Dear Anak Muda Lubuk Basung, Mari Renungkan Kembali 10 Falsafah Minangkabau Ini

- 5:14 pm
Kepada karib kerabatku di Lubuk Basung, mari renungkan kembali falsafah hidup orang Minangkabau berikut ini. Sebab Minangkabau sangat kaya akan falsafah hidup yang mengajarkan kita bagaimana menjalani hidup dengan arif lagi bijaksana. Banyak nilai-nilai hidup dalam ajaran adat Minangkabau yang bisa mengajarkan kita tentang moral, akhlak yang kini banyak tidak dipedulikan terutama generasi muda.
Foto via Tribunnews

Berikut 10 falsafah kehidupan yang tertuang dalam Pituah atau Pepatah Minang yang berhasil dihimpun tim lubas.web.id:

Hiduik Baraka, Baukua Jo Bajangko

Alun rabah lah ka ujuang (Belum rebah sudah keujung)
Alun pai lah babaliak (Belum pergi sudah kembali)
Alun dibali lah bajua (Belum dibeli sudah dijual)
Alun dimakan lah taraso (Belum dimakan sudah terasa)

Pepatah Minang di atas menjelaskan bagaimana hidup kita harus berakal, terukur dan berjangka. Singkatnya hidup harus mempunyai visi, berpikir jauh ke masa depan. Seperti, alun dimakan alah taraso, belum dimakan sudah terasa, makanannya belum dimakan tapi sudah terbayang bagaiman rasanya.

Begitulah hidup seharusnya mempunyai visi dan tau kemana arah dan tujuan. Semua terencana dan direncanakan dengan baik.

Baso Basi

Banyak bahaya yang ditimbulkan oleh lidah, seperti kasus yang terbaru yaitu penistaan agama oleh Gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama. Hal tersebut tidak perlu terjadi jika saja beliau bisa menahan lidahnya.

Sebuah Pepatah Minang berbunyi:

Nana kuriak iyolah kundi (Yang burik ialah kundi)
Nan merah iyolah sago (Yang merah ialah sega)
Nan baiak iyolah budi (Yang baik ialah budi)
Nan indah iyolah baso (Yang indah ialah basa basi)

Menjaga lidah dan bahasa (perkataan) sangat penting. Banyak perselisihan terjadi hanya karena lidah tidak bisa menjaga perkataan dengan baik.

Lamak Dek Awak, Katuju Dek Urang

Lamak dek awak, katuju dek urang merupakan salah satu ungkapan dalam petuah Minangkabau yang mengajarkan kita tentang tenggang rasa. Lamak dek awak berarti bagi kita enak, dan katuju dek urang berarti bisa diterima oleh orang lain. Singkatnya sama-sama enak, baik bagi kita maupun bagi orang lain.

Setia Kawan

Salah satu nilai yang perlu ditanamkan dalam diri orang Minang terutama bagi mereka yang berada di perantauan adalah kesetiakawanan atau sikap loyal. Hal ini tergambar dalam falsafah:

Tatungkuik samo makan tanah, tatilantang samo minum aia.

Adil

Maukua samo panjang, mambilai samo laweh

Dalam hidup, falsafah Minang juga mengajarkan untuk berbuat adil. Seperti tergambar dalam pepatah di atas. Keadilan tersebut berlaku bagi siapapun, tak pandang bulu. Apakah ia keluarga atau saudara sendiri.

Semua orang memiliki fungsi masing-masing

Ajaran Minangkabau juga mengajarkan kepada kita bahwa segala sesuatu di dunia ini ada manfaatnya. Dalam sebuah pepatah tua digambarkan sebagai berikut:

Nan buto pahambuih saluang 
Nan pakak palapeh badia Yang 
Nan patah pangajuik ayam Yang 
Nan lumpuah paunyi rumah Yang 
Nan binguang kadisuruah-suruah

Mawas diri

Dalam hidup kita juga dituntut untuk selalu hati-hati dan waspada. Apakah itu terhadap bahaya dari alam ataupun ancaman dari lawan. Selain itu kita juga perlu waspada terhadap akibat dari tindakan-tindakan kita. Jadi sebelum sebuah keputusan diambil perlu dipertimbangkan akibatnya.

Dalam pepatah minang dipesankan sebagai berikut:

Maminteh sabalun anyuik 
Malantai sabalun lapuak 
Ingek-ingek sabalun kanai

Kerjasama

Banyak orang yang tidak bisa maju karena takut bersaing dan merasa tersaingi atau istilah minangnya ‘takuik taimpik’. Padahal di zaman sekarang yang diperlukan adalah kerjasama, apalagi dalam membangun nagari. Tidak semua hal bisa kita lakukan sendiri, itulah sebabnya kita membutuhkan teman dan orang lain untuk bekerjasama.

Kerjasama ini tergambar dalam pepatah minang:

“Ka mudiak sa antak galah, ka hilia sarangkuah dayuang. Sasuai lahie jo bathin, sasuai muluik jo hati”

Bijaksana dan Arif

Sikap arif dan bijaksana, mempunyai pandangan yang luas serta bisa hati-hati dalam setiap tindakan sangat diperlukan. Orang yang arif pandai mengukur kapasitas dirinya sehingga ia tidak sembarangan dalam mengeluarkan pendapat atau pernyataan.

Dalam pepatah minang digambarkan:

Ingek di rantiang ka mancucuak, Tahu didahan ka maimpok

Pantang Menyerah

Dalam falsafah Minang juga diajarkan bahwa kita harus rajin bahkan cenderung proaktif. Dalam setiap waktu yang digunakan sebisa mungkin tidak ada yang terbuang, seperti dalam pepatah:

“Duduak Marauik Ranjau Tagak Maninjau Jarak”