM. Dan merumuskan sebuah konsep pemberdayaan," tukuknya lagi.

Bukan tidak mungkin, ujar Irma lagi, nanti di Lubuk Basung berdiri semacam rumah cokelat. Selain menciptakan lapangan kerja, hal ini juga bisa menjadi icon branding bagi Lubuk Basung yang dapat menggenjot gairah ekonomi dan pariwisata di Agam.

"Output-nya adalah penanggulangan pengangguran di Lubuk Basung," pungkasnya.