Generasi Lubas, Kesenangan Ini Perlu Direlakan Demi Menuju Kesuksesan

- 9:55 am
Kesuksesan bukan hanya sekadar mencapai hal-hal yang kita impikan selama ini. Di balik keberhasilan yang kita dapatkan, ada beberapa hal yang dengan suka rela harus kita korbankan. Pencapaian yang besar juga membutuhkan kerelaan yang tidak kalah besarnya, bukan?
Foto via Hipwee

Kali ini lubas.web.id akan memaparkan hal-hal yang kita sadari atau tidak, sering harus dikorbankan dalam jalan menuju kesuksesan. Apa saja yang akan kita lepaskan dari genggaman ketika sedang berjuang mencapai sukses?

1. Kita Perlu Ikhlas Jika Dalam Perjalanan Kehilangan Teman yang Tidak Lagi Sejalan

Awalnya kita berpikir bahwa teman yang ada di sisi kita saat ini akan selalu mendampingi kita hingga nanti. Rasanya, tidak akan ada yang bisa memisahkan hubungan perteman tersebut. Tapi seiring perjalanan kita akan sadar bahwa pertemanan tidak selamanya bisa berjalan mulus. Akan ada masa dimana kita fokus mengejar impian masing-masing, kehilangan frekuensi komunikasi, hingga akhirnya tanpa sadar menjauh satu sama lain.

Kita akan sadar bahwa pertemanan butuh usaha dari kedua belah pihak. Dan dalam beberapa kasus, kita memang hanya ditakdirkan bertemu di persimpangan sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

2. Orang-orang Bisa Mencibirmu. Relakan Harga Dirimu Saat Mereka Menganggapmu Tidak Akan Berhasil

Di awal jalan menuju kesuksesan, kita tidak punya apapun selain keyakinan bahwa hal yang kita lakukan akan berhasil suatu hari nanti. Tidak jarang, kita akan dihadapkan pada mereka yang merasa bahwa keyakinan kita itu salah.

Seperti Jack Ma dan Tadashi Yanai, dua orang super sukses di bisnis mereka masing-masing yang juga sempat diremehkan diawal membuka usaha. Kitapun harus punya kegigihan untuk terus bertahan. Sampai nanti kita sukses, orang-orang itu akan terus mencibir keputusan kita. Akan ada masa kita harus memasang muka tebal dan merelakan harga diri sebelum bisa membuktikan keberhasilan.

3. Waktu Kita Akan Tersita Untuk Kerja. Kita Perlu Ikhlas Mengkhidmati Hidup yang Sepi Tanpa Cinta di Dalamnya

Waktu bagi kehidupan pribadi akan berkurang dengan sangat drastis, saat kita benar-benar fokus mendedikasikan seluruh waktu untuk usaha yang baru kita rintis. Bisa jadi kita akan kehilangan kekasih yang sudah menjalin hubungan dengan kita sekian lama karena dia keberatan atas kesibukan kita, bisa juga kita memang secara sadar memilih untuk tidak berinvestasi hati dulu karena benar-benar tidak punya waktu.

Walau orang bilang keseimbangan antara kehidupan pribadi dan karir itu nomor satu, tapi kita harus mengakui bahwa menjalin hubungan romantis dan membangun karir di saat bersamaan itu sangat sulit untuk dilakukan.

4. Dalam Beberapa Masa Kita Akan Bekerja Seperti Orang Gila. Jam Tidur dan Waktu Istirahat Harus Rela Kita Buang Sementara Ke Luar Jendela

Selain kemana-kemana sendirian karena tidak ada pacar, kita juga harus akrab pada kantung mata dan lingkaran hitam. Yup, jam tidur normal juga harus kita relakan saat sedang meretas jalan menuju kesuksesan. Kalau biasanya bisa tidur 7 jam sehari, sekarang tidur 3-4 jam saja sudah cukup. Dibanding digunakan untuk tidur, waktu itu bisa kita manfaatkan untuk mengembangkan usaha.

Kita juga akan menemukan diri kita lebih sering bangun pagi demi bisa mempersiapkan hari lebih baik. Secara tidak sadar kita akan menjadi penganut keyakinan bahwa tidur hanya untuk mereka yang lemah. Dan demi mencapai kesuksesan, lemah tidak bisa jadi pilihan.

5. Investasi dan Pengembangan Usaha Jadi Fokus Utama. Gaya Hidup Kita Perlu Mengalah Sementara

Investasi dan membuka bisnis sendiri jadi jalan paling ciamik kalau kita benar-benar ingin jadi orang sukses. Nah, demi mencapainya tentu kita harus mengatur pengeluaran sedemikian rupa.

Kita akan mengikhlaskan anggaran untuk beli kopi mahal atau nongkrong di kafe demi bisa menggunakannya untuk investasi. Tidak ada lagi nonton bioskop di akhir pekan, kita akan lebih memilih membeli tiket di hari kerja yang lebih murah. Usaha kita masih membutuhkan suntikan dana, mau tidak mau kita harus menahan keinginan untuk hedon demi bisa terus mengembangkan usaha.

6. Kekurangan Uang Jadi Hal Biasa. Untuk Beberapa Saat Pertama Keuntungan Finansial Tak Akan Langsung Datang Begitu Saja

Walau kita super pintar atau sangat bertalenta, tidak ada orang yang langsung mendapat penghargaan besar di awal karirnya. Semua orang perlu merintis segalanya dari nol. Kita harus merelakan rasa gemas karena merasa tidak layak dihargai sekecil ini demi membuktikan bahwa kita layak dihargai lebih tinggi.

Begitu pula yang terjadi ketika kita memulai usaha sendiri. Kita harus rela mendapat keuntungan paling kecil, bahkan lebih kecil dari gaji karyawan demi membuat roda perusahaan bisa terus berjalan. Di langkah pertama menuju kesuksesan keuntungan finansial harus kita relakan sepenuhnya.

7. Waktu Bersantai Dan Bersenang-Senang Bersama Teman Akan Jadi Kemewahan. Seluruh Waktu Kita Akan Habis Untuk Pekerjaan

Selain keuntungan finansial, hubungan romantis dan jam tidur, waktu bersosialisasi dan bersantai juga perlu kita ikhlaskan. Tidak ada waktu yang bisa kita “sia-siakan” untuk berleha-leha atau jalan-jalan bareng teman. Seluruh waktu kita sudah dihabiskan demi pekerjaan. Jangankan meluangkan waktu untuk karaokean bareng teman, tidur saja kita harus pintar-pintar mencuri waktu.

Akhir pekan bukan lagi jalan keluar bagi kepenatan kerja. Waktu ini justru kita manfaatkan untuk fokus membangun usaha yang baru kita rintis. Jika dulu sepulang kantor kita masih bisa nongkrong bareng teman sekarang kita akan memilih segera pulang dan mendedikasikan waktu untuk menghubungi klien-klien bisnis yang baru kita mulai.

8. Perlahan Kita Belajar Mengikhlaskan Gengsi. Penampilan Luar Tak Penting Lagi — Selama Kita Bisa Mewujudkan Mimpi

Saat teman-teman seangkatan sudah bisa tampil mentereng dengan mobil baru, kita masih bertahan dengan kendaraan butut semasa kuliah. Gaji kita sebagai karyawan habis untuk membiayai usaha yang sedang kita bangun. Jangankan untuk membayar DP dan cicilan mobil, dana belanja pakaian dan ganti gadget saja sudah terpangkas dengan signifikan.

Kita akan belajar bahwa setiap orang punya jalan sukses dan rejeki masing-masing. Kita hanya bisa turut berbahagia atas keberhasilan mereka sembari terus bekerja keras demi meraih kesuksesan kita sendiri. Jika dulu gengsi dan penampilan luar adalah segalanya bagi kita, kini kita tahu bahwa harga diri yang hakiki sesungguhnya datang dari kerja keras.

9. Hati Kita Perlu Lebih Besar, Saat Orang-orang Terdekat Kita Membandingkan Pencapaian

Tidak jarang orang tua kita akan berkata, “Anaknya teman Mama saja udah bisa beli rumah, masak kamu belum bisa?“. Atau, “Duuuh Bu X aja udah punya cucu loh. Kamu kapan mau ngasih?” Dipikir cucu itu voucher belanja apa, bisa asal dibagiin? Yup, dibandingkan dengan orang lain akan sering kita rasakan dan tak jarang hal ini bisa bikin gondok setengah mati.

Tidak semua orang bisa memahami prioritas yang sedang kita jalani, bahkan orang tua kita sekalipun. Kita hanya bisa diam dan terus berusaha untuk melanjutkan jalan sukses yang sedang berusaha kita hilangkan ilalangnya yang mengganggu langkah. Satu-satunya hal yang membuat kita terus berjuang adalah keyakinan bahwa apa yang sedang kita perjuangkan saat ini pasti bisa membawa hasil manis di kemudian hari.

10. Perjuangan Menuju Sukses Selalu Sepaket Dengan Keikhlasan Menerima Kegagalan Diri. Di Titik Ini Kita Akan Diajari Untuk Banyak Introspeksi

Keberhasilan akan selalu sepaket dengan kegagalan. Ketika kita menghadapi kegagalan yang mengecewakan, kita akan belajar bahwa menyalahkan diri sendiri akan lebih bermanfaat dibanding repot mencari kesalahan orang lain. Kita akan merelakan ego kita, menerima kenyataan bahwa kegagalan tidak bisa dilepaskan dari kesalahan kita sendiri.

Walau kesalahan datang dari rekan kerja kita, meski kita merasa bahwa andil kita lebih besar membawa kesuksesan dibanding kegagalan, tapi kita hanya punya kekuatan untuk memperbaiki diri kita sendiri terlebih dahulu. Kegagalan akan kita jadikan bahan introspeksi untuk meningkatkan performa kedepan.

Walau banyak yang harus kita relakan dalam menuju kesuksesan, tapi yakinlah bahwa semuanya akan menemui akhir yang manis. Jika kita memang sungguh-sunguh, semua hal yang sedang kita perjuangkan saat ini akan terwujud. Di akhir hari kita akan sadar bahwa kerja keras memang tidak pernah membuat kita jadi pecundang.