Merli Agustin, Pertunjukan Randai di Lubuk Basung Butuh Sentuhan Lain

- 3:53 pm
Melihat kondisi bangsa kita saat ini, mungkin akan membuat kita sedikit bergidik. Betapa tidak, banyak sekali nyinyiran, cacian dan hujatan yang berseliweran dalam kehidupan sehari-hari tanpa ada batasan. Nah yang bikin sedihnya lagi, nyatanya banyak penyebar kata-kata kasar dan saling menghujat itu muncul dari mereka yang usianya terbilang masih muda. Beruntung tidak semua anak muda berprilaku seperti itu. Ternyata banyak juga anak muda yang mau bersuluh lilin, bahkan menyala terang menjadi inspirasi dalam kehidupan. Seperti yang digiatkan seorang remaja perempuan asal Lubuk Basung berikut ini. Siapakah dia?
Merli Agustin/ dok. Pribadi

Adalah Merli Agustin, perempuan 18 tahun kelahiran Kurao Manggopoh, Lubuk Basung. Merli begitu dia akrab disapa adalah buah kasih pasangan Razali dan Rabaini. Meski terlahir dari keluarga yang tidak memiliki darah seni, Merli tumbuh sebagai remaja periang dan penuh rasa ingin tahu, lebih-lebih yang bertalian dengan seni tradisi.

Sejak belia, Merli telah menambatkan hatinya pada aktifitas seni tradisi. Memang benar kata orang bijak, cinta yang hakiki itu adalah cinta yang tidak membutuhkan alasan. Barangkali itu pesan yang ingin disiratkan Merli melalui kegiatannya berkesenian.

“Gak tahu juga kenapa bisa suka [kesenian tradisi,red]. Asik aja gitu,” jawab Merli ketika ditanyai alasannya menyukai kesenian tradisi.
Penampilan randai di Bukik Bunian/Henri

Meski saat ini Merli terbilang sudah sangat piawai mengolah gerak tubuh melalui tari-tarian tradisi, membuat dirinya tidak malas untuk terus menempa diri. Dia malah ingin terus mengeksplor potensi-potensi yang ada di dalam dirinya, salah satunya mendalami kesenian randai.

Tuah Sakato Kurao adalah kelompok kesenian yang menjadi labor berkesenian bagi Merli dan kawan-kawan, seperti kesenian tari dan randai. Tak tanggung-tanggung, kelompok randai Tuah Sakato Kurao ini pernah menyabet juara pertama penampilan randai terbaik se-Kabupaten Agam pada tahun 2017 silam.

Bagi Merli, randai adalah suatu kesenian tradisi yang sangat komplit. Dikatakannya, melalui randai semua jenis kesenian bercampur menjadi satu kesatuan yang apik.
Penampilan randai di Bukik Bunian/Henri

“Di dalam randai kan ada gerak tari, gerak silat, bernyanyi dan bertutur. Kemudian juga ada drama atau teaternya. Mujurnya Li menyukai itu semua,” ujar anak ke empat dari tujuh bersaudara tersebut.

Sebagai sebuah kemasan seni pertunjukan, Merli menilai pertunjukan randai masih butuh suatu sentuhan agar kemasannya menjadi lebih menarik. Dikatakannya, hal-hal lain yang menunjang kelancaran pertunjukan randai musti diperhatikan, meskipun itu hal kecil.

“Penampilan randai tidak sekadar mempertontonkan gerak, dendang dan permainan musik saja. Ada hal lain yang perlu diperhatikan, seperti penerapan prinsip-prinsip teater di dalam randai. Sehingga pesan yang disampaikan dapat ditangkap oleh penonton melalui ekspresi para pemainnya,” terang remaja yang hobi berteater itu.

Kemudian, lanjut Merli, sebelum randai itu dimainkan, tim randai di luar para pemain utama [manajemen] perlu benar-benar mempersiapkan segala sesuatu yang dirasakan perlu. Apakah itu dari segi alat dan perlengkapan atau sebagainya.

“Kalau bisa nantinya para pemain randai tidak lagi memegang microphone, tapi diganti menjadi clip on, sehingga ekspresi dan gerak para pemain bisa lebih leluasa lagi,” tukuknya.

Kalau kecintaan itu telah melekat, apapun mau dilakukan. Demikian barangkali yang dirasakan Merli. Kecintaannya kepada Budaya Minang membuat dirinya ingin terus menekuni kesenian tradisi. Walaupun demikian, Merli tidak melupakan posisinya sebagai pelajar. Dikatakannya, manajemen waktu adalah kunci bagi orang-orang yang kreatif.

“Kegiatan berkesenian Merli di luar jam sekolah. Lebih sering latihan pada malam Minggu,” ujar remaja yang saat ini tercatat sebagai salah seorang siswa di SMKN 1 Lubuk Basung itu.
Merli Agustin/dok. Pribadi

Merli juga tidak menampikan dirinya sebagai generasi milenial yang identik dengan aktifitas bermedia sosial. Namun, dikatakannya, tidak ada salahnya generasi muda sekarang lebih mengenal kebudayaannya sendiri. Jika kita pandai memadumadankan antara teknologi terkini dengan nilai-nilai kebudayaan, lanjut Merli, maka itu menjadi sebuah nilai plus untuk generasi muda.

“Kemudian dengan kita berkelompok, kita akan menjadi satu kesatuan yang kompak. Maka peluang kita berselisih akan diminimalisir,” pungkas remaja berzodiak Leo tersebut. 

[Sandi Irawan]