Lengking Manggopoh, Penghormatan Bagi Pejuang Perang Belasting

- 7:45 pm
Minangkabau merupakan etnis yang memiliki adat yang kuat serta kebudayaan yang mantap. Salah satu hasil kebudayaan Minang yang paling tersohor adalah ihwal tari-tarian tradisional. Selain gerakan tari yang fantastis, musik juga menjadi daya tarik utama yang membuat penampilan tari-tarian Minangkabau semakin rancak. Sehingga wajar saja, banyak tarian Minang yang menjadi wajah dan ikon dalam promosi pariwisata. Satu di antaranya adalah tarian berikut ini.
Foto milik Parade Tari Nusantara

Sebelum kita ke pokok persoalan, ada baiknya kita masakan dulu duduk perkarasa ihwal tarian tradisional Minang. Singkatnya, secara umum, tarian tradisional Minang terbagi menjadi tiga yaitu; Pencak, Perintang dan Tarian Kaba. 

Tarian pencak adalah tarian yang memiliki gerak dasar berupa gerakan pencak dan silat. Tarian perintang adalah tarian yang sifatnya sebagai hiburan, gerakannya dibuat meriah dan bersemangat, bisanya dimainkan oleh muda-mudi. Sedangkan tarian kaba adalah tarian yang menampilkan kaba atau cerita dalam tarian, salah satu contohnya adalah tarian Lengking Monggopoh.

Lengking Manggopoh

Lengking Manggopoh merupakan karya tari yang terinspirasi dari cerita dan kisah Minangkabau. Tepatnya tentang perempuan cantik bernama Siti Maggopoh yang melakukan perlawanan terhadap kebijakan ekonomi Kolonial Belanda melalui pajak atau belasting.

Siti Manggopoh meninggal di usia 85 tahun, atau tepatnya 20 Agustus 1965 di kampung Gasan Gadang. Gelar pahlawan patut disematkan buat perempuan tanggung asal Manggopoh ini, sebagai penghormatan terhadap kiprah Siti yang juga dikenal sebagai pesilat ulung sejak remaja. Oleh sebab itu, menjadi wajar jika Siti juga dijuluki Singa Betina dari Manggopoh.

Pada Parade Tari Nusantara 2016 di Taman Mini Indonesia Indah, karya tari ini dipertontonkan sebagai perwakilan Sumatra Barat.

Tari Lengking Manggopoh sungguh sangat indah bila ditonton. Betapa tidak, tari yang menginterpretasikan tentang keberanian dan ketangguhan Siti Manggopoh dalam melawan Belanda bisa membuat bulu kuduk bergidik. Perpaduan antara kepiawaian menari, bersilat, bermain alat musik bercampur menjadi satu. Indah betul.

Dalam penggarapannya, tarian ini berpijak dari seni budaya tradisi daerah Minangkabau khususnya dari Kabupaten Agam, diantaranya Silat Harimau, Gandang Tambua, Kesenian Indang, Salung, Rabab, Dendang, yang digarap menjadi satu karya tari.

Lengking Manggopoh, Parade Tari Nusantara 2016 : Sumatera Barat

Penanggung Jawab : H. Hadi Suryadi, SH., Yelidar, S.Sos., Elly Safri, S.Sos.

Penata Tari : Rasmida

Penata Musik : Rafiloza

Penata Rias & Busana : Syafrini, Intania AJ, Sri Murni, Putri NA

Penari : Syafrini, Abdul Muchlis, Intania AJ, Sri Murni, Febian Lavica, Putri NA, Ariefin Ilham JP

Pemusik : Aljunaidi, Indrawan Nendi, Budi Hadi Wijaya, Farid Al Razaq, Resva Wardani, Nasriwanto

Sekilas Tentang Siti Manggopoh

Siti Manggopoh, lahir di manggopoh, Kabupaten Agam pada bulan Mei 1880 adalah seorang pejuang perempuan dari Manggopoh, Lubuk Basung, Agam.


Ia pernah mengobarkan perlawanan terhadap kolonialis Belanda dalam perang yang dikenal sebagai Perang Belasting.

Pada tahun 1908, Siti melakukan perlawanan terhadap kebijakan ekonomi Belanda tentang pajak uang (belasting). Peraturan belasting dianggap bertentangan dengan adat Minangkabau, karena tanah adalah kepunyaan komunal atau kaum di Minangkabau.

Pada 16 Juni 1908, terjadilah perang dan pihak Belanda kewalahan menghadapi tokoh perempuan Minangkabau ini sehingga meminta bantuan tentara Belanda yang berada di luar nagari Manggopoh. Perang ini kemudian dinamai Perang Belasting.

Dengan siasat yang diatur sedemikian rupa oleh Siti, dia dan pasukannya berhasil menewaskan 53 orang prajurit Belanda. Sebagai perempuan, Siti Manggopoh cukup mandiri dan tidak tergantung kepada orang lain. Ia memanfaatkan naluri keperempuanannya secara cerdas untuk mencari informasi tentang kekuatan Belanda tanpa hanyut dibuai rayuan mereka.

Ia pernah mengalami konflik batin ketika akan mengadakan penyerbuan ke benteng Belanda. Konflik batin tersebut adalah antara rasa keibuan yang dalam terhadap anaknya yang erat menyusu di satu pihak dan panggilan jiwa untuk melepaskan rakyat dari kezaliman Belanda di pihak lain. Namun ia segera keluar dari sana dengan memenangkan panggilan jiwanya untuk membantu rakyat.

Siti Manggopoh meninggal di Gasan Gadang, Padang Pariaman, Sumatera Barat, 1965 pada umur 85 tahun.